Saturday, 14 Rabiul Awwal 1442 / 31 October 2020

Saturday, 14 Rabiul Awwal 1442 / 31 October 2020

Jokowi: GP Ansor Mampu Menjadi Perekat Perbedaan

Jumat 18 Sep 2020 17:15 WIB

Rep: Dessy Suciati Saputri/ Red: Esthi Maharani

Ketua GP Ansor, Yaqut Cholil Qoumas (kanan)  bersama Sekjen GP Ansor, Abdul Rochman (Kiri)

Ketua GP Ansor, Yaqut Cholil Qoumas (kanan) bersama Sekjen GP Ansor, Abdul Rochman (Kiri)

Foto: Republika/Iman Firmansyah
GP Ansor mampu menjadi perekat berbagai keragaman dan perbedaan yang ada di Indonesia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan Gerakan Pemuda Ansor yang lahir dari organisasi Nahdlatul Ulama dinilai mampu menjadi perekat berbagai keragaman dan perbedaan yang ada di Indonesia. Hal ini disampaikannya saat meresmikan pembukaan konferensi besar XXIII Gerakan Pemuda Ansor melalui video conference, di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Jumat (18/9).

“GP Ansor telah teruji mampu menjadi perekat di tengah keragaman dan perbedaan bahkan kehadiran banser GP Ansor telah ikut memberikan rasa aman bagi semua anak bangsa dalam menjalin tali persaudaraan. Ini saya sampaikan apresiasi dan penghargaan yang tinggi,” ujar Jokowi.

Jokowi mengatakan, GP Ansor yang mewarisi semangat para ulama untuk mencintai Tanah Air ini dibutuhkan kehadirannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal inipun telah dibuktikan GP Ansor melalui kiprahnya selama lebih dari setengah abad.

Menurut dia, peran sejarah GP Ansor juga sangat relevan dengan kondisi negara yang majemuk dan beragam baik suku, agama, dan budaya. Keragaman yang ada di negara ini, kata dia, bukanlah menjadi kelemahan melainkan sebuah kekuatan yang dapat menjadikan bangsa Indonesia semakin maju.

Dalam kehidupan berdemokrasi, lanjut dia, perbedaan dalam kemajemukan merupakan sebuah keniscayaan. Sistem demokrasi di Indonesia pun, kata dia, juga telah memberikan ruang kebebasan untuk menyatakan pendapat.

Sayangnya, kata Jokowi, ruang kebebasan tersebut saat ini justru sering digunakan oleh kalangan tertentu untuk mengklaim dirinya sendiri sebagai pihak yang paling benar dan menyalahkan yang lainnya.

“Lalu merasa berhak memaksakan kehendak karena merasa paling benar,” tambahnya. Karena itu, ia berpesan agar seluruh kader GP Ansor bisa meneladani sikap terpuji para ulama.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA