Friday, 12 Rabiul Akhir 1442 / 27 November 2020

Friday, 12 Rabiul Akhir 1442 / 27 November 2020

5 Mitos Seputar Gizi yang Merugikan Kesehatan

Rabu 23 Sep 2020 07:26 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Reiny Dwinanda

Telur goreng atau telur mata sapi. Mitos tentang kandungan kolesterolnya yang tingkatkan risiko penyakit jantung membuat orang khawatir untuk mengonsumsi telur.

Telur goreng atau telur mata sapi. Mitos tentang kandungan kolesterolnya yang tingkatkan risiko penyakit jantung membuat orang khawatir untuk mengonsumsi telur.

Foto: Flickr
Sejumlah informasi menyesatkan mengenai gizi banyak beredar di internet.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ada beragam informasi seputar gizi yang bisa diakses dengan mudah di internet. Hanya saja, tak sedikit dari informasi tersebut yang sebenarnya menyesatkan dan dapat merugikan kesehatan.

Ahli gizi Rhiannon Lambert mengungkapkan setidaknya ada lima mitos mengenai gizi yang keliru dan perlu ditinggalkan. Berikut ini adalah kelima mitos tersebut, seperti dilansir Independent.

1. Konsumsi banyak telur tidak baik
Tak sedikit orang yang khawatir mengonsumsi telur karena kandungan kolesterolnya yang tinggi. Kandungan kolesterol yang tinggi pada telur diyakini dapat meningkatkan risiko penyakit jantung.

Telur memang memiliki kadar kolesterol yang tinggi. Akan tetapi, konsumsi telur tidak menyebabkan peningkatan kolesterol jahat di dalam darah.

"Faktanya, telur secara konsisten mendorong peningkatan kadar kolesterol HDL (kolesterol baik), yang berkaitan dengan penurunan risiko banyak penyakit," jelas Lambert.

Lambert mengatakan, telur tak seharusnya dimusuhi karena sangat bergizi. Telur diketahui kaya akan protein, lemak sehat, vitamin, mineral, dan antioksidan yang unik.

Terkait jumlah, Lambert mengatakan, konsumsi tiga telur per hari tidak masalah. Belum ada bukti pula bahwa konsumsi telur lebih dari itu dapat menyebabkan masalah bagi kesehatan.

2. Minyak sayur itu sehat
Klaim bahwa minyak sayur itu sehat tidak sepenuhnya benar. Kandungan lemak tak jenuh ganda dalam minyak sayur merupakan alasan yang membuat banyak orang meyakini minyak sayur itu sehat.

Studi memang telah menunjukkan bahwa lemak tak jenuh ganda dapat menurunkan risiko penyakit jantung. Namun, yang tak banyak orang ketahui adalah lemak tak jenuh ganda memiliki beragam jenis, umumnya adalah omega-3 dan omega-6.

Minyak sayur merupakan salah satu sumber untuk omega-6. Namun yang membuatnya menjadi tidak baik untuk kesehatan adalah minyak sayur harus diproses lebih lanjut untuk digunakan.

3. Daging buruk untuk kesehatan
Beberapa daging, seperti daging olahan, memang dapat memberi dampak negatif bagi kesehatan. Akan tetapi, bukan berarti semua daging memiliki dampak negatif yang sama.

Sebagai contoh, studi berskala besar yang melibatkan 448.568 partisipan menunjukkan bahwa daging olahan dapat meningkatkan risiko kematian. Akan tetapi, efek yang sama tidak terlihat pada daging merah yang tidak olahan.

Lambert mengatakan, konsumsi daging merah yang dimasak dengan benar satu kali dalam sepekan tidak masalah. Daging merah juga kaya akan vitamin, mineral, antioksidan, serta lemak, dan protein sehat.

4. Semua kalori sama
Saat sedang menurunkan berat badan, tak sedikit orang yang lebih berfokus pada pengurangan kalori. Padahal, cara ini tak sepenuhnya benar.

Jenis makanan atau sumber kalori juga turut memengaruhi kesuksesan penurunan berat badan. Sebagai contoh, konsumsi protein dapat menurunkan nafsu makan dibandingkan konsumsi lemak atau karbohidrat dalam jumlah yang sama. Alasannya, protein memiliki satiety index atau indeks rasa kenyang yang lebih tinggi.

Selain itu, pemilihan jenis makanan yang salah juga lebih mudah menyebabkan makan berlebih. Sebagai contoh, 400 kalori es krim akan jauh lebih mudah dan cepat dikonsumsi dibandingkan 400 kalori brokoli.

"Meskipun kalori penting, mengatakan bahwa kalori adalah satu-satunya yang berarti dalam penurunan berat badan atau kesehatan merupakan sesuatu yang sepenuhnya salah," ungkap Lambert.

5. Konsumsi lemak membuat gemuk
Dahulu, ada anggapan bahwa konsumsi lemak dapat menyebabkan tubuh menjadi gemuk. Oleh karena itu, produk-produk rendah lemak dan bebas lemak mulai membanjiri supermarker sejak 1970-an.

Sebenarnya, konsumsi lemak membuat gemuk merupakan anggapan yang keliru. Selain itu, banyak pula produk rendah lemak yang sebenarnya dipenuhi oleh gula.

Konsumsi lemak sebenarnya menyehatkan, selama sumber lemak yang dipilih juga baik. Beberapa contoh sumber lemak yang baik adalah ikan berlemak, alpukat, full-fat yogurt, kacang-kacangan, dan mentega.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA