Thursday, 12 Rabiul Awwal 1442 / 29 October 2020

Thursday, 12 Rabiul Awwal 1442 / 29 October 2020

CDC Kembali Ubah Panduan, OTG Perlu Dites Covid-19

Senin 21 Sep 2020 10:10 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Reiny Dwinanda

Tes usap atau swab test Covid-19. CDC AS kini mensyaratkan agar orang tanpa gejala Covid-19 tetap menjalani tes.

Tes usap atau swab test Covid-19. CDC AS kini mensyaratkan agar orang tanpa gejala Covid-19 tetap menjalani tes.

Foto: FB Anggoro/ANTARA
Keputusan terdahulu CDC soal OTG tak perlu dites Covid-19 dituding bermotif politik.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat kembali mengubah panduan mengenai pengetesan Covid-19. Berdasarkan panduan terbaru Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit itu, orang-orang tanpa gejala (OTG) atau asimtomatik tetap perlu mendapatkan tes Covid-19.

"Mengingat signifikansi transimi asimtomatik dan pra gejala, panduan ini memperluas penguatan kebutuhan untuk mengetes orang-orang tanpa gejala (OTG), termasuk yang berkontak dekat dengan orang terkonfirmasi infeksi SAR-CoV-2," tutur CDC dalam panduan terbaru, seperti dilansir Fox News.

Kontak dekat yang dimaksud dalam panduan ini adalah orang-orang yang selama minimal 15 menit berada dalam radius dua meter dari orang terkonfirmasi Covid-19. Meskipun hasil pengetesan negatif, orang-orang yang melakukan kontak dekat tetap harus melakukan isolasi mandiri selama dua pekan.

"Karena satu kali hasi negatif tidak berarti Anda akan tetap negatif setelah tes tersebut," kata CDC.

Ini merupakan kali kedua CDC mengubah panduan terkait aturan pengetesan Covid-19. Pada 26 Agustus, CDC memicu kontroversi dengan mengubah panduan dan menyatakan bahwa OTG tak perlu dites Covid-19, meski mereka berkontak dekat dengan pasien terkonfirmasi Covid-19.

Perubahan kedua ini kembali sejalan dengan panduan sebelum ada perubahan. CDC menyatakan panduan dan rekomendasi dibuat berdasarkan semua hal yang diketahui tentang Covid-19 saat ini. Mengingat Covid-19 merupakan penyakit baru, panduan dan rekomendasi bisa berubah sewaktu-waktu bila ada informasi tambahan yang tersedia.

Beberapa anggota parlemen AS menilai perubahan pertama yang terjadi pada 26 Agustus terjadi karena ada desakan dari pihak pemerintah AS yang dipimpin Donald Trump. Gubernur New York Andrew Cuomo juga menyatakan bahwa perubahan pertama tersebut didasarkan pada politik, bukan sains.

CDC juga menyatakan bahwa perubahan pertama tidak dibuat oleh ilmuwan CDC. The New York Times mengungkapkan bahwa perubahan panduan pertama pada 26 Agustus dibuat oleh pejabat di Departeman Kesehatan dan Pelayanan Kemanusiaan.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA