Thursday, 5 Rabiul Awwal 1442 / 22 October 2020

Thursday, 5 Rabiul Awwal 1442 / 22 October 2020

CDC dan Trump tak Satu Suara Soal Vaksin Covid-19

Kamis 17 Sep 2020 11:16 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Christiyaningsih

Penyuntikan Vaksin (ilustrasi). CDC AS membantah pernyataan Trump soal kesiapan distribusi vaksin Covid-19.

Penyuntikan Vaksin (ilustrasi). CDC AS membantah pernyataan Trump soal kesiapan distribusi vaksin Covid-19.

Foto: AP/VOA
CDC AS membantah pernyataan Trump soal kesiapan distribusi vaksin Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperkirakan setidaknya 100 juta dosis vaksin virus corona dapat didistribusikan pada akhir tahun 2020. Pernyataan Trump bertentangan dengan seorang pejabat tinggi kesehatan pemerintah.

Beberapa jam sebelum Trump membuat pernyataan, Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Robert Redfield mengatakan vaksin Covid-19 dapat diluncurkan secara luas pada pertengahan tahun depan. Redfield mengungkapkan pernyataan tersebut di depan panel Senat AS.

Ketika ditanya soal pernyataan Redfield yang berbeda dengan pernyataan presiden, Trump mengatakan bahwa Redfield telah melakukan kesalahan. Trump mengatakan dia telah menelepon Redfield.

"Tidak, saya pikir dia melakukan kesalahan ketika mengatakan itu. Itu informasi yang salah. Saya yakin dia bingung. Saya pikir mungkin dia hanya salah memahami pertanyaan itu," ujar Trump.

Redfield menyebut vaksin Covid-19 akan tersedia untuk umum pada akhir kuartal kedua atau kuartal ketiga 2021. Vaksin dapat disiapkan pada November atau Desember tahun ini. Redfield menambahkan, dosis pertama diberikan secara terbatas hanya kepada mereka yang paling rentan.  

"Tetapi agar vaksin cukup untuk semua, saya pikir ini akan memakan waktu enam hingga sembilan bulan,” kata Redfield.

Partai Demokrat telah menyatakan keprihatinannya bahwa Trump memberikan tekanan politik pada regulator kesehatan pemerintah dan ilmuwan agar menyetujui percepatan vaksin. Mereka menganggap percepatan vaksin tersebut digunakan sebagai alat politik untuk meningkatkan elektabilitas Trump menjelang pemilihan umum (pemilu) pada 3 November.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA