Monday, 15 Rabiul Akhir 1442 / 30 November 2020

Monday, 15 Rabiul Akhir 1442 / 30 November 2020

Menteri ESDM: Potensi Energi Surya Ada 200 GW

Rabu 23 Sep 2020 15:32 WIB

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Friska Yolandha

Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengatakan saat ini pemerintah tengah fokus mengembangan energi baru terbarukan (EBT) untuk mengejar target bauran energi 23 persen pada 2025 mendatang.

Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengatakan saat ini pemerintah tengah fokus mengembangan energi baru terbarukan (EBT) untuk mengejar target bauran energi 23 persen pada 2025 mendatang.

Foto: Thoudy Badai
Minimnya investasi energi surya disebabkan oleh mahalnya biaya yang harus dikeluarkan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengatakan saat ini pemerintah tengah fokus mengembangan energi baru terbarukan (EBT) untuk mengejar target bauran energi 23 persen pada 2025 mendatang. Beberapa sumber energi alternatif yang bisa dimanfaatkan untuk pembangkit listrik, yaitu seperti energi surya. 

Arifin mengatakan, saat ini pemerintah tengah menundang para investor panel untuk bisa menanamkan modal ke Indonesia karena potensinya yang masih besar. Kapasitas energi surya di Indonesia bisa sampai 200 gigawatt (GW).

"Ini menarik untuk dikembangkan ditengah kampanye energi bersih," ujar Arifin dalam sebuah diskusi virtual, Rabu (23/9).

Baca Juga

Arifin menegaskan, hal yang paling penting dari pemanfaatan EBT ini adalah udara bersih yang menjadi modal untuk kesehatan generasi jangka panjang. "Sehingga dari sekarang harus kita pikirkan bagaimana kita bisa memanfaatkan SDA (sumber daya alam) yang kita miliki memang bisa menciptakan udara bersih," kata dia.

Dia mengakui, biaya yang dikeluarkan untuk pemanfaatan EBT akan cukup besar. Namun, jika hal tersebut tidak segera dilakukan, dikhawatirkan Indonesia akan selalu bergantung pada energi fosil.

"Dan kita akan selalu ketinggalan di sektor industri karena persyaratan ke depan mungkin akan lebih ketat lagi untuk melakukan importasi dengan energi tertentu," ucapnya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA