Wednesday, 17 Rabiul Akhir 1442 / 02 December 2020

Wednesday, 17 Rabiul Akhir 1442 / 02 December 2020

Inggris Ingin Pembatasan Lebih Longgar agar Ekonomi Maju

Kamis 24 Sep 2020 07:08 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Nur Aini

 Perdana Menteri Inggris Boris Johnson

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson

Foto: AP/Aaron Chown/PA POOL
Pembatasan terbaru di Inggris tidak akan secara total seperti pada Maret

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON — Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengatakan diperlukan tindakan lebih lanjut untuk mengekang penyebaran kasus infeksi virus corona jenis baru (Covid-19). Meski demikian, hal itu akan diatur lebih lanjut agar ekonomi negara itu terus bergerak maju, meski pembatasan kembali diberlakukan. 

“Kami harus mengambil tindakan sekarang. Namun, dengan cara ini, kami membuat orang tetap bekerja, toko dan sekolah tetap buka, dan kita dapat membuat negara kita terus maju, sementara terus bekerja sama untuk menekan virus,” ujar Johnson dalam pidato yang disiarkan televisi, seperti dilansir News Europe, Rabu (23/9). 

Pemerintah Inggris telah memerintahkan agar pub di negara itu kembali ditutup lebih awal, sebagai aturan terbaru untuk mengendalikan kasus Covid-19. Johnson mengatakan aturan pembatasan terbaru atau lockdown yang ditetapkan tidak akan seperti awal, yaitu secara total seperti pada Maret lalu. 

Baca Juga

“Ini adalah saat Kami haris bertindak beradasarkan prinsip yang tepat,” kata Johnson. 

Johnson memperkirakan aturan pembatasan terbaru di Inggris dapat berlaku hingga enam bulan ke depan. Akan ada hukuman yang lebih besar bagi orang-orang yang melanggar. Polisi dan militer dilibatkan untuk menegakkan aturan. 

Inggris menjadi negara tengan jumlah kematian akibat Covid-19 terburuk di Eropa saat ini. Tercatat ada 403.551 kasus dan 41.825 kematian hingga Rabu (23/9). 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA