Thursday, 14 Safar 1442 / 01 October 2020

Thursday, 14 Safar 1442 / 01 October 2020

Kesepakatan UEA-Israel, Kesegaran Baru Timur Tengah? 

Rabu 16 Sep 2020 23:49 WIB

Rep: Zainur Mahsir Ramadhan / Red: Nashih Nashrullah

 (Kiri ke kanan) Menteri Luar Negeri Bahrain Sheikh Khalid Bin Ahmed Al-Khalifa, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Presiden AS Donald J. Trump dan Menteri Luar Negeri UEA Sheikh Abdullah bin Zayed bin Sultan Al Nahyan selama upacara penandatanganan Kesepakatan Abraham, yang menormalkan hubungan antara Uni Emirat Arab dan Bahrain dengan Israel, di Halaman Selatan Gedung Putih di Washington, DC, AS, 15 September 2020.

(Kiri ke kanan) Menteri Luar Negeri Bahrain Sheikh Khalid Bin Ahmed Al-Khalifa, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Presiden AS Donald J. Trump dan Menteri Luar Negeri UEA Sheikh Abdullah bin Zayed bin Sultan Al Nahyan selama upacara penandatanganan Kesepakatan Abraham, yang menormalkan hubungan antara Uni Emirat Arab dan Bahrain dengan Israel, di Halaman Selatan Gedung Putih di Washington, DC, AS, 15 September 2020.

Foto: EPA-EFE/JIM LO SCALZO
Kesepakatan UEA-Israel diklaim sebagai angin segar baru di Timur Tengah.

REPUBLIKA.CO.ID, CHICAGO — Kesepakatan antara Uni Emirat Arab (UEA) dan Israel yang ditandatangani di Gedung Putih merupakan pencapaian bersejarah. Bahkan, dari kesepakatan itu, dia nilai akan menciptakan ‘lingkungan baru’ untuk menciptakan perdamaian di kawasan.   

Baca Juga

“Kami tidak meninggalkan orang Palestina,” kata Direktur perencanaan kebijakan di Kementerian Luar Negeri Uni Emirat Arab, Jamal Al-Musharakh dikutip Arab News Rabu (16/9). 

Menurutnya, UEA akan tetap berkomitmen untuk kepentingan Palestina dan solusi dua negara. Dia menambahkan, perdamaian antara Israel dan Palestina melalui kesepakatan itu, diharapkan dapat dicapai dalam waktu dekat. 

“Dengan keterlibatan AS dalam proses perdamaian ini, percakapan bisa lebih jujur. Peluang dan perbedaan bisa didiskusikan. Ini adalah inti dari dialog, bahwa kita benar-benar bisa melewati ketidakjelasan sebelumnya,’’ ucapnya.

Al-Musharakh melanjutkan, akan ada banyak optimisme dan harapan dalam kesepakatan tersebut. Terlebih, penyatuan strategis itu, diklaim bisa memberi pandangan yang lebih optimis mengenai masa depan dan menghasilkan manfaat bagi semua pihak di kawasan, termasuk Palestina. ‘’Tapi Palestina perlu terlibat dalam proses perdamaian itu sendiri. " ungkap dia.

Landasan kesepakatan, kata dia, didasarkan pada optimisme dan harapan. Sambung dia, daerah tersebut juga memang membutuhkan harapan, mengingat telah banyak kekacauan dan kehancuran yang terjadi.

‘’Kesepakatan itu menawarkan kesempatan bagi Palestina dan masyarakat Timur Tengah untuk dapat melewati pesimisme sebelumnya, dan memiliki masa depan yang lebih optimis," kata dia.

Dirinya tak menampik, jika komunitas Internasional saat ini memang merasa khawatir atas pencaplokan tanah Palestina oleh Israel. Namun demikian, masih ada banyak rencana dan upaya untuk menjangkau langkah diplomatik, guna mempertahankan solusi dua negara dan menghentikan aneksasi.

Perlu diketahui, kesepakatan UEA-Israel terjadi hampir sehari setelah 27 tahun lamanya, utamanya ketika Perdana Menteri Israel Yitzhak Rabin dan Ketua Organisasi Pembebasan Palestina Yasser Arafat berjabat tangan pada 13 September 1993 di Gedung Putih.

Menyangkut persiapan tersebut, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa pihaknya akan menjadi tuan rumah upacara penandatanganan perdamaian pekan ini di Gedung Putih antara Israel, UEA dan Bahrain. Dalam kesempatan itu, akan dilaksanakan juga pengumuman kesepakatan dengan Israel.

Al-Musharakh mengatakan jika pihaknya masih belum bisa memberikan rincian penandatanganan tersebut. Tetapi, dirinya menekankan bahwa kesepakatan UEA-Israel akan menciptakan lingkungan baru di Timur Tengah, di mana perdamaian sejati dapat dicapai.

“UEA adalah rumah bagi lebih dari 200 negara. Kami berharap dapat memajukan bidang pendidikan, kesehatan, bisnis, dan kebutuhan masyarakat, tidak hanya di UEA tetapi juga di wilayah ini. Perjanjian ini tentang wilayah. " tuturnya.

Lebih jauh, normalisasi hubungan antara UEA dan Israel memang diklaim berbagai pihak sebagai langkah bersejarah untuk kemajuan di kawasan itu. Bahkan, Menteri Luar Negeri UEA Sheikh Abdullah bin Zayed juga menegaskan hal serupa dalam sebuah laporan yang terbit di saluran berita Al-Arabiya pada Selasa lalu.

Menurut dia, kemajuan dalam mendirikan negara Palestina sangat penting pada tahap ini. Sebab, perjanjian yang akan ditandatangani di Gedung Putih, ia sebut akan menghentikan kegiatan aneksasi Israel di Tepi Barat. 

Merespons hal tersebut, Gedung Putih mengatakan dalam sebuah pernyataan jika dunia Arab saat ini sedang mengalami transformasi geopolitik paling cepat dalam lebih dari satu generasi. Hal itu, dikarenakan semakin banyak negara yang menormalisasi hubungan dengan Israel. Tak ayal, kawasan Teluk diklaim AS menjadi kawasan yang lebih stabil, aman dan makmur.   

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA