Friday, 6 Rabiul Awwal 1442 / 23 October 2020

Friday, 6 Rabiul Awwal 1442 / 23 October 2020

Nasihat Wanita Pengembala Kambing kepada Seorang Ulama

Kamis 24 Sep 2020 10:27 WIB

Rep: Ali Yusuf/ Red: Muhammad Hafil

Nasihat Wanita Pengembala Kambing Kepada Seorang Ulama. Foto ilustrasi: Muslimah shalat. (ilustrasi)

Nasihat Wanita Pengembala Kambing Kepada Seorang Ulama. Foto ilustrasi: Muslimah shalat. (ilustrasi)

Foto: Yogi Ardhi/Republika
Seorang ulama mendapat nasihat dari wanita pengembala kambing.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Syekh Abdul Wahid bin Zaid rah. a. adalah seorang ulama terkenal. Ia berkata bahwa ia telah berdoa selama tiga malam berturut-turut, "Ya Allah pertemukanlah aku dengan istriku di surga."

Tiga hari kemudian ia memperoleh Ilham bahwa calon istrinya adalah Maimunah Saudah rah.ha., seorang wanita berkulit hitam dari Habasyah. Kemudian, ia memohon agar diberi tahu di mana ia dapat menjumpainya.

"Maka, ia memperoleh Ilham bahwa ia hidup di tengah suatu suku di Kufah," tulis Syekh Maulana Muhammad Zakarriya Al-Kandahlawi dalam kitabnya "Fadhilah Amal" bab Kisah Para Ahli Zuhud dan Dermawan.

Ia segera pergi ke Kufah, dan bertanya kepada orang-orang di sana mengenai dirinya. Akhirnya ia diberi tahu bahwa Maimunah Saudah tinggal di sebuah hutan sambil mengurus kambing kambingnya. Ketika ia pergi ke hutan, dilihatnya wanita itu sedang berdiri sholat.

"Pakaiannya buruk bertambal-tambal, di sisinya ada sekelompok kambing yang sedang makan rumput dengan sekelompok serigala," katanya.

Ketika Maimunah Sauda mengetahui bahwa ada seseorang yang mendekatinya, wanita itu memperpendek sholatnya dan segera menyelesaikannya. Wanita itu berkata kepadanya.

"Wahai Abdul Wahid, lebih baik engkau kembali sekarang, karena Allah SWT berjanji akan menyatukan kita besok pada hari kiamat. Semoga Allah memberkatimu."

Abdul Wahid menjawab bagaimana engkau mengetahui bahwa aku adalah Abdul Wahid? "Wanita itu menjawab," bukankah engkau tahu bahwa ruh telah dikumpulkan dalam kelompok yang besar (pada awal penciptaan manusia). Mereka telah berkenalan, ketika itu, mereka akan saling berhubungan (di dunia sesuai dengan hadits). Kemudian Abdul Wahid meminta wanita itu agar memberinya beberapa nasihat. Wanita itu berkata.

"Sungguh aneh engkau senantiasa menasehati orang lain namun engkau masih menginginkan nasihat dariku." Kemudian ia berkata, "Aku telah mendengar dari orang-orang tua bahwa mereka berkata, orang yang telah dianugrahi kekayaan di dunia namun masih memperbanyaknya, maka Allah Subhanahu Wa Ta'ala, akan menghilangkan darinya rasa cinta untuk mendekati Allah SWT. orang seperti ini tidak akan mendekat kepada Allah maka ia akan diazab dan dijauhkan dari-Nya. kemudian ia membaca syair:

"Wahai engkau yang selalu menasehati orang lain, berdiri di mimbar dan berikutbah, memperingatkan mereka akan dosa. Padahal engkau sendiri mengerjakan dosa itu. Aku berharap engkau memperbaiki dirimu dahulu dan bertobat sebelum engkau berdiri dan berkotbah di mimbar. Sehingga kutbahmu akan merasuk ke dalam hati.
Jika engkau menasehati mereka tanpa meninggalkan dosa engkau akan ragu-ragu ketika menasihati mereka dan niscaya mereka tidak mempedulikanmu."

Abdul Wahid bin Zaid berkata, Mengapa domba-domba kamu bisa berdamai dengan serigala? "Wanita itu menjawab," engkau tidak perlu memikirkannya, aku telah berdamai dengan Rabbku sehingga ia mendamaikan domba-dombaku dengan serigala itu.
 
 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA