Saturday, 7 Rabiul Awwal 1442 / 24 October 2020

Saturday, 7 Rabiul Awwal 1442 / 24 October 2020

Maskapai Taiwan dan Australia Gagas Penerbangan Tanpa Tujuan

Rabu 23 Sep 2020 06:35 WIB

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Reiny Dwinanda

Qantas Air mengajak penumpang pesawat terbang rendah di daerah berpemandangan menarik lalu kembali ke bandara awal. (Ilustrasi)

Qantas Air mengajak penumpang pesawat terbang rendah di daerah berpemandangan menarik lalu kembali ke bandara awal. (Ilustrasi)

Foto: Telegraph
Pandemi Covid-19 membuat maskapai penerbangan berimprovisasi.

REPUBLIKA.CO.ID, TAIPEI -- Maskapai penerbangan di Taiwan dan Australia menggagas perjalanan tanpa tujuan bagi para penumpang yang sudah bosan di rumah. Pesawat akan lepas landas, terbang dengan rute tertentu yang sudah ditetapkan, lalu mendarat di bandara asal.

Tigerair Taiwan sudah merampungkan salah satu perjalanan tamasya tanpa tujuan ini pada Sabtu (19/9). Pesawat membawa sekitar 120 penumpang dari Bandara Internasional Taoyuan di Taipei, Taiwan, ke Jeju di Korea Selatan, kemudian kembali pulang.

Pilot menerbangkan pesawat dalam gerakan berputar dan agak rendah di Jeju supaya penumpang bisa menikmati keindahan pemandangan. Meskipun, kabut cukup membatasi pemandangan yang terlihat pada penerbangan tersebut.

Para penumpang dalam perjalanan itu terlihat antusias. Sebagian mengenakan pakaian tradisional Korea, merayakan penerbangan yang mereka anggap istimewa. Sebelum mengudara, para penumpang dan awak kabin berfoto bersama.

"Rasanya saya sudah sangat lama tidak pergi ke luar negeri, dan menurut saya kesempatan ini sangat spesial. Ini penawaran yang cukup baik," ucap salah satu penumpang, Chen Shu-tzu, seperti dikutip dari laman Channel News Asia.

Menurut data Asosiasi Maskapai Penerbangan Asia Pasifik, pembatasan perjalanan antarnegara yang ketat menyebabkan penerbangan internasional di Taiwan turun 97,5 persen. Itu sebabnya maskapai perlu menggagas hal kreatif.

Selain Tigerair Taiwan, maskapai EVA Airways Taiwan dan ANA Holdings di Jepang juga menawarkan tamasya serupa. Dengan perjalanan internasional yang lesu, untungnya perjalanan domestik di Taiwan mulai menggeliat.

Hal tersebut didukung kasus Covid-19 yang sudah cukup terkendali di negara tersebut. Sejumlah maskapai menambah jumlah rute wisata domestik, termasuk penerbangan ke pulau-pulau lepas pantai Taiwan dengan pemandangan indah.

Tidak hanya pelancong Taiwan yang sangat tertarik dengan ide penerbangan tanpa tujuan. Semangat yang sama ditunjukkan para wisatawan di Australia. Penerbangan tanpa tujuan yang dihadirkan Qantas ludes hanya dalam waktu 10 menit.

Maskapai penerbangan nasional Australia itu menawarkan rute yang berangkat dan berakhir di tempat yang sama. Penerbangan Qantas QF787 berangkat dari Bandara Domestik Sydney pada 10 Oktober 2020 dan kembali ke kota metropolitan itu tujuh jam kemudian.

Pesawat akan berputar ke Queensland dan Gold Coast, juga terbang rendah di atas Great Barrier Reef dan Sydney Harbour. Saat diumumkan penjualannya, pelancong menyerbu 134 tiket kelas ekonomi, ekonomi premium, dan bisnis.

Tiket dijual dengan kisaran harga 787 sampai 3.787 dolar Australia (setara dengan Rp 8,4 juta sampai Rp 40,4 juta). Angka yang termasuk tinggi ini segera menuai beragam komentar dari pengguna media sosial yang tercengang.

Mayoritas bingung karena harus membayar mahal hanya untuk duduk selama tujuh jam. "Ini tidak adil. Semua penerbangan Qantas ke Queensland biasanya hanya 300 dolar sekali jalan. Inilah yang terjadi ketika tidak ada kompetisi," kata salah satu warganet.

Sebagian lagi menyoroti konsekuensi penerbangan rekreasi itu terhadap perubahan iklim. "Bisakah seseorang menghentikan omong kosong penerbangan tanpa tujuan ini? Terbang dari A ke A tidak diperlukan dengan pesawat tersebut," ujar seseorang.

Akan tetapi, ada juga yang memuji konsep tersebut, mengatakan ide ini cocok untuk para penggemar wisata via udara. Besar kemungkinan orang yang berlomba-lomba membeli tiket sudah rindu bepergian menggunakan moda transportasi pesawat terbang.

Apalagi, sampai saat ini, Australia masih melarang semua penerbangan internasional dan menutup perbatasan untuk mengendalikan penularan Covid-19. Penerbangan domestik maupun rute terbang tanpa tujuan otomatis menjadi pilihan.

"Cara bagus untuk merasakan pengalaman berbeda tanpa benar-benar pergi ke mana pun dan di tengah terbatasnya pilihan perjalanan. Qantas juga pernah melakukan ini ketika pesawat 747 pensiun," tulis seseorang, dikutip dari laman Times Now News.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA