Monday, 9 Rabiul Awwal 1442 / 26 October 2020

Monday, 9 Rabiul Awwal 1442 / 26 October 2020

IDI: Pakai Scuba dan Buff Sama Seperti tak Pakai Masker

Ahad 20 Sep 2020 17:39 WIB

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Ratna Puspita

Masker scuba. Anggota Bidang Protokol Tim Mitigasi Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Eka Ginanjar mengatakan mengenakan masker scuba dan buff sama seperti tidak mengenakan masker yang seharusnya berfungsi melindungi pernafasan dari droplet dan mikrodroplet.

Masker scuba. Anggota Bidang Protokol Tim Mitigasi Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Eka Ginanjar mengatakan mengenakan masker scuba dan buff sama seperti tidak mengenakan masker yang seharusnya berfungsi melindungi pernafasan dari droplet dan mikrodroplet.

Foto: Wihdan Hidayat / Republika
Masker kain harus penuhi dua unsur, yakni jenis pori-porinya dan menempel di kulit.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Anggota Bidang Protokol Tim Mitigasi Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Eka Ginanjar mengatakan, mengenakan masker scuba dan buff sama seperti tidak mengenakan masker yang seharusnya berfungsi melindungi pernapasan dari droplet dan mikrodroplet. Jenis bahan yang berpori besar membuat pemakaiannya tidak efektif melindungi diri dari penularan virus corona SARS-CoV2 (Covid-19). 

"Perlindungan buff dan scuba hanya 5 persen, jadi kasarnya ya sama seperti tidak memakai masker," kata dia saat dihubungi Republika.co.id, Ahad (20/9).

Eka mengatakan, masker kain harus memenuhi dua unsur, yakni jenis pori-porinya dan bisa menempel di kulit. Scuba dan buff tidak memenuhi unsur-unsur tersebut sehingga perlindungannya sangat tidak diefektif ketika dikenakan.

Baca Juga

Eka menerangkan, bahan scuba fleksibel dan elastis sehingga rongga kainnya membesar ketika ditarik. Sementara Buff, dia melanjutkan, memiliki pori-pori besar, dan terbuat dari jenis kain yang tidak bisa menempel di muka sehingga udara masih memungkinkan keluar masuk lewat celah itu. 

Ia mengatakan, memakai masker kain yang baik adalah yang terdiri dari tiga lapisan dan bahan utamanya adalah katun. "Kalau pakai masker kain yang ideal tiga lapis saja perlindungannya bisa 70 sampai 80 persen," katanya.

Ia menyebutkan, lapisan pertama atau terluar adalah katun anti air yang tidak menyerap air untuk menahan cipratan droplet dari luar. Kemudian, lapisan kedua atau bagian tengah adalah katun yang bisa menapis. 

Terakhir adalah lapisan ketiga yang terdiri dari katun yang menyerap air karena bisa menyerap cipratan droplet pemakainya. Ia menambahkan, sebenarnya masyarakat bisa membuat sendiri masker ini atau meski hanya dua lapis kemudian dimodifikasi dengan tisu. 

"Ini masker ideal ya. Tetapi masyarakat memodifikasinya dengan macam-macam, misalnya memakai kain katun motif batik tetapi hanya satu lapis atau scuba atau buff. Padahal itu tidak efektif," katanya 

Sebab, ia menambahkan, ada syarat yang harus dipenuhi, yaitu pertama jenis kain dan kedua bisa menempel di wajah. Tetapi faktanya, dia melanjutkan, seringkali masker kain ini terlihat tembus pandang karena pori-porinya terlalu besar. 

Selain memakai masker dengan benar, ia meminta masyarakat juga menerapkan protokol kesehatan lainnya yaitu menjaga jarak dan mencuci tangan dengan sabun. "Semua harus dijalankan seiring sejalan karena masker hanya salah satu dari protokol kesehatan 3M," katanya. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA