Kamis 24 Sep 2020 09:52 WIB

Satu Lagi Negara Arab akan Buka Hubungan dengan Israel

AS mengumumkan akan ada satu negara lagi yang menormalisasi hubungan dengan Israel

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nur Aini
 (Kiri ke kanan) Menteri Luar Negeri Bahrain Sheikh Khalid Bin Ahmed Al-Khalifa, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Presiden AS Donald J. Trump dan Menteri Luar Negeri UEA Sheikh Abdullah bin Zayed bin Sultan Al Nahyan selama upacara penandatanganan Kesepakatan Abraham, yang menormalkan hubungan antara Uni Emirat Arab dan Bahrain dengan Israel, di Halaman Selatan Gedung Putih di Washington, DC, AS, 15 September 2020.
Foto: EPA-EFE/JIM LO SCALZO
(Kiri ke kanan) Menteri Luar Negeri Bahrain Sheikh Khalid Bin Ahmed Al-Khalifa, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Presiden AS Donald J. Trump dan Menteri Luar Negeri UEA Sheikh Abdullah bin Zayed bin Sultan Al Nahyan selama upacara penandatanganan Kesepakatan Abraham, yang menormalkan hubungan antara Uni Emirat Arab dan Bahrain dengan Israel, di Halaman Selatan Gedung Putih di Washington, DC, AS, 15 September 2020.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengatakan terdapat satu negara Arab yang akan melakukan normalisasi diplomatik dengan Israel dalam waktu satu atau dua hari ke depan. Sebelumnya, Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain telah terlebih dulu melakukan hal demikian.

“Rencana kami adalah membawa lebih banyak negara, yang akan diumumkan lebih banyak lagi segera. Satu (negara akan menandatangani normalisasi) dalam satu atau dua hari ke depan,” kata Duta Besar AS untuk PBB Kelly Craft saat diwawancara Al Arabiya pada Rabu (23/9).

Baca Juga

Dia tak menyebut nama negara yang akan mengambil langkah normalisasi hubungan dengan Israel. Namun, pada kesempatan itu Craft mengungkapkan bahwa AS juga mengharapkan Arab Saudi turut menandatangani kesepakatan damai dengan Israel. “Jelas, kami akan menyambut Arab Saudi menjadi yang berikutnya. Tetapi yang penting adalah kami fokus pada perjanjian dan kami tidak mengizinkan rezim (Iran) untuk mengeksploitasi niat baik Bahrain, UEA, atau Israel," ucapnya.

"Kami ingin mengajak semua orang untuk ikut serta dengan harapan bahwa ini akan memungkinkan warga Iran untuk melihat bahwa orang-orang benar-benar menginginkan perdamaian di Timur Tengah, dan mereka adalah bagian dari perdamaian ini," kata Craft.

Pada 15 September lalu, Netanyahu, Menteri Luar Negeri Bahrain Abdullatif bin Rashid Al Zayani, dan Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab (UEA) Sheikh Abdullah bin Zayed menandatangani perjanjian damai di Gedung Putih. Presiden AS Donald Trump turut menyaksikan proses penandatanganan bersejarah tersebut.

Trump mengapresiasi keputusan UEA dan Bahrain untuk melakukan normalisasi diplomatik dengan Israel. Menurutnya, hal itu akan mengakhiri perpecahan dan konflik yang telah berlangsung selama beberapa dekade di kawasan. Kesepakatan normalisasi dipandang bakal membawa "fajar baru Timur Tengah". 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement