Friday, 13 Rabiul Awwal 1442 / 30 October 2020

Friday, 13 Rabiul Awwal 1442 / 30 October 2020

Tren Kenaikan Kasus Positif dan Pecah Rekor Kematian Covid

Selasa 22 Sep 2020 17:17 WIB

Red: Indira Rezkisari

Petugas bus TransJakarta melihat videotron yang menampilkan jumlah tenaga kesehatan yang menjadi korban Covid-19 di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta. Pada Selasa (22/9), tercatat rekor jumlah kematian akibat Covid-18 yang mencapai 160 orang dalam 24 jam.

Petugas bus TransJakarta melihat videotron yang menampilkan jumlah tenaga kesehatan yang menjadi korban Covid-19 di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta. Pada Selasa (22/9), tercatat rekor jumlah kematian akibat Covid-18 yang mencapai 160 orang dalam 24 jam.

Foto: Indrianto Eko Suwarso/ANTARA
Hari ini tercatat terdapat 160 kematian akibat Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Dessy Suciati Saputri, Nawir Arsyad Akbar, Sapto Andika Candra, Wahyu Suryana

Juru Bicara Pemerintah Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito menyampaikan, jumlah kasus positif secara nasional mengalami kenaikan sebesar 8,4 persen selama sepekan terakhir ini. Bahkan selama tiga hari, kasus harian telah mencapai lebih dari empat ribu orang.

“Jumlah kasus positif Covid mengalami kenaikan 8,4 persen selama seminggu terakhir ini,” ujar Wiku saat konferensi pers di Kantor Presiden, Selasa (22/9).

Wiku merinci lima daerah yang mengalami kenaikan kasus tertinggi. Yakni Jawa Barat naik sebanyak 594 orang, Banten naik 492 orang, Sulawesi Selatan naik 459 orang, Riau naik 311 orang, dan Papua mengalami kenaikan 271 orang.

Sementara itu, jumlah kematian juga mengalami kenaikan sebesar 18,9 persen dibandingkan pekan sebelumnya. Wiku menyebut lima daerah yang mengalami kenaikan kasus kematian tertinggi yakni Jawa Tengah sebanyak 46 orang, DKI Jakarta sebanyak 32 orang, Aceh sebanyak 26 orang, Sumatra Utara sebanyak 24 orang, dan Sumatra Barat sebanyak 13 orang.

Sedangkan persentase kematian tertinggi yakni di Jawa Timur sebesar 7,29 persen, Jawa Tengah sebesar 6,47 persen, Sumatra Selatan sebesar 6,04 persen, NTB sebesar 5,91 persen, dan Bengkulu sebesar 5,85 persen. Wiku menuturkan, untuk menurunkan persentase kematian di wilayah tersebut, pemerintah daerah harus mampu menekan angka kematian selama tiga hingga empat pekan berturut-turut.

Hal ini dapat dilakukan dengan meningkatkan upaya pemeriksaan, pelacakan, dan juga perawatan. “Maka lima daerah ini dalam beberapa minggu ke depan seharusnya bisa menurunkan kasus kematiannya menjadi paling tidak sama dengan rata-rata nasional,” tambah dia.

Selanjutnya, Wiku juga menyampaikan adanya kenaikan jumlah kasus sembuh secara nasional yang sebesar 35,8 persen dibandingkan pekan sebelumnya. Angka kesembuhan tertinggi pun tercatat di Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Aceh, dan juga Kepulauan Riau.

“Kami mengapresiasi kepala daerah yang telah berhasil menurunkan kasus Covid di wilayah yang dipimpinnya. Walaupun demikian jangan berpuas diri, monitoring protokol kesehatan yang dilakukan oleh masyarakat betul-betul harus dijaga jangan sampai longgar atau kendor,” ucap Wiku.

Dalam kesempatan yang berbeda, Ketua Satuan Tugas (Satgas) Nasional Penanganan Covid-19 Doni Monardo rapat kerja dengan Komisi VIII DPR, Selasa (22/9), mengatakan angka kasus aktif Covid-19 di Indonesia terus menurun dalam seminggu terakhir. Berdasarkan data pada 20 September 2020, angka kasus positif Covid-19 di Indonesia sebesar 23,6 persen.

“Kami sampaikan bahwa angka kasus aktif minggu ini berkurang dari minggu sebelumnya, dari 25 persen menjadi 23,6 persen dari total kasus terkonfirmasi nasional," ujar Doni.

Selain itu, ia mengatakan bahwa angka kasus aktif nasional juga saat ini sudah di bawah angka kasus aktif global. Di mana angka kasus aktif Covid-19 secara global adalah sebesar 23,9 persen.

“Angka kasus aktif seminggu terakhir turun menjadi 23,6 persen, akibat penurunan kasus di DKI Jakarta, Jawa Tengah, dan Kalimantan Selatan,” ujar Doni.

Selain itu, angka kematian akibat Covid-19 di Indonesia juga terus mengalami penurunan dalam empat minggu terakhir. Berdasarkan data pada 20 September lalu, angka kematian di Indonesia adalah sebesar 3,9 persen.

“Angka kematian terus menurun dari minggu sebelumnya menjadi 3,9 persen, meski masih di atas rataan WHO yaitu 3,1 persen,” ujar Doni.

Ditambah dengan angka kesembuhan di Indonesia yang terus meningkat dalam tiga minggu terakhir. Berdasarkan data pada 20 September lalu, angka kesembuhan di Indonesia adalah sebesar 72,5 persen.

“Angka kesembuhan naik dari seminggu sebelumnya menjadi 72,5 persen, akibat menurunnya kasus aktif dalam seminggu terakhir. Meski masih di bawah rataan global 73 persen,” ujar Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Doni memang menyayangkan masih adanya perilaku masyarakat yang abai perihal protokol Covid-19. Terbukti masih banyaknya orang yang masih percaya bahwa dirinya tak akan terpapar virus tersebut.

"Ini yang menjadi hal yang cukup repot karena jumlah atau persentase masyarakat yang merasa tidak terpapar Covid ini masih tinggi. Bagaimana cara kita ke depan untuk bisa mengingatkan masyarakat bahwa Covid ini nyata,” ujar Doni.



Ia menjelaskan, angka kematian akibat virus tersebut hampir mencapai satu juta jiwa. Ditambah dengan masih adanya puluhan ribu orang yang masih dalam tahap penyembuhan.

“Korbannya sudah jutaan orang yang terpapar Covid dan yang wafat mendekati satu juta jiwa. Ini (Covid-19) nyata, ini fakta dan ini bukan rekayasa, bukan konspirasi,” ujar Doni. Apalagi, angka kematian akibat Covid-19 di Indonesia melebihi batas rata-rata dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Hari ini tercatat rekor penambahan pasien yang meninggal dunia dengan status konfirmasi positif Covid-19. Terdapat 160 kasus kematian dalam 24 jam terakhir.

Angka ini menjadi yang tertinggi sejak pandemi melanda awal Maret lalu. Jumlah kematian tertinggi sebelumnya tercatat pada 22 Juli dengan 139 orang meninggal dunia dalam satu hari.

Berdasarkan data yang dirilis pemerintah, angka kematian terbanyak hari ini disumbangkan oleh Jawa Tengah dengan 42 orang meninggal dunia. Menyusul kemudian DKI Jakarta dengan 30 orang meninggal dunia dan Jawa Timur dengan 25 kasus kematian dalam 24 jam terakhir.

Di sisi lain, ada penambahan kasus konfirmasi positif Covid-19 sebanyak 4.071 orang dalam satu hari terakhir. Angka ini semakin mengukuhkan tren kasus harian yang semakin menanjak naik.

Penambahan kasus di level 2.000-an orang per hari pertama kali tercatat pada awal Juli lalu. Butuh waktu hampir dua bulan, hingga akhir Agustus untuk menyentuh angka kasus baru 3.000-an orang per haru.

Namun kini, tak sampai sebulan, Indonesia bahkan sudah tiga kali mencatatkan penambahan kasus baru di atas 4.000 orang per hari. Ketiganya dilaporkan pada Sabtu (19/9), Senin (21/9), dan Selasa (22/9). Jeda yang terjadi pada Ahad (20/9) pun sebenarnya mencatatkan kasus baru nyaris 4.000 orang, yakni 3.989 kasus dalam sehari.

Dari penambahan kasus hari ini DKI Jakarta tetap menyumbangkan angka tertinggi yakni 1.236 kasus baru. Menyusul kemudian Jawa Barat dengan 575 kasus baru, Jawa Timur dengan 341 kasus, Riau dengan 253 kasus, dan Jawa Tengah dengan 228 kasus baru.

Terus bertambahnya kasus positif Covid-19 di Tanah Air membuat Indonesia bisa berpotensi menjadi salah satu episentrum corona dunia. Epidemiolog UGM, dr. Riris Andono Ahmad, menilai Indonesia akan menjadi episentrum Covid-19 jika tidak segera ada perubahan. Episentrum yang dimaksud sendiri adalah negara tranmisi terbesar.

"Episentrum sebagai istilah negara dengan transmisi terbesar kasus Covid-19 itu bisa jadi. Namun, epsientrum sebagai pusat penularan itu jadi tidak tepat sebab penularan sudah terjadi hampir di semua negara dunia," kata Doni.

Direktur Pusat kedokteran Tropis FKKMK UGM ini menegaskan, pemerintah harus segera mengambil langkah cepat lakukan penghentian atau pembatasan mobilitas penduduk. Sehingga, Indonesia tidak jadi negara transmisi Covid-19 terbesar.

Pembatasan mobilitas penduduk ini sangat penting karena pergerakan orang menjadi faktor penyebar Covid-19. Dengan adanya pembatasan mobilitas ini, diharapkan dapat menekan penularan agar tidak meluas di Tanah Air.

"Mobilitas penduduk harus segera dihentikan, kalau tidak dihentikan kasus akan terus meningkat," ujar Doni.

Bila situasi telah terkendali, lanjut Doni, pembatasan mobilitas sosial bisa kembali dilonggarkan. Namun, ia menekankan, jika nantinya dijumpai penularan Covid-19 kembali meluas, mobilitas penduduk lagi-lagi harus segera dibatasi.

"Ada saatnya kencangkan social distancing dan ada saatnya longgarkan social distancing," kata Doni.

photo
Ventilasi Durasi Jarak - (Republika)




Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA