Tuesday, 3 Rabiul Awwal 1442 / 20 October 2020

Tuesday, 3 Rabiul Awwal 1442 / 20 October 2020

Bappenas Uji Coba Smart Farming di NTT

Kamis 24 Sep 2020 17:25 WIB

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Fuji Pratiwi

Webinar Low Carbon Development Indonesia (LCDI)

Webinar Low Carbon Development Indonesia (LCDI)

Foto: .
Smart farming berdampak pada 200 persen peningkatkan produktivitas padi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Kementerian PPN/Badan Perencana Pembangunan Nasional (Bappenas) menilai isu perubahan iklim dan lingkungan menjadi agenda penting dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) 2020-2024. Salah satu upaya yang Bappenas lakukan adalah menguji coba smart farming sebagai upaya membangun pertanian berkelanjutan.

Perencana Direktorat Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas, Irfan Darliazi menjelaskan, Bappenas membuat proyek percontohan penerapan System of Rice Intensification (SRI) di Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Di sana diterapkan teknologi telemetri (pengukuran jarak jauh dan pelaporan informasi) untuk memudahkan petani mengetahui waktu yang tepat untuk melakukan penanaman, pengairan, dan pemupukan berdasarkan rekomendasi ini. 

Penggunaan teknologi ini berdampak pada 200 persen peningkatkan produktivitas padi, sehingga produktivitas padi meningkat dari 1,8 ton per hektare menjadi 4,8 ton per hektare. "Peningkatan produktivitas padi juga mendorong peningkatan pendapatan sebesar Rp 1 juta per keluarga per bulan," kata Irfan dalam Webinar Low Carbon Development Indonesia (LCDI) 'Inovasi Teknologi Berbasis Rendah Karbon di Bidang Pertanian', Kamis (24/9).

Baca Juga

"Ini menjadi contoh bagi kementerian lain sehingga ini bisa menjadi success story yang bisa direplikasi di wilayah lain. Proyek direplikasi ke seluruh Kabupaten Sumba Timur dan telah menjadi percontohan nasional penerapan smart farming," tutur Irfan.

Manfaat lingkungannya diyakini berpotensi menurunkan emisi gas rumah kaca. Sebab, petani di sana menggunakan sehingga turut meningkatkan ketahanan pangan dan air.

Sementara itu di Sulawesi Selatan telah diterapkan Pertanian Berkelanjutan yang menekankan pada pemanfaatan pupuk organik, bagaimana membuat pupuk organik mandiri, dan penanaman mangrove di akuakultur.

Irfan melanjutkan, penerapan seperti ini menjadi hal penting tidak hanya dari sisi hulu dengan perencanaan komprehensif dengan kebijakan berbasis fakta, tapi juga contoh-contoh konkret yang ada di level tapak. Dengan begitu, bisa terjalin dengan baik dari perencanaan dan implementasi.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA