Thursday, 13 Muharram 1444 / 11 August 2022

Jokowi Harap PBB Berbenah Diri dan Responsif

Rabu 23 Sep 2020 11:45 WIB

Rep: Antara/ Red: Erik Purnama Putra

Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Foto: Republika/Edwin Dwi Putranto
Menurut Jokowi, Covid-19 tidak kenal batas negara no one is safe, until everyone is.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) berharap agar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dapat berbenah diri sehingga responsif serta efektif dalam menjawab berbagai tantangan global. Jokowi untuk pertama kalinya pidato di PBB, setelah lima tahun sebelumnya selalu didelegasikan ke Wakil Presiden Jusuf Kalla di forum internasional tersebut.

"PBB harus senantiasa berbenah diri melakukan reformasi revitalisasi dan efisiensi. PBB harus dapat membuktikan bahwa 'multilateralism delivered' termasuk pada saat terjadinya krisis PBB harus lebih responsif dan efektif dalam menyelesaikan berbagai tantangan global," kata Jokowi saat sesi debat umum Sidang Majelis Umum ke-75 PBB secara virtual seperti disiarkan di YouTube Sekretariat Presiden pada Rabu (23/9) pagi WIB.

Selain Jokowi, sejumlah menteri ikut menyampaikan pidato secara virtual, antara lain Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya serta Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak I Gusti Ayu Bintang Darmawati.

"Kita semua memiliki tanggung jawab untuk terus memperkuat PBB agar PBB tetap relevan dan semakin kontributif sejalan dengan tantangan zaman," kata Jokowi menambahkan.

Menurut Presiden, PBB bukanlah sekadar sebuah gedung di kota New York tapi sebuah cita-cita dan komitmen bersama seluruh bangsa untuk mencapai perdamaian dunia dan kesejahteraan bagi generasi penerus.

"Indonesia memiliki keyakinan yang tidak tergoyahkan terhadap PBB, terhadap multilateralisme, multilateralisme adalah satu-satunya jalan yang dapat memberikan kesetaraan," ucap Jokowi.

Menurut Jokowi, 75 tahun yang lalu, PBB dibentuk agar perang dunia II tidak terulang kembali dan agar dunia bisa lebih damai, stabil, dan sejahtera karena Perang tidak akan menguntungkan siapapun.

Tidak ada artinya sebuah kemenangan dirayakan di tengah kehancuran, dan tidak ada artinya menjadi kekuatan ekonomi terbesar di tengah dunia yang tenggelam.

"Pimpinan sidang yang terhormat, di usia PBB yang ke-75 ini kita patut bertanya apakah dunia yang kita impikan tersebut sudah tercapai? Saya kira jawaban kita sama, belum. Konflik masih terjadi di berbagai belahan dunia kemiskinan dan bahkan kelaparan masih terus dirasakan," tambah Jokowi.

Jokowi menilai prinsip-prinsip piagam PBB dan hukum internasional tidak diindahkan termasuk penghormatan terhadap kedaulatan dan integritas wilayah. Jokowi merasa semua orang sekarang prihatin melihat situasi keprihatinan saat pandemi Covid-19 ini.

"Di saat seharusnya kita semua bersatu-padu bekerja sama melawan pandemi, justru yang kita lihat adalah masih terjadinya perpecahan dan rivalitas yang semakin menanjak," ucap Jokowi.

Padahal seharusnya negara-negara di dunia bersatu padu untuk selalu menggunakan pendekatan win-win pada hubungan antarnegara yang saling menguntungkan.

"Kita tahu dampak pandemi ini sangat luar biasa baik dari sisi kesehatan maupun sosial ekonomi, kita juga paham virus ini tidak mengenal batas negara no one is safe, until everyone is. Jika perpecahan dan rivalitas terus terjadi maka saya khawatir pijakan bagi stabilitas dan perdamaian yang lestari akan goyah atau bahkan akan sirna," jelas Jokowi.

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA