Saturday, 7 Rabiul Awwal 1442 / 24 October 2020

Saturday, 7 Rabiul Awwal 1442 / 24 October 2020

Misteri Kematian Ratusan Gajah di Botswana Terpecahkan

Selasa 22 Sep 2020 11:45 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Dwi Murdaningsih

 Foto udara dari bangkai salah satu dari sekitar 350 gajah yang telah ditemukan mati karena alasan yang tidak diketahui di daerah Delta Okavango, dekat kota Maun, Botswana utara, 03 Juli 2020. Jumlah gajah tewas yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk pachyderms tidak muncul terkait dengan perburuan, karena taring gading masih melekat pada gajah. Pihak berwenang sedang melakukan berbagai tes untuk menentukan penyebab kematian.

Foto udara dari bangkai salah satu dari sekitar 350 gajah yang telah ditemukan mati karena alasan yang tidak diketahui di daerah Delta Okavango, dekat kota Maun, Botswana utara, 03 Juli 2020. Jumlah gajah tewas yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk pachyderms tidak muncul terkait dengan perburuan, karena taring gading masih melekat pada gajah. Pihak berwenang sedang melakukan berbagai tes untuk menentukan penyebab kematian.

Foto: EPA-EFE/STR
Gajah yang mati di Botswana diduga karena keracunan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kematian mendadak sekitar 330 gajah di wilayah barat laut Botswana pada awal tahun ini diduga terjadi karena kontaminasi air beracun. Hal ini diumumkan oleh pemerintah negara itu pada Senin (22/9).

Dilansir CBC, air beracun yang diminum ratusan gajah tercemar oleh mekarnya racun cyanobacterium, ganggang biru-hijau di wilayah barat laut Botswana, tepatnya di Seronga, dekat dengan Delta Okavango. Gajah dilaporkan mengalami kelainan saraf yang tidak dapat dijeskan setelah wadah air mengering.

Cyril Taolo, direktur Departemen Margasatwa dan Taman Nasional mengatakan tidak ada spesies satwa liar lain yang terpengaruh oleh air beracun di daerah Seronga tersebut. Bahkan, termasuk pemakan bangkai gajah, seperti hyena dan burung nasar, yang mengamati memakan bangkai gajah tidak menunjukkan tanda-tanda penyakit.

"Karakteristik peristiwa kematian dan temuan lapangan, klinis, postmortem, histopatologi, dan laboratorium menunjukkan gajah mati karena neurotoksik cyanobacterium (alga biru-hijau) toksikosis yang terkait dengan mekarnya racun cyanobacterium dalam wadan air musiman di wilayah tersebut," ujar Taolo.

Dengan perkiraan 130.000 gajah, Botswana memiliki populasi pachyderms terbesar di dunia yang selama ini menarik bagi wisatawan internasional. Setelah kematian misterius gajah di daerah Seronga, pemerintah negara itu melakukan tes ekstensif untuk menentukan penyebab kematian tersebut.

Pemeriksaan ini meliabtkan gajah jantan maupun betina dari segala usia mati, dengan tanda klinis terbatas pada gejala neurologi. Paolo mengatakan kematian terjadi terutama di dekat panci air musiman dan tidak menyebar ke luar wilayah yang awalnya terkena dampak.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA