Senin 21 Sep 2020 12:25 WIB

PM Suga dan Trump Lakukan Panggilan Telepon Pertama

Suga melakukan pembicaraan melalui telepon dengan Trump pada Ahad (20/9) pagi

Rep: Rizky Jaramaya/Fergi Nadira/ Red: Christiyaningsih
 Perdana Menteri Baru Jepang Yoshihide Suga berbicara dalam konferensi pers menyusul pengukuhannya sebagai perdana menteri Jepang di Tokyo, Jepang, 16 September 2020. Suga mengambil alih kepemimpinan Partai Demokrat Liberal yang berkuasa setelah pengunduran diri mantan perdana menteri yang sudah lama menjabat, Shinzo Abe , akhir bulan lalu atas dasar kesehatan dan, setelah konfirmasi parlemen pada 16 September, diumumkan perdana menteri.
Foto: EPA-EFE/CARL COURT / POOL
Perdana Menteri Baru Jepang Yoshihide Suga berbicara dalam konferensi pers menyusul pengukuhannya sebagai perdana menteri Jepang di Tokyo, Jepang, 16 September 2020. Suga mengambil alih kepemimpinan Partai Demokrat Liberal yang berkuasa setelah pengunduran diri mantan perdana menteri yang sudah lama menjabat, Shinzo Abe , akhir bulan lalu atas dasar kesehatan dan, setelah konfirmasi parlemen pada 16 September, diumumkan perdana menteri.

REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO - Yoshihide Suga resmi menjadi perdana menteri Jepang menggantikan Shinzo Abe dalam pemilihan Diet, majelis rendah Jepang, Rabu pekan lalu. Suga melakukan pembicaraan melalui telepon dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Ahad (20/9) pagi. Ini adalah panggilan telepon pertama Suga sejak dia terpilih menjadi perdana menteri.

Suga dan Trump sepakat untuk lebih memperkuat aliansi keamanan Jepang-AS. Suga mengatakan dia berbicara kepada pemimpin AS bahwa aliansi tersebut adalah landasan perdamaian dan stabilitas di kawasan.

Baca Juga

"Trump mengatakan aliansi itu harus diperkuat lebih jauh dan saya dipersilakan untuk memanggilnya 24 jam sehari," ujar Suga kepada wartawan setelah pembicaraan dengan Trump, dikutip laman Japan Times, Senin.

Keduanya juga membahas situasi seputar Korea Utara dan tanggapan terhadap pandemi Covid-19 selama percakapan selama 25 menit. Suga meminta Trump untuk terus mendukung AS dalam mendorong kembalinya warga negara Jepang yang diculik oleh agen Korea Utara pada 1970-an dan 1980-an.

Para pemimpin sepakat kedua sekutu akan bekerja sama dalam pengembangan dan distribusi vaksin dan pengobatan untuk Covid-19. Mereka juga membahas pentingnya mengejar visi bersama mereka tentang "Indo-Pasifik yang Bebas dan Terbuka" dan setuju untuk bekerja sama untuk memperkuat ekonomi global.

Trump dan Suga secara singkat bertukar pandangan mereka tentang China. Suga menghadapi tindakan penyeimbangan yang rumit dalam menjaga hubungan Jepang dengan AS dan China. Terlebih, hubungan AS dan China semakin renggang dan terlibat dalam konfrontasi yang berkembang.

Sebelumnya pada hari itu, Suga melakukan percakapan telepon dengan pemimpin Australia Scott Morrison, kepala pemerintahan pertama yang ia ajak bicara sejak pelantikannya. Setelah berbicara dengan Trump, Suga mengatakan dia bersedia melakukan pembicaraan telepon dengan para pemimpin dunia lainnya. Namun, dia tidak merinci siapa saja pemimpin negara lain dengan detail.

Abe, perdana menteri terlama Jepang yang masa jabatan keduanya dimulai pada akhir 2012, diketahui telah membentuk salah satu hubungan terdekat dengan Trump di antara para pemimpin dunia. Keduanya bermain golf bersama pada beberapa kesempatan dan presiden AS mengundang Abe ke perkebunan Mar-a-Lago di Florida dua kali yakni pada 2017 dan 2018.

Suga, tangan kanan Abe sebagai kepala sekretaris kabinet pada masa itu, dipandang sebagai politikus yang cerdas di bidang domestik. Namun Suga dianggap tidak berpengalaman dalam urusan diplomatik.

"Selamat, Perdana Menteri Yoshihide Suga. Anda memiliki kisah hidup yang luar biasa! Saya tahu Anda akan melakukan pekerjaan yang luar biasa untuk Jepang dan dunia. Nantikan untuk berbicara segera!" kata Trump melalui Twitter terverifikasinya Kamis pekan lalu.

Di antara tantangan yang dihadapi Suga termasuk klaim Trump bahwa Jepang tidak cukup berkontribusi untuk aliansi, di mana pasukan AS berkewajiban melindungi negara dari serangan bersenjata. Setelah pemilihan presiden November, Jepang diperkirakan akan menghadapi tekanan yang meningkat untuk berbagi lebih banyak biaya pemeliharaan pangkalan militer AS di seluruh negeri.

sumber : Reuters/Japan Times
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement