Thursday, 5 Rabiul Awwal 1442 / 22 October 2020

Thursday, 5 Rabiul Awwal 1442 / 22 October 2020

NU Dinilai Mampu Mainkan Peran di Kancah Internasional

Rabu 23 Sep 2020 11:16 WIB

Rep: Rusdi Nurdiansyah/ Red: Muhammad Hafil

NU Dinilai Mampu Mainkan Peran di Kancah Internasional. Foto: (ilustrasi) logo nahdlatul ulama

NU Dinilai Mampu Mainkan Peran di Kancah Internasional. Foto: (ilustrasi) logo nahdlatul ulama

Foto: tangkapan layar wikipedia
NU memiliki peran sangat penting dalam geopolitik global.

REPUBLIKA.CO.ID, DEPOK--Keberadaan Nahdlatul Ulama (NU) dinilai sangat mumpuni untuk aktif memainkan peran di panggung internasionan. Bahkan, menjadi solusi di tengah permasalahan isu global. Hal itu dikatakan Direktur Eksekutif International Conference of Islamic Scholars (ICIS) Khariri Makmun.

"NU memiliki peran sangat penting dalam geopolitik global dan dibutuhkan untuk memediasi konflik di sejumlah Negara. Disamping memperkuat hubungan bilateral dan multilateral Indonesia di tingkat Internasional. Untuk itu, dibutuhkan lebih banyak diplomat dari kader NU," ujar Khariri seusai acara Webinar Nasional ke-8 dengan tema Refleksi Diplomasi Kiai Hasyim Muzadi yang diselenggarakan Institut Hasyim Muzadi (IHM), Rabu (23/9).

Khariri mengungkapkan, arah PBNU saat dipimpin KH Hasyim Muzadi, ingin NU tidak hanya menjadi pemain lokal yang berwawasan dan berpikir domestik. Menurutnya,  kapabilitas NU sangat mumpuni untuk terlibat dalam wacana-wacana global dan membantu menangani persoalan-persoalan dunia internasional. "Hasyim Muzadi selalu membangun jaringan inernasional dengan isu-isu Islam rahmatan lil-alamin," terangnya.

Dalam pandangan Hasyim Muzadi, ia melihat saat ini telah terjadi perubahan tren global dan regional. Rivalitas hegemoni atau kepemimpinan global sedang terjadi antara Amerika dengan Tiongkok. “Indonesia, dengan jalur sutra yang diapit oleh berbagai negara satelit dari Amerika dan Tiongkok, mau tidak-mau harus memperkuat diri," jelas Khariri.

Sementara itu, lanjut Khairi, geopolitik di Asia Timur dan Asia Tenggara, dalam konteks ekonomi, budaya maupun pertahanan dan keamanan, masih rentan konflik dan menjadi rebutan negara besar di luar kawasan. Dirinya menekankan bahwa dalam konteks perubahan dinamika regional dan global, Islam rahmatan lil alamin, karakter ideologi keagamaan NU sangat dibutuhkan dalam memperkuat hubungan internasional Indonesia. "NU harus mempertahankan sikap moderat, terbuka, guyub, bersatu, dan mampu mengakomodasi berbagai tradisi lokal sebagai jalan diplomasi," pungkasnya

Dalam webinar itu sejumlah narasumber hadir. Antara lain Dr. Nur Hasan Wirajuda (Menlu RI 2001-2009), Yusron Ambari (Direktur Diplomasi Publik Kemlu), Chozin Khumaidi (Dubes RI di Lebanon periode 2016-2019) dan Khariri Makmun (Wakil Direktur Eksekutif ICIS/penulis buku NU dan Diplomasi Global).

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA