Friday, 8 Safar 1442 / 25 September 2020

Friday, 8 Safar 1442 / 25 September 2020

Menristek: Ada Korelasi Ekonomi dan Keanekaragaman Hayati

Rabu 16 Sep 2020 23:59 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang Brodjonegoro

Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang Brodjonegoro

Foto: Republika/Abdurrahman Rabbani
Menristek menyebut keanekaragaman hayati harus ada dalam manajemen pembangunan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro menyebut terkadang ada korelasi antara kondisi ekonomi suatu wilayah atau negara dengan kepekaan masyarakat terhadap keberlanjutan keanekaragaman hayati (kehati).

“Dalam negara demokratis seperti Indonesia, memang perlu juga manajemen pemerintahan yang solid. Jika birokrasi berganti, harus bisa dipastikan keanekaragaman hayati tetap ada di dalam manajemen pembangunan,” kata Bambang dalam seminar internasional virtual Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tentang Biodiversitas Indonesia "Mainstreaming Biodiversity Conservation, Bioprospection, and Bioeconomy for Sustainable Livelihood" di Jakarta, Rabu.

Namun terkadang, menurut dia, memang kepekaan masyarakat terhadap keberlanjutan alam itu juga berkorelasi dengan ekonomi negara tersebut.

Masyarakat di Amerika Serikat, katanya, mungkin tidak merasakan situasi ekonomi seperti di Indonesia, sehingga rasa hormat terhadap keanekaragaman hayatinya bisa dicurahkan lebih besar untuk memastikan keberlanjutannya.

Namun, menurut Bambang,jika berbicara tentang Indonesia yang baru saja masuk kategori upper middle-income country, tipe masyarakatnya masih mencari kesempatan ekonomi, tidak bisa berharap lebih bahwa mereka akan memperhatikan keanekaragaman hayati.

“Mereka masih akan lihat itu sebagai cara memenuhi kebutuhan ekonomi. Karenanya tugas kami, pemerintah, untuk memastikan seimbang antara ekonomi dan keanekaragaman hayati,” kata Bambang.

Sebelumnya ia mengatakan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDG) sebenanrnya dapat menjadi sebuah platform untuk memperkenalkan pentingnya keberlangsungan keanekaragaman hayati untuk masa depan kehidupan.

Namun tantangan terbesarnya, menurut dia, justru ketidaktahuan adanya keanekaragaman hayati itu sendiri. Karenanya, Bambang mengatakan LIPI mempunyai tantangan untuk dapat meneliti seluruh keanekaragaman hayati yang dimiliki Indonesia.

“Keanekaragaman hayati itu aset untuk kehidupan jangka panjang. Indonesia memang bukan nomor satu untuk keanekaragaman hayati terestrial, tapi jika ditambah dengan laut Indonesia pemilik keanekaragaman hayati nomor satu di dunia,” kata Bambang.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA