Friday, 13 Rabiul Awwal 1442 / 30 October 2020

Friday, 13 Rabiul Awwal 1442 / 30 October 2020

BMM dan Kitabisa.com Berbagi Manfaat Lewat Ambulans Terapung

Rabu 23 Sep 2020 14:41 WIB

Red: Hiru Muhammad

Lembaga Amil Zakat Nasional (LAZNAS) Baitulmaal Muamalat (BMM) untuk kali kedua meluncurkan program Ambulans Terapung. Setelah bulan Juli 2020 lalu berhasil meluncurkan Program Ambulans Terapung di Sambas, Kalimantan Barat, kini program serupa digagas untuk masyarakat di Desa Jatisari, Kec. Karang Agung Ilir, Kab. Banyuasin, Sumatera Selatan.

Lembaga Amil Zakat Nasional (LAZNAS) Baitulmaal Muamalat (BMM) untuk kali kedua meluncurkan program Ambulans Terapung. Setelah bulan Juli 2020 lalu berhasil meluncurkan Program Ambulans Terapung di Sambas, Kalimantan Barat, kini program serupa digagas untuk masyarakat di Desa Jatisari, Kec. Karang Agung Ilir, Kab. Banyuasin, Sumatera Selatan.

Foto: istimewa
Ambulans terapung ini diharapkan dapat melayani warga untuk berobat ke rumah sakit

REPUBLIKA.CO.ID, BANYUASIN--Lembaga Amil Zakat Nasional (LAZNAS) Baitulmaal Muamalat (BMM) untuk kali kedua meluncurkan program Ambulans Terapung. Setelah bulan Juli 2020 lalu berhasil meluncurkan Program Ambulans Terapung di Sambas, Kalimantan Barat, kini program serupa digagas untuk masyarakat di Desa Jatisari, Kec. Karang Agung Ilir, Kab. Banyuasin, Sumatera Selatan.

Jatisari adalah sebuah desa pelosok yang berada di pesisir muara Sungai Musi, Sumatera Selatan. Untuk mencapai lokasi tersebut harus menempuh waktu selama lima jam dari Kota Palembang melalui sungai. Sebagian besar warganya bermata pencaharian sebagai pekebun dan nelayan. Sebanyak 867 kepala keluarga yang tinggal di desa tersebut kesulitan mendapatkan akses kesehatan karena lokasi yang cukup terpencil dan jauh dari kota.

Lilis Suryani, seorang bidan di Desa Jatisari mengisahkan, "Jika ingin pergi ke RS atau fasilitas kesehatan lainnya yang ada di kota, warga harus membayar sewa perahu yang biayanya bisa mencapai Rp2 juta. Belum lagi untuk biaya berobat dan hidup selama di RS.'' Tentunya hal tersebut sangat memberatkan bagi warga dengan penghasilan yang relatif rendah.

Lilis, yang bertugas menjadi bidan di Desa Jatisari sejak tahun 2006, sudah sangat sering mendengar keluh kesah hingga cerita miris warga. Keterbatasan moda transportasi menjadi momok menakutkan jika warga harus dirjujuk ke RS di kota dalam kondisi darurat. "Pinjam atau sewa perahu adalah pilihan sulit", tambah Lilis. Maklum, pinjam perahu belum tentu ada, jikapun ada warga harus merogoh kocek yang sangat mahal untuk kebutuhan bahan bakarnya.

Saat ini, warga bisa sedikit lega. Ambulans Terapung BMM hasil donasi orang baik melalui kitabisa.com telah diserahterimakan. Ambulans yang didesin khusus bekekuatan mesin 40 PK ini diharapkan dapat melayani warga Desa Jatisari untuk berobat ke Puskesmas maupun Rumah Sakit. "Semoga Ambulans Terapung ini memberikan peningkatan kualitas kesehatan bagi warga kami," pungkas Lilis.

Plt. Direktur Eksekutif Baitulmaal Muamalat Novi Wardi mengungkapkan, ''Bahwa program Ambulance Terapung ini merupakan salah satu program andalan dari BMM dalam kontribusinya bagi masyarakat Indonesia yang berada di daerah terpencil dan terluar. Program Ambulans Terapung di Banyuasin, Sumatera Selatan ini adalah project yang kedua dan insyaa Allah akan dilanjutkan di daerah lainnya. Dengan jumlah sekitar 17.491 pulau tersebar di seluruh Indonesia serta tantangan alam yang sangat luar biasa dalam menjangkaunya, tentu keberadaan Ambulans Terapung ini sangat penting sekali dalam proses penanganan masalah kesehatan bagi masyarakat yang memerlukan. Diharapkan dengan adanya bantuan Ambulans Terapung ini akan dapat membantu meningkatkan kesehatan masyarakat serta mempercepat proses penangananan kesehatan," katanya.

Selain sebagai fasilitas rujukan bagi warga desa yang tengah berada di dalam kondisi darurat untuk pergi ke Puskesmas dan Rumah Sakit, Ambulans Terapung ini juga dapat digunakan sebagai transportasi bagi para dokter dan tenaga kesehatan lainnya yang ada di kota untuk masuk ke desa, dan berfungsi sebagai posyandu keliling bagi para ibu dan balita.

BMM didirikan Bank Muamalat Indonesia pada tahun 2000. BMM merupakan Lembaga Amil Zakat Nasional (LAZNAS) yang dikukuhkan oleh pemerintah dengan tugas utama menghimpun dan menyalurkan dana Zakat, Infak, Sedekah, dan Dana Sosial Keagamaan lainnya (ZIS DSKL). Selain itu, BMM juga merupakan Nazhir resmi yang mengelola dan mengembangkan wakaf produktif ekonomi.

Selama 20 tahun berkiprah, BMM selalu berusaha untuk melakukan tata kelola yang baik terutama dalam hal pendistribusian dan pendayagunaan dana ZIS DSKL guna meningkatkan kesejahteraan umat melalui program-program yang inovatif, kreatif, dan berkesinambungan, diantaranya di bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, dakwah, serta kemanusiaan.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA