Saturday, 20 Rabiul Akhir 1442 / 05 December 2020

Saturday, 20 Rabiul Akhir 1442 / 05 December 2020

Pengamat: Pesantren Terus Mengalami Evolusi

Sabtu 19 Sep 2020 16:47 WIB

Red: Irwan Kelana

Pantia melakukan persiapan pembangunan Pondok Pesantren Tahfidz  Muhammadiyah Ngaliyan di Desa Wonorejo, Wates, Ngaliyan, Semarang, Sabtu (19/9). Di tanah wakaf seluas 800 meter persegi ini para santri akan dididik menjadi para ahli agama khususnya penghafal Quran.

Pantia melakukan persiapan pembangunan Pondok Pesantren Tahfidz Muhammadiyah Ngaliyan di Desa Wonorejo, Wates, Ngaliyan, Semarang, Sabtu (19/9). Di tanah wakaf seluas 800 meter persegi ini para santri akan dididik menjadi para ahli agama khususnya penghafal Quran.

Foto: Dok Muhammadiyah
Muhammadiyah dan Persis  kini makin giat kembangkan pesantren.

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Perkembangan pesantren di Indonesia terus menggeliat. Pesantren yang biasanya lekat dengan kalangan Nadhliyin, saat ini juga bahkan mulai dikembangkan oleh ormas Muhammadiyah yang sebelumnya banyak bergerak di pendidikan formal umum.

Menanggapi hal ini, Dr Ahwan Fanani  MAg, pengamat sosial budaya dari Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo, mengatakan, pendidikan model  pesantren ini sudah menjadi bagian dari khasanah pendidikan Islam di Indonesia sejak dulu.

“Model pendidikan pesantren ini sudah ada jauh sebelum republik ini berdiri. Bahkan jauh sebelum ormas-ormas Islam lahir,” terang Ahwan, dalam keterangan persnya di sela-sela persiapan pembangunan Pondok Pesantren Tahfidz  Muhammadiyah, di Desa Wonorejo, Wates, Ngaliyan, Semarang, Sabtu (19/9).

Berkembangnya pesantren di Indonesia dari masa ke masa, menurut Ahwan,  tidak lepas dari cara pandang masyarakat mengenai belajar. Belajar zaman dulu disebut "mbeguru" atau berguru.

“Berguru sebenarnya fenomena umum karena dalam sistem pendidikan klasik kunci pendidikan adalah guru. Dalam tradisi Islam, China maupun India, sentra pendidikan ada pada sosok guru sehingga orang belajar dengan mencari guru seraya melayani guru. Inilah yang kemudian menjadi ciri khas pesantren tradisional,”  jelas Ahwan yang juga merupakan .ketua pelaksana pembangunan Pondok Pesantren Tahfidz  Muhammadiyah tersebut.

Pesantren sendiri, kata Ahwan, terus mengalami evolusi. Awalnya, banyak pesantren berkembang dari pengajaran di masjid. Karena banyaknya pelajar dari jauh maka dbuatkanlah tempat tinggal bagi santri.

“Namun sejalan dengan perkembangan zaman pesantren juga terus menyesuaikan diri. Sehingga muncul pesantren salaf, pesantren semi modern dan pesantren modern yang menyediakan pendidikan formal hingga jenjang dasar sampai perguruan tinggi,” ujarnya.

Pesantren Muhammadiyah

Fenomena menarik saat ini, kata Ahwan, adalah terjadinya passing over, dalam dunia pendidikan Islam. Organisasi pembaharu semacam Muhammadiyah dan Persis yang sebelumnya  menekankan pendidikan sekolah umum juga mengembangkan pendidikan agama yang lebih fokus sebagaimana pesantren.

Sebaliknya, ormas seperti NU, Mathlaul Anwar, Nahdlatul Wathan, dan Perti yang dulunya fokus pada pesantren secara berangsur juga mengadopsi sistem sekolah.

“Ini perkembangan yang bagus sekali. Masing-masing ormas berkembang saling melengkapi dan memajukan khasanah pendidikan Islam di negeri ini,” ujar Ahwan.

Pesantren atau pondok di Muhammadiyah sendiri, kata Wakil Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jateng ini,  masih dalam tahap perkembangan dan mencari bentuk. Pesantren dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan warga akan ahli agama.

“Semakin banyak madrasah dan masjid yang dikelola Muhammadiyah tetapi SDM ahli agama semakin berkurang. Kondisi itu menjadi keprihatinan tersendiri,” ungkapnya.

Menurutnya, sekarang spesialisasi semakin dituntut termasuk spesialisasi pendidikan agama. “Perkembangan pesantren di Muhammadiyah sejalan dengan upaya spesialisasi atau takhashus dalam kajian agama,” tuturnya.

Pembangunan Pondok Pesantren Tahfidz  Muhammadiyah Ngaliyan sendiri berdiri di atas tanah wakaf seluas 800 meter persegi. Di pondok khusus putera ini,para santri akan dididik menjadi para ahli agama khususnya penghafal Quran. Pondok juga akan membuka madrasah diniyah di siang dan sore hari untuk anak-anak warga sekitar.

Ketua PCM Ngaliyan M Anas Hamzah mengatakan pembangunan pondok secara resmi akan dimulai besok,  Ahad.  “Peletakan batu pertama akan dilakukan besok Ahad (20/9) pagi oleh Wali Kota Semarang, Hendi Prihardi. Akan dihadiri pula oleh Ketua DPRD Kadarlusman dan unsur Muspika setempat serta pihak terkait,” katanya.

Ia mengemukakan, bangunan pondok sendiri akan dibangun dua lantai. Dana yang dibutuhkan mencapai Rp 2,8 miliar. “Kami  mengetuk hati para donatur untuk bisa menyisihkan rezekinya dalam pembangunan pencetak santri penghafal Quran ini,” kata Anas Hamzah.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA