Tuesday, 9 Rabiul Akhir 1442 / 24 November 2020

Tuesday, 9 Rabiul Akhir 1442 / 24 November 2020

Ilmuwan Temukan Es di Tempat tak Terduga di Enceladus

Rabu 23 Sep 2020 05:25 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Dwi Murdaningsih

Gambar menunjukkan bahwa belahan bagian utara Enceladus muncul kembali dengan es. Cassini menampilkan lebih dari 100 geyser yang meledakkan air sedingin es ke luar angkasa.

Gambar menunjukkan bahwa belahan bagian utara Enceladus muncul kembali dengan es. Cassini menampilkan lebih dari 100 geyser yang meledakkan air sedingin es ke luar angkasa.

Foto: cassini
Enceladus adalah salah satu tempat tinggal paling menjanjikan bagi kehidupan alien.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bulan Saturnus, Enceladus mungkin lebih aktif daripada yang diperkirakan para ilmuwan. Kesimpulan ini diambil setelah ilmuwan mempelajari gambar terbaru Enceladus.

Gambar diperoleh selama penyelidikan dalam misi Cassini. Misi Cassini dikirim 13 lalu untuk menyelidiki Saturnus dan bulan-bulannya termasuk Enceladus.

Gambar menunjukkan bahwa belahan bagian utara Enceladus muncul kembali dengan es. Cassini menampilkan lebih dari 100 geyser yang meledakkan air sedingin es ke luar angkasa.

Baca Juga

Para peneliti melihat perubahan utara setelah melihat tanda panas Enceladus, menggunakan pantulan sinar matahari yang diuraikan dengan instrumen spektrometer pemetaan inframerah dan visibilitas Cassini, atau VIMS.

"Berkat mata inframerah (pada Cassini), Anda dapat kembali ke masa lalu dan mengatakan bahwa satu wilayah besar di belahan utara tampak juga muda dan mungkin aktif belum lama ini, dalam garis waktu geologi," ujar Gabriel Tobie, rekan studi, sekaligus penulis dan ilmuwan VIMS di Universitas Nantes di Prancis, mengatakan dalam sebuah pernyataan, dilansir Space, Selama (22/9).

Tim menggabungkan data VIMS dengan citra yang tertangkap oleh Cassini untuk membuat peta global Enceladus baru dalam berbagai panjang gelombang cahaya, baik inframerah maupun tampak. Peta tersebut menunjukkan bahwa sinyal inframerah berkorelasi dengan aktivitas geologi baru-baru ini terjadi di bulan tersebut.

Sebagai contoh, tanda panas cocos dengan corral seperti garis berwarna coklat atau disebut sebagai garis harimau di dekat kutub selatan  Enceladus. Garis-garis harimau adalah landasan peluncuran untuk geyser dramatis bulan, yang mengirim air dan material lain dari samudra bawah permukaan Enceladus ke dalam kehampaan.

Namun, hal yang mengejutkan para ilmuwan adalah peta baru ini juga menunjukkan fitur inframerah di belahan bumi utara bulan. Data menunjukkan bahwa pelapisan es juga terjadi di utara, tetapi bagaimana belum jelas. Perubahan itu bisa jadi disebabkan oleh lebih banyaknya semburan es, atau pergerakan es yang lebih lambat melalui retakan.

Enceladus adalah salah satu tempat tinggal paling menjanjikan bagi kehidupan alien di tata surya. Selain lautan bawah permukaan dan aktivitas geologis, bulan Saturnus ini kemungkinan memiliki sumber energi yang dapat dimanfaatkan organisme berupa reaksi kimia yang mungkin mirip dengan yang menopang kehidupan di dekat ventilasi hidrotermal laut dalam di Bumi.

Belum ada misi masa depan yang direncanakan untuk menargetkan Enceladus, meskipun para ilmuwan telah melakukannya selama presentasi yang dikoordinasikan oleh Akademi Ilmu Pengetahuan Nasional Amerika Serikat pada 31 Maret. Sementara itu, para peneliti harus mengandalkan data yang dikumpulkan oleh misi sebelumnya.

Cassini akan terus membantu dalam memberikan informasi tersebut. Misi tersebut mengumpulkan data tentang Saturnus dan banyak bulannya selama 13 tahun sebelumnya. Cassini kini hancur dengan cara 'bunuh diri' yang disengaja ke dalam atmosfer tebal planet yang dikenal sebagai raksasa gas ini.

Pengamatan jangka panjang Cassini menunjukkan bagaimana planet dan bulan-bulannya berubah dari waktu ke waktu. Ini memberikan pertanyaan penting bagi pesawat ruang angkasa masa depan untuk dijelajahi lebih detail. Studi baru dipublikasikan secara daring pada bulan lalu di jurnal Icarus.

Studi dipimpin oleh Rozenn Robidel, seorang peneliti di laboratorium planetologi dan geodinamika di Pusat Penelitian Ilmiah Nasional (CNRS) Prancis.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA