Thursday, 14 Safar 1442 / 01 October 2020

Thursday, 14 Safar 1442 / 01 October 2020

Mentan Minta Pakar Bantu Rumuskan Kebijakan Bangun Pertanian

Rabu 16 Sep 2020 23:47 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo (SYL), melakukan konferensi secara virtual membahas upaya penguatan kerja sama negara Indonesia dengan International Rice Research Institute (IRRI) yang segera memiliki bentuk baru sebagai reformasi tata kelola kelembagaan Consultative Group on International Research and Development (CGIAR) menjadi “One CGIAR” di ruang Agriculture War Room, Kementerian Pertanian, Rabu (16/9).

Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo (SYL), melakukan konferensi secara virtual membahas upaya penguatan kerja sama negara Indonesia dengan International Rice Research Institute (IRRI) yang segera memiliki bentuk baru sebagai reformasi tata kelola kelembagaan Consultative Group on International Research and Development (CGIAR) menjadi “One CGIAR” di ruang Agriculture War Room, Kementerian Pertanian, Rabu (16/9).

Foto: Kementan
Mentan meminta pakar tanah dan iklim ikut rumuskan kebijakan yang ramah lingkungan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo meminta pakar tanah, lahan, dan iklim turut membantu merumuskan poin-poin penting bagi kebijakan pembangunan pertanian Indonesia yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

"Dunia mengalami degradasi lahan dan terkena dampak perubahan iklim sehingga butuh solusi dari para pakar agar pertanian tetap tangguh," kata Mentan dalam seminar internasional "Pengelolaan Lahan Tropis yang Berkelanjutan 2020" secara virtual yang dipantau di Jakarta, Rabu (16/9).

Mentan Syahrul menilai para pakar pertanian juga patut berbangga dan bersyukur karena sektor pertanian telah membuktikan lebih tangguh di tengah gempuran pandemiCOVID-19.

Menurut dia, sejumlah negara telah masuk ke jurang resesi yang dalam. Perekonomian Indonesia juga ikut melemah, namun sektor pertanian tetap mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 2,19 persen pada kuartal II-2020.

Syahrul berpendapat para pakar iklim dan pertanahan dibutuhkan karena sejumlah tantangan masih dihadapi Indonesia, contohnya perubahan iklim yang telah meningkatkan ketidakpastian prediksi iklim dan curah hujan yang berdampak pada perubahan waktu tanam.

Selain itu, kata dia, meningkatnya permukaan air laut telah menyebabkan risiko salinitas tanah meningkat. Beberapa daerah melaporkan peningkatan banjir rob dan penyempitan garis pantai.

"Indonesia membutuhkan kontribusi dari para pakar untuk mengatasi persoalan tersebut," kata Syahrul.

Indonesia sebagai negara tropis yang wilayahnya sebagian besar berombak hingga bergunung juga mengalami laju degradasi lahan yang tinggi.

Kepala Badan Litbang Pertanian Fadjry Djufry mengakui persoalan pertanian tropis hanya dapat diatasi dengan inovasi teknologi dari para pakar dan praktisi yang terjun langsung di lapangan.

"Praktisi pertanian dapat memberikan umpan balik agar inovasi teknologi para pakar sesuai dengan kebutuhan pertanian tropis. Sebaliknya, para pakar dapat mendiagnosis persoalan-persoalan yang dihadapi di lapangan," katanya.

Pakar ilmu tanah internasional dari "International Union of Soil Sciences"Jepang Takashi Kosaki menjelaskan kesadaran masyarakat atas pentingnya tanah dalam menopang pertanian dan lingkungan yang berkelanjutan dapat diwujudkan dengan mengenalkan tanah kepada anak-anak usia dini di sekolah dasar.

Takashi memberi contoh bahwa anak-anak dapat dikenalkan bahwa tanah dapat menyerap polusi lingkungan. "Sampaikan kepada anak-anak dengan bahasa dan percobaan sederhana. Caranya sederhana, tunjukkan tanah dapat menyerap warna tinta atau bau di sekolah," katanya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA