Wednesday, 4 Rabiul Awwal 1442 / 21 October 2020

Wednesday, 4 Rabiul Awwal 1442 / 21 October 2020

Selandia Baru akan Longgarkan Pembatasan

Senin 21 Sep 2020 13:57 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Christiyaningsih

 Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern. PM Jacinda Ardern mengatakan semua pembatasan akan dicabut di seluruh negeri. Ilustrasi.

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern. PM Jacinda Ardern mengatakan semua pembatasan akan dicabut di seluruh negeri. Ilustrasi.

Foto: EPA
PM Jacinda Ardern mengatakan semua pembatasan akan dicabut di seluruh negeri

REPUBLIKA.CO.ID, WELLINGTON - Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern mengatakan pembatasan terkait pandemi Covid-19 di kota terbesar Auckland akan dilonggarkan. Ardern juga mengatakan semua pembatasan akan dicabut di seluruh negeri.

"Auckland akan bergerak ke level siaga dua mulai Kamis," ujar Ardern, Senin (21/9). Level dua menandai bahwa akan membatasi pertemuan hingga 100 orang.

Ardern mengatakan sisa kota-kota di seluruh negara akan pindah pada level 1 atau tahap terendah dalam aturan pembatasan Covid-19 mulai tengah malam Senin (21/9). Seperti dilansir laman Channel News Asia, sepekan lalu Ardern mengatakan bahwa pembatasan di seluruh negeri akan dicabut pada 21 September, kecuali di Auckland yang merupakan pusat gelombang kedua infeksi virus corona.

Ardern menegaskan masker akan tetap wajib dikenakan di semua angkutan umum. Dia juga menyatakan pemerintah akan segera meringankan semua persyaratan jarak fisik di pesawat. Ini adalah kelonggaran bagi Air New Zealand yang harus membatasi penumpang di pesawatnya selama berbulan-bulan.

"Saya tahu perubahan ini akan membuat perbedaan nyata bagi Air New Zealand dan bagian negara yang ingin meningkatkan jumlah pengunjung," kata Ardern dalam konferensi pers.

Rabu lalu, Air New Zealand mengatakan pihaknya bertujuan untuk memangkas hingga 385 pekerjaan awak kabin lagi karena kurangnya penerbangan internasional jarak jauh. Hal itu akan membuat kehilangan pekerjaan terkait Covid-19 menjadi sekitar 37 persen dari angkatan kerjanya.

Maskapai tersebut mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pihaknya akan membutuhkan lebih sedikit awak kabin karena penurunan permintaan pada rute Amerika Utara. Kondisi ini telah membuat maskapai mengurangi penerbangan pulang pergi ke Los Angeles menjadi tiga kali sepekan dari setiap hari dan mengubah penerbangan San Francisco menjadi hanya penerbangan kargo.

"Di masa mendatang, kami memiliki sekitar 385 lebih banyak awak kabin berbadan lebar dalam bisnis ini daripada yang kami miliki," kata seorang juru bicara maskapai penerbangan.

"Setiap keputusan yang kami buat akan dibuat melalui konsultasi dengan orang-orang kami dan serikat pekerja, dengan pemutusan hubungan kerja sebagai upaya terakhir," ujar pernyataan maskapai tersebut menambahkan.

Australia juga berupaya meringankan pembatasan karantina bagi pelancong yang kembali dari Selandia Baru yang secara efektif membasmi virus. Mereka disinyalir menyumbang 15 persen dari pengembalian, untuk membebaskan hotel bagi pelancong lain.

Selandia Baru, negara berpenduduk lima juta, tampaknya telah berhasil menghentikan penularan komunitas Covid-19. Namun wabah baru di Auckland pada Agustus mendorong pemerintah untuk mengembalikan kota itu ke dalam isolasi.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA