Saturday, 14 Rabiul Awwal 1442 / 31 October 2020

Saturday, 14 Rabiul Awwal 1442 / 31 October 2020

Dubes AS: China Gagal Menahan Penyebaran Covid di Wuhan

Jumat 18 Sep 2020 17:49 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Teguh Firmansyah

Dokter menggunakan pulse oxymeter untuk memeriksa saturasi oksigen pasien Covid-19  di Wuhan, Provinsi Hubei, China, 13 Februari 2020. Pulse oxymeter boleh saja dimiliki andaikan ada anggota keluarga yang bergejala Covid-19 ringan dan melakukan isolasi mandiri.

Dokter menggunakan pulse oxymeter untuk memeriksa saturasi oksigen pasien Covid-19 di Wuhan, Provinsi Hubei, China, 13 Februari 2020. Pulse oxymeter boleh saja dimiliki andaikan ada anggota keluarga yang bergejala Covid-19 ringan dan melakukan isolasi mandiri.

Foto: EPA
China sejatinya menahan penyebaran virus itu sebelum menyebar ke seluruh dunia.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Duta Besar Amerika Serikat untuk China yang akan mundur bulan depan, Terry Branstad mengecam penanganan awal Beijing terhadap virus Corona, Jumat (18/9). Dia mengatakan bahwa penyebaran Covid-19 di Wuhan seharusnya bisa ditahan. Hanya saja akhirnya menjadi pandemi di seluruh dunia.

Branstad setuju dengan Presiden AS, Donald Trump, bahwa China harus disalahkan atas pandemi tersebut. "Sistem China sedemikian rupa sehingga mereka menutupinya dan bahkan menghukum para dokter yang menunjukkannya di awal," ujarnya dikutip dari CNN.

Mantan gubernur lama Iowa ini juga menyalahkan sistem China yang menyebabkan hubungan menegang dan menurunkan salah satu hubungan bilateral paling penting di Washington. Dia mengatakan bahwa salah satu prioritas Washington adalah meningkatkan timbal balik dan keadilan dalam hubungan China, terutama dalam masalah perdagangan.

Branstad menjelaskan, diplomasi Cina kini semakin agresif. Namun mereka gagal menahan wabah awal virus Corona di Wuhan. "Benar-benar menurut saya sistem komunis Cina, dan keengganan mereka untuk mengakui kesalahan. Itu yang menyebabkan semua ini terjadi. Dan itulah tragedi itu," kata Branstad.

Minat warga internasional untuk bekerja dengan dan mendukung China, menurut Branstad, telah turun secara dramatis, tidak hanya di AS. "Penganiayaan terhadap Uighur, apa yang mereka lakukan di Hong Kong dan Laut China Selatan, mereka telah mengasingkan banyak orang di seluruh dunia," katanya.

Branstad lalu menyebut India yang baru-baru ini juga bersitegang dengan China ihwal sengketa perbatasan di Ladakh. "India, yang telah menjadi negara netral, apa yang telah mereka lakukan terhadap India telah menyebabkan masalah nyata bagi mereka," ujar Branstad.

Branstad pun merujuk kondisi China yang membuat ketegangan dengan negara-negara lain. Dia mencontohkan dengan kasus dua warga Kanada yang ditahan di China sejak 2018 sebagai pembalasan atas penangkapan oleh pejabat eksekutif Huawei, Meng Wanzhou dari Kanada. Kedua orang Kanada itu, menurutnya, telah ditahan tanpa alasan yang tepat dan berharap tidak ada warga AS yang bernasib serupa.

Pernyataan tajam Branstad terhadap China ini terjadi setelah dia mengejutkan publik dengan mengumumkan pengunduran diri dari jabatan diplomatik yang dipegangnya sejak 2017 pada pekan ini. Dia memutuskan untuk kembali ke AS.

"Jika Presiden meminta saya untuk hadir di beberapa acaranya, saya akan melakukannya, seperti yang saya lakukan pada tahun 2016," kata Branstad.  

Kemungkinan kepulangan Branstad berkaitan erat dengan kampanye Trump untuk pemilihan November mendatang. Putra Branstad, Eric, adalah penasihat senior Trump Victory 2020.

Trump mengatakan bahwa Branstad pulang dari China karena dia ingin untuk berkampanye. Tim kampanye percaya, sosoknya dapat berdampak pada pemilih di Iowa, Wisconsin, Missouri, dan bahkan Minnesota.

"Dia masih bermain bagus di Midwest. Dia memiliki pengenalan tinggi dan mungkin orang terbaik untuk membicarakan pengaruh China," kata seorang sumber yang dekat dengan tim kampanye Trump.

Kepergian Branstad bertepatan dengan semakin meningkatnya pertentangan Beijing dan Washington. Pemerintah China mengumumkan pekan lalu akan memberlakukan pembatasan yang tidak ditentukan pada diplomat dan personel senior AS di Cina. Keputusan ini diambil setelah Washington memberlakukan tindakan serupa yang menargetkan anggota diplomatik Beijing pada 3 September.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA