Thursday, 10 Ramadhan 1442 / 22 April 2021

Thursday, 10 Ramadhan 1442 / 22 April 2021

Meski Resesi, Kuartal III akan Lebih Baik dari Kuartal II

Rabu 23 Sep 2020 18:12 WIB

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Friska Yolandha

Warga menggunakan masker saat belanja  di pasar tradisional Pasar Minggu, Jakarta, Kamis (17/9). Sekretaris Eksekutif I Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC PEN) Raden Pardede memproyeksikan, tren pemulihan ekonomi sudah mulai dilihat pada kuartal ketiga.

Warga menggunakan masker saat belanja di pasar tradisional Pasar Minggu, Jakarta, Kamis (17/9). Sekretaris Eksekutif I Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC PEN) Raden Pardede memproyeksikan, tren pemulihan ekonomi sudah mulai dilihat pada kuartal ketiga.

Foto: Republika/Thoudy Badai
Kuartal III diprediksi kontraksi 2,9 persen sampai minus 1,1 persen.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sekretaris Eksekutif I Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC PEN) Raden Pardede memproyeksikan, tren pemulihan ekonomi sudah mulai dilihat pada kuartal ketiga. Prediksi ini disampaikan meskipun ekonomi Indonesia hampir dipastikan memasuki resesi.

Tren yang dimaksud adalah pertumbuhan negatif ekonomi pada kuartal ketiga akan membaik dibandingkan periode April hingga Juni. Hal ini tergambarkan dari proyeksi Menteri Keuangan Sri Mulyani pada kuartal ketiga yang tumbuh negatif 2,9 persen sampai minus 1,1 persen.

"Itu adalah salah satu catatan penting yang harus dilihat," ucap Raden dalam Webinar 'Arah Kebijakan Pemerintah: Keseimbangan Antara Kesehatan Dan Ekonomi', Rabu (23/9).

Baca Juga

Raden mengungkapkan, beberapa indikator ekonomi lainnya juga sudah menunjukkan adanya pemulihan. Misalnya, kenaikan indeks manufaktur atau Purchasing Managers' Index (PMI) Indonesia yang berada pada level 50,8 pada bulan lalu. Indeks di atas 50 menggambarkan adanya ekspansi pada sektor pengolahan.

Selain itu, indikator lain seperti pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), nilai tukar rupiah, dan yield surat utang negara (SUN)  disebutkan Raden menunjukkan perbaikan secara bertahap. Meski belum kembali ke level sebelum pandemi Covid-19, tren pemulihan sudah mulai terlihat.

"Rupiah yang sempat hampir Rp 16.500 per dolar AS waktu itu, sekarang di posisi Rp 14.000an, pernah juga yield SUN mencapai 8,5 persen, sekarang di level sekitar 7 atau 6,7 persen, ada perbaikan di situ," kata Raden.

Pemerintah berharap, kontraksi hingga 5,32 persen pada kuartal kedua akan menjadi titik terendah ekonomi pada masa pandemi Covid-19. Selanjutnya, tren pemulihan bisa terus terjadi, meskipun secara bertahap.

Raden menambahkan, pertumbuhan negatif tidak hanya terjadi pada Indonesia. Banyak negara mengalami situasi serupa di tengah tekanan penyebaran virus corona, mulai dari negara berkembang seperti India hingga negara maju Amerika Serikat (AS).

Saat ini, Raden menuturkan, tugas utama pemerintah, masyarakat maupun semua pemangku kepentingan adalah memiliki optimisme ekonomi Indonesia mampu terus tumbuh. "Kita harus kerja keras, sehingga kuartal empat lebih baik dari kuartal ketiga, dan kuartal pertama 2021 lebih baik dari kuartal keempat," ujarnya.

Agar pemulihan lebih optimal, Raden menyebutkan, vaksin Covid-19 menjadi kunci utama. Tanpa penemuan vaksin, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap prospek ekonomi Indonesia akan sulit kembali. Dampak berikutnya, tingkat pemulihan pun tidak bisa optimal seperti yang diharapkan.

Oleh karena itu, Raden mengatakan, gabungan dan keseimbangan antara penanganan kesehatan dengan ekonomi menjadi prioritas utama pemerintah saat ini. "Gabungan antara kita perbaiki kesehatan kita, kesehatan dasar, itu yang bisa membuat ekonomi kita kembali," tuturnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA