Sunday, 4 Jumadil Akhir 1442 / 17 January 2021

Sunday, 4 Jumadil Akhir 1442 / 17 January 2021

Dampak Psikologis Ngeprank Anak demi Konten Medsos

Rabu 23 Sep 2020 08:19 WIB

Rep: Desy Susilawati/ Red: Reiny Dwinanda

Youtube (Ilustrasi). Sejumlah Youtuber tampak sering mengerjai anak untuk konten videonya.

Youtube (Ilustrasi). Sejumlah Youtuber tampak sering mengerjai anak untuk konten videonya.

Foto: Flickr
Psikolog menyerukan agar orang tua berhenti membuat prank yang merugikan anak.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Orang tua terkadang tak berpikir dua kali ketika membuat konten media sosial yang melibatkan anaknya. Mereka mengira, ekspresi takut dan khawatir yang ditunjukkan si kecil terlihat menggemaskan saat dikerjai dan itu akan menarik banyak mata untuk menyaksikannya.

Psikolog Anak, Ine Indriani, menentang keras prank terhadap anak. Menurutnya, prank bisa berdampak pada emosi dan aspek psikologis anak, apalagi jika prank-nya bukan settingan.

"Bila di-setting, anak sudah tahu akan seperti apa kejadiannya. Bayangkan bila mengerjai anak dilakukan tanpa settingan atau kejadian sebenarnya, ini akan memengaruhi kepercayaan diri anak. Apalagi videonya akan ditunjukkan kepada orang lain melalui akun Youtube atau media sosial lainnya," tutur Ine.

Ketika dikerjai lalu direkam reaksinya, belum tentu anak akan suka dan dapat menerimanya. Anak juga bisa memiliki emosi negatif, bila ternyata konten tersebut tidak disetujui anak, menyakiti anak, mempermalukan anak, atau konten tersebut membuat anak menjadi dirundung teman-temannya.

Baca Juga

"Cobalah untuk pikirkan sesuatu yang lebih baik, menyenangkan, atau membuat terharu, ketika membuat konten," ujar Ine.

Anak yang kerap dikerjai, selain menjadi korban bully, juga bisa menjadi pelaku bullying. Hal ini terjadi lantaran anak tidak bisa marah terhadap orang tuanya. Mereka pun melampiaskannya pada orang lain.

"Coba pikirkan dampak baik buruknya. Coba pikirkan orang lain, jangan hanya karena ketenaran dan materi saja," kata Ine.

Lebih lanjut, Ine mengatakan, anak yang sering kena prank juga bisa menjadi hilang empati. Soal empati ini sebetulnya dipengaruhi banyak faktor.

"Empati berkurang atau tidak, tergantung dari jenis prank yang dilakukan," ujar Ine.

Selain dampak psikologis pada anak, prank pada buah hati demi konten media sosial juga dapat memberikan dampak sosial kepada masyarakat. Ine mengajak pembuat konten untuk merenungkan apakah konten tersebut mendidik atau justru malah akan ditiru orang lain dan membahayakan.

"Kalau Anda melakukan prank itu, orang akan menonton atau tidak. Jika melakukan konten bagus dan ditiru, Anda akan mendapatkan pahala dan derajat Anda naik, berarti Anda menuai kebaikan. Justru sebaliknya Anda melakukan prank tidak bermutu demi konten dan memiliki jutaan viewer atau follower, Anda memberikan noda ke banyak orang dan follower ini akan menyebarkan lagi, berjuta orang ternodai,” tutur Ine.

Masih ingin membuat konten prank? Ine menganjurkan agar melakukannya dengan lebih cerdas. Cobalah membuat konten lebih bermutu.

"Kalau prank-nya justru membuat anaknya menangis, mengeksploitasi anak demi keuntungan pribadi, maka itu merugikan anak dan psikologis anak. Jangan sampai menzalimi anak sendiri demi uang," kata Ine.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA