Friday, 13 Rabiul Awwal 1442 / 30 October 2020

Friday, 13 Rabiul Awwal 1442 / 30 October 2020

Buah Kesabaran Abu Umamah dalam Dakwah di Jalan Allah

Selasa 22 Sep 2020 10:54 WIB

Rep: Ali Yusuf/ Red: Muhammad Hafil

Buah Kesabaran Abu Umamah dalam Dakwah di Jalan Allah. Foto: Sahabat Nabi (Ilustrasi)

Buah Kesabaran Abu Umamah dalam Dakwah di Jalan Allah. Foto: Sahabat Nabi (Ilustrasi)

Foto: Republika
Abu Umamah ditugaskan Rasulullah berdakwah di kampungnya.

REPUBLIKA.CO.ID, MADINAH--Shudai bin Ajlan adalah sahabat Rasulullah SAW dari suku Bahilah. Setelah masuk Islam, ia kemudian lebih dikenal dengan nama Abu Umamah al-Bahili. Dia banyak meriwayatkan hadits Rasulullah SAW.

Abu Umamah diutus oleh Rasulullah SAW untuk berdakwah di kampung halamannya. Dia bertugas untuk menyeru ajaran tauhid kepada kaumnya, orang-orang yang masih mempunyai hubungan kekerabatan dengan dirinya.

Abu Umamah pun melaksanakan perintah Rasulullah SAW. Dia pulang ke daerah asalnya. Ketika sampai di kampungnya, Abu Umamah dalam keadaan haus dan lapar. Saat itu, orang-orang tengah bersantap makan siang. Namun, yang dimakan oleh mereka dalam makanan yang terbuat dari darah.

"Kemarilah, makan bersama kami," ajaknya kepada Abu Umamah seperti diceritakan Aan Wulandari dalam buku Kisah Istimewa Asmaul Husna.

Ketika itu, orang-orang mempersilakan Abu Umamah untuk menikmati hidangan. Namun, Abu Umamah menolak dan berkata bahwa dia datang untuk mengajarkan tauhid dan syariat Islam salah satunya adalah tidak boleh memakan makanan dari darah.

"Tentu saja, orang-orang tidak suka mendengarnya. Mereka marah karena Abu Umamah telah meninggalkan agama nenek moyang," katanya.

Ketika Abu umamah meminta sedikit air karena tenggorokannya yang sangat kering, orang-orang yang tidak mau membelinya. "Tidak kami akan membiarkan engkau mati kehausan," ucap mereka.

"Abu Umamahpun meninggalkan orang-orang ini dalam keadaan haus dan lapar. Hatinya sangat sedih atas perlakuan kaumnya," kata Aan Wulandari.

Ketika itu cuaca sangat panas, di sebuah tempat, Abu Umamah beristirahat, ia menutup kain ke kepalanya, lalu tertidur. Saat tidur, Abu umamah bermimpi diberi minum susu. Dia pun menerimanya dengan senang dan meminumnya sampai puas, hingga hilang rasa lapar dan dahaganya.

"Belum pernah Abu Umamah minum susu lezat ini," katanya.

Saat itu kaum Bahilah menyesal telah memperlakukan Abu Umamah dengan kasar, bagaimanapun, Abu Umamah adalah saudara mereka bahkan, putra orang terhormat di kalangan mereka. Orang-orang mencari Abu Umama sambil membawa makanan dan minuman.

Ketika bertemu dengan Abu Umamah mereka kaget melihatnya Abu Umamah terlihat segar bugar. Dia berkata sudah tak membutuhkan makanan dan minuman lagi, diperlihatkan perutnya yang penuh.  

"Allah SWT telah memberinya makan dan minuman dari arah yang tak disangka-sangka," katanya.

Alhamdulillah, mendengar dan melihat bukti nyata ini suku Bahilah percaya pada dakwah yang disampaikan oleh Abu Umamah mereka beriman pada Allah dan Rasul-Nya.

Aan Wulandari menuturkan, kisah ini dikaitkan dengan Asmaul Husna Adh-Dhaarru (Pemberi Kesukaran) dan An Naafi'u ( Maha Pemberi manfaat).  Jika Allah sudah berkehendak memberikan kemudahan tidak ada yang bisa menghalanginya.

Allah SWT berfirman dalam surat Al-fath ayat 11 yang artinya "... Maka siapakah yang dapat menghalangi kehendak Allah jika Dia menghendaki bencana terhadap kamu atau jika dia menghendaki keuntungan bagimu."

Makna dari ayat tersebut Allah menimpakan kesukaran dan memberi manfaat kepada siapa saja yang dikehendaki. Allah memberi Hidayah kepada orang-orang yang dikehendaki, adapun orang lain dibiarkan dalam kesesatan. Tak ada orang yang bisa menghalangi kehendak-Nya.
 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA