Friday, 6 Rabiul Awwal 1442 / 23 October 2020

Friday, 6 Rabiul Awwal 1442 / 23 October 2020

Harga Emas Berjangka Turun, Tertekan Penguatan Dolar AS

Kamis 24 Sep 2020 07:55 WIB

Red: Friska Yolandha

Pekerja melebur emas untuk dijadikan perhiasan di Cikini Gold Center, Jakarta, Jumat (24/7). Emas berjangka turun tajam pada akhir perdagangan Rabu (23/9), memperpanjang kerugiannya untuk hari ketiga berturut-turut.

Pekerja melebur emas untuk dijadikan perhiasan di Cikini Gold Center, Jakarta, Jumat (24/7). Emas berjangka turun tajam pada akhir perdagangan Rabu (23/9), memperpanjang kerugiannya untuk hari ketiga berturut-turut.

Foto: Antara/Dhemas Reviyanto
Indeks dolar mencapai tertinggi delapan minggu, meredupkan daya tarik emas.

REPUBLIKA.CO.ID, CHICAGO -- Emas berjangka turun tajam pada akhir perdagangan Rabu (23/9), memperpanjang kerugiannya untuk hari ketiga berturut-turut. Harga emas tertekan berlanjutnya penguatan dolar AS. Investor sedang menunggu tanggapan lebih lanjut dari bank-bank sentral utama ketika ketidakpastian ekonomi terus membayang.

Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Desember di divisi COMEX New York Mercantile Exchange, anjlok 39,2 dolar AS atau 2,05 persen, menjadi ditutup pada 1.868,40 dolar AS per ons troi. Sehari sebelumnya, Selasa (22/9), emas berjangka terpangkas tiga dolar AS atau 0,16 persen menjadi 1.907,60 dolar AS.

"Emas saat ini mengambil isyarat dari dolar AS dan kekuatan dolar AS terus membebani emas," kata analis Standard Chartered, Suki Cooper.

Baca Juga

Indeks dolar mencapai tertinggi delapan minggu, meredupkan daya tarik emas bagi pemegang mata uang lainnya. Harga emas turun, meskipun saham AS melemah setelah data menunjukkan aktivitas bisnis AS turun pada bulan September.

"Ketidakpastian jangka panjang masih membayangi dan tidak ada investor yang akan kehilangan kesempatan untuk menambahkan emas ke portofolionya saat harga rendah," kata Phillip Streible, ahli strategi pasar senior untuk RJO Futures di Chicago.

"Investor menunggu dan mengawasi apa yang akan dilakukan bank-bank sentral utama selanjutnya. Saat ini sebagian besar kebijakan moneter dan fiskal yang tersedia telah diterapkan."

Sementara itu, Presiden Federal Reserve Bank Cleveland, Loretta Mester mengatakan kebijakan moneter perlu tetap akomodatif selama beberapa tahun ke depan dan lebih banyak stimulus fiskal diperlukan untuk mendukung perekonomian. Emas yang tidak memberikan imbal hasil sering dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan pelemahan mata uang.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA