Thursday, 11 Rabiul Akhir 1442 / 26 November 2020

Thursday, 11 Rabiul Akhir 1442 / 26 November 2020

Diary Penyintas Covid-19 (4): Sembunyi di Pintu Wisma Atlet

Kamis 24 Sep 2020 15:19 WIB

Red: Joko Sadewo

Suasana Rumah Sakit Darurat COVID-19 dengan lampu kamar yang menyala di kawasan Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta.

Suasana Rumah Sakit Darurat COVID-19 dengan lampu kamar yang menyala di kawasan Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta.

Foto: Thoudy Badai/Republika
Menjalani isolasi di Wisma Atlet yang seperti apartemen.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Fauziah Mursid*

Sepekan setelah ibu saya dinyatakan positif Covid-19, hasil swab saya pun keluar. Hasilnya, sudah seperti yang saya prediksi, positif Covid-19.

Kenapa? Karena saya sudah merasakan kehilangan indra penciuman total kurang lebih tiga hari terakhir.

Berbekal pengalaman sebelumnya usai ibu saya mendapat hasil positif, kali ini saya tidak mengalami kebingungan. Apalagi, saat itu kami sekeluarga di rumah sudah menggunakan masker, menjaga jarak usai ibu saya positif Covid-19.

Beruntung, Rumah Sakit Lapangan (Rumkitlap) Artha Graha Peduli, tempat saya melakukan tes swab begitu peduli kepada pasiennya. Usai dinyatakan positif, saya diberikan pilihan apakah isolasi secara mandiri di rumah atau di Wisma Atlet.

Berdasarkan pertimbangan keselamatan anggota keluarga di rumah, ada bapak saya yang sudah berusia lanjut, adik saya, dan ponakan yang kondisinya sehat dan bergejala, akhirnya saya putuskan untuk isolasi di Wisma Atlet Kemayoran. Tidak butuh lama, melalui koordinasi via smartphome oleh tim Rumkitlap Artha Graha Peduli, surat rujukan ke Wisma Atlet pun selesai dibuat.

Saya cukup datang ke sana dan menyertakan hasil positif dan surat rujukan tersebut. Hingga kemudiam saya berangkat menuju Wisma Atlet, dibantu oleh tim dari kantor saya yang sudah berkoordinasi dengan pihak Wisma.

Saya merasa sangat bersyukur, proses isolasi saya dari rumah hingga menuju Wisma Atlet begitu mudah. Sekitar pukul 1 siang saya sudah tiba di IGD Tower Enam Wisma Atlet Kemayoran, setelah beberapa kali lapor di pos pengamanan.

Setibanya di sana, saya diminta mengisi administrasi layaknya layanan di fasilitas kesehatan. Cukup memperlihatkan KTP, surat hasil swab positif Covid-19, dan rujukan dari fasilitas kesehatan tingkat pertama.

Petugas dengan alat pelindung diri lengkap secara sabar mendata kita, memberikan penjelasan mengenai prosedur perawatan Covid-19 di Wisma Atlet. Saya masih ingat, sebelum menandatangi dokumen persetujuan perawatan, dokter menjelaskan bahwa prosedur perawatan di Wisma Atlet kini telah berubah.

Jika sebelumnya, kepulangan pasien harus melalui dua kali swab negatif, kini cukup sekali swab negatif pasien diizinkan pulang dan prosesnya biasanya 10 hari. Dengan rincian, tujuh hari pasca pengobatan, dilakukan swab ulang, ditambah dua  hari menunggu hasil.

Jangan bayangkan, tempat administrasi IGD Tower Enam Wisma Atlet Kemayoran itu menyeramkan. Saya yang tiba agak kaget, di sana banyak pasien sehat seperti saya yang tengah menunggu antri administrasi.

Beberapa di antaranya mengemas barang mereka menggunakan koper koper besar, seperti di bandara hendak bepergian jauh.

Baru, setelah proses administrasi selesai, saya diizinkan masuk ke ruangan IGD Wisma Atlet. Ruangan IGD ini adalah tempat transit sebelum pasien dipindahkan ke ruangan kamar isolasi.

Karena memang tempat pemilahan pasien, di ruangan yang cukup lapang ini kondisi pasien berbeda-beda, ada yang masih terlihat sehat seperti saya, ada juga yang lemah harus menggunakan bantuan oksigen.

Saat saya masuk, petugas medis meminta saya mengisi salah satu tempat tidur IGD. Di sana saya menjalani pemeriksaan mulai tensi darah, nadi, saturasi oksigen, rekam jantung atau EKG, foto rontgen dan ditanya mengenai keluhan saat itu.

Kurang lebih dua jam menunggu, barulah seorang petugas medis berAPD memanggil dan memandu saya untuk pindah ke kamar perawatan, yang kebetulan ada di tower tujuh, atau gedung tepat di samping IGD Tower Enam Wisma Atlet Kemayoran.

Tapi jangan dibayangkan, jika kamar perawatan di Wisma Atlet ini seperti kamar rumah sakit. Kamar di sini seperti ruangan apartemen tiap kamarnya. Saya kala itu mendapat kamar 72414 yang berarti Tower tujuh lantai 24 kamar 14.

Setiap kamar memiliki satu ruang tamu berisi sofa meja dan perangkat wifi, dua kamar tidur yang masing-masing di isi satu orang, satu kamar mandi, dan pintu samping menuju tempat cuci piring atau jemur pakaian.

Karena tempatnya demikian, wajar jika Wisma Atlet Kemayoran diperuntukkan untuk pasien Covid-19 yang bergejala ringan. Sebab, pemantauan rutin kesehatan bagi pasien hanya dilakukan tiga kali sehari, yakni pagi mulai pukul 06.00 WIB, siang pukul 12.00 WIB, dan sore sekitar pukul 18.00 WIB.

Pemeriksaan biasanya meliputi tensi darah, nadi, saturasi oksigen dan keluhan-keluhan, baru setelah itu diberi obat. Namun demikian, pasien yang memiliki keluhan lain di luar jam kontrol, bisa langsung mendatangi ruangan perawatan atau nursing suster yang letak kamarnya persis setelah pintu lift dan tangga.

Sementara makanan juga diberikan secara teratur sebanyak tiga kali, yakni pagi mulai pukul 06.00 WIB, siang pukul 12.00 WIB, dan sore sekitar pukul 18.00 WIB. Pasien biasanya mengambil makanan yang sudah tersedia di depan ruangan perawatan sebelum atau sesudah pemeriksaan rutin.



BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA