Saturday, 7 Rabiul Awwal 1442 / 24 October 2020

Saturday, 7 Rabiul Awwal 1442 / 24 October 2020

4 Tempat Mirip Bumi yang Memungkinkan Adanya Kehidupan

Senin 21 Sep 2020 13:32 WIB

Rep: zainur mahsir ramadhan/ Red: Dwi Murdaningsih

Titan, bulan di Planet Saturnus atau kedua terbesar di Tata Surya.

Titan, bulan di Planet Saturnus atau kedua terbesar di Tata Surya.

Foto: nasa
Ilmuwan terus mencari bukti-bukti adanya kehidupan di luar Bumi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ilmuwan terus mencari tanda-tanda kehidupan di tempat lain selain Bumi. Sebagai tempat tinggal manusia, Bumi memiliki sumber dari hal yang diperlukan bagi kehidupan. Salah satunya adalah air, sumber energi dan inventaris yang berguna secara biologi.

Mengutip Inverse, Senin (21/9) baru-baru ini ada  penemuan baru yang memungkinkan fosfin biogenik di awan Venus. Di Bumi, fosfin berkaitan dengan bakteri atau kehidupan. Ilmuwan tidak mengklaim telah menemukan tanda kehidupan di Venus, namun temuan fosfin adalah hal menarik yang bisa mendorong penelitian lebih jauh.

Berikut ini, empat tempat di Tata Surya yang paling memungkinkan adanya kehidupan, dilihat dari karakteristiknya dibandingkan dengan Bumi:

Mars

Baca Juga

Sebagai lokasi yang paling mirip dengan Bumi, Mars juga memiliki waktu serupa, sekitar 24,5 jam. Bahkan, lapisan es kutub yang berkontraksi dengan permukaan, juga dibentuk oleh air.

Tak hanya itu, danau di bawah lapisan es kutub selatan juga terdeteksi. Selain, dari adanya metana di atmosfer Mars, yang menjadikan Mars sebagai kandidat baik bagi kehidupan.

Pada dasarnya metana memang penting, karena dapat diproduksi melalui proses biologis. Namun, sumber sebenarnya dari metana di Mars belum diketahui.

Sebagai informasi, saat ini Mars memiliki atmosfer yang sangat tipis dan kering yang hampir seluruhnya terdiri dari karbon dioksida. Tetapi, Jika Mars berhasil mempertahankan sebagian cadangan air di bawah permukaannya, bukan tidak mungkin kehidupan masih ada.

Europa
Lokasi selanjutnya adalah salah satu satelit Jupiter yang ditemukan Galileo Galilei pada 1610 silam. Ukuran Europa memang terbilang lebih kecil dari pada bulan Bumi. Terlebih, gas raksasa yang berukuran 670 ribu km itu mengorbit setiap 3,5 hari.

Dilihat dari permukaan, Europa merupakan hamparan es air yang sangat luas. Banyak ilmuwan berpikir bahwa di bawah permukaan yang membeku adalah lapisan air cair - lautan global - yang terhalang dari pembekuan oleh panas yang melentur dan kedalamannya dimungkinkan lebih dari 100 km.

Perisai es itu, diketahui melindungi lautan di bawah permukaan dari ruang angkasa yang sangat dingin dan vakum, serta sabuk radiasi Jupiter yang ganas.

Enceladus
Seperti Europa, Enceladus juga merupakan bulan yang tertutup es dengan lautan air cair di bawah permukaan. Enceladus mengorbit Saturnus. Enceladus pertama kali menjadi perhatian para ilmuwan sebagai dunia yang berpotensi dihuni, setelah penemuan geyser besar di dekat kutub selatan.

Semburan air ini keluar dari retakan besar di permukaan. Dan mengingat medan gravitasi Enceladus yang lemah serta menyembur ke luar angkasa. Itu adalah bukti nyata dari penyimpanan bawah tanah.

Titan
Bulan terbesar di Saturnus ini juga diketahui sebagai bulan di tata surya dengan atmosfer yang cukup besar. Di Titan, atmosfer berisi kabut oranye tebal dari molekul organik kompleks dan sistem cuaca metana sebagai pengganti air - lengkap dengan periode kering.

Atmosfer di Titan, sebagian besar terdiri dari nitrogen, unsur kimia penting yang digunakan dalam pembentukan protein di semua bentuk kehidupan.

Namun demikian, jarak yang sangat jauh dari Matahari membuat suhu permukaan Titan sekitar -180˚C, suhu ekstrim yang dingin. Tetapi, tetap saja, bahan kimia melimpah yang tersedia di Titan, menimbulkan spekulasi jika makhluk hidup bisa ada dan berpotensi hidup dengan kimiawi yang berbeda secara fundamental.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA