Saturday, 7 Rabiul Awwal 1442 / 24 October 2020

Saturday, 7 Rabiul Awwal 1442 / 24 October 2020

Sri Mulyani Turunkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Tahun Ini

Selasa 22 Sep 2020 12:24 WIB

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Nidia Zuraya

Pertumbuhan ekonomi (ilustrasi)

Pertumbuhan ekonomi (ilustrasi)

Foto: Republika.co.id
Penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi dikarenakan meningkatnya kasus Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) merevisi proyeksi ekonomi tahun ini menjadi minus 1,7 persen sampai minus 0,6 persen. Prediksi ini lebih buruk dibandingkan proyeksi sebelumnya, di mana pemerintah memperkirakan ekonomi 2020 tumbuh negatif 1,1 persen hingga positif 0,2 persen.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, dengan proyeksi terbaru, pertumbuhan di zona negatif kemungkinan besar terjadi pada dua kuartal berikutnya. "Mungkin juga masih berlangsung sampai kuartal keempat yang kita upayakan bisa mendekati nol atau positif," tuturnya, dalam konferensi pers Kinerja APBN secara virtual, Selasa (22/9).

Sri mengatakan, penurunan outlook pertumbuhan Indonesia pada 2020 antara lain disebabkan kasus Covid-19 yang masih tereskalasi. Dampaknya, kegiatan ekonomi di berbagai sektor ikut melambat yang berdampak pada pertumbuhan secara makro.

Dari beberapa indikator, Sri menyebutkan, kontraksi pada konsumsi rumah tangga, ekspor dan investasi menjadi faktor utama pertumbuhan ekonomi tahun ini sulit keluar dari zona negatif.

Konsumsi rumah tangga diperkirakan tumbuh negatif 2,1 persen hingga minus satu persen. Sementara itu, investasi juga masih dalam posisi berat yakni diperkirakan tumbuh minus 5,6 persen sampai minus 4,4 persen.

Kinerja ekspor yang masih negatif pada September juga diperkirakan mengalami kontraksi sepanjang tahun. "Kontraksinya antara sembilan persen hingga 5,5 persen," ucapnya.

Sebelumnya, Organisasi untuk Kerjasama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) juga melakukan perubahan terhadap proyeksi ekonomi Indonesia. Dalam outlook terbarunya yang dirilis September, OECD memperkirakan Indonesia tumbuh negatif 3,3 persen, dari sebelumnya minus 3,9 persen hingga minus 2,8 persen.

Di sisi lain, institusi multilateral lain belum menunjukkan revisi proyeksi. Bank Pembangunan Asia (ADB) masih memproyeksikan, ekonomi Indonesia tumbuh negatif satu persen dalam laporan terbarunya. Survei Bloomberg menunjukkan, median pertumbuhan ekonomi Indonesia 2020 juga berada di minus satu persen.

Sementara itu, Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia masih memproyeksikan berdasarkan outlook Juni, yaitu masing-masing minus 0,3 persen dan nol persen.

Pada 2021, Sri mengatakan, pemerintah masih menggunakan proyeksi sesuai dengan Rancangan Undang-Undang APBN 2021, yakni 4,5 hingga 5,5 persen. Untuk institusi lain, rata-rata berkisar antara lima hingga enam persen.

Misalnya, OECD dan ADB di kisaran 5,3 persen, Bloomberg median view di 5,4 persen. Sementara itu, IMF pada level 6,1 persen dan Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan 4,8 persen pada ekonomi Indonesia tahun depan.

Tapi, Sri mengatakan, realisasi dari proyeksi tersebut kembali pada penanganan Covid-19. "Forecast ini subject to perkembangan Covid-19 dan bagaimana ini mempengaruhi aktivitas ekonomi," katanya.


BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA