Thursday, 7 Safar 1442 / 24 September 2020

Thursday, 7 Safar 1442 / 24 September 2020

HMPG: Produksi Garam Jatim Diprediksi Menurun

Rabu 16 Sep 2020 23:42 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Petani memanen garam,  di Desa Bunder, Pamekasan, Jawa Timur, Senin (31/8/2020). Dalam beberapa pekan terakhir harga garam di Madura naik dari Rp.250 000 per ton menjadi Rp.300.000 hingga Rp.400.000 per ton.

Petani memanen garam, di Desa Bunder, Pamekasan, Jawa Timur, Senin (31/8/2020). Dalam beberapa pekan terakhir harga garam di Madura naik dari Rp.250 000 per ton menjadi Rp.300.000 hingga Rp.400.000 per ton.

Foto: ANTARA/Saiful Bahri
HMPG memprediksi produksi garam rakyat Jatim hanya 900 ribu ton

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Ketua Umum Himpunan Masyarakat Petani Garam Indonesia (HMPGI)Mohammad Hasan memprediksi produksi garam rakyat yang dikelola petani di Jawa Timur Tahun 2020 hanya sekitar 900 ribu ton, atau turun dibanding Tahun 2019 yang mencapai 1,1 juta ton.

"Kendalanya memang cuaca yang masih sering turun hujan. Sama halnya produksi garam rakyat nasional yang diperkirakan sekitar 2,1 juta ton, turun dibanding Tahun 2019 yang mencapai 2,9 juta ton," kata Hasan di Surabaya, Rabu (16/9).

Hasan mengatakan, Jawa Timur masih menjadi penghasil garam rakyat terbesar se-Indonesia, dengan total lahan tambak seluas 11.150 hektare yang tersebar di 12 kabupaten/kota, lumbungnya ada di Pulau Madura. Namun, kata Hasan, produksi garam rakyat tersebut hanya terserap pasar sekitar 80 persen, yaitu untuk konsumsi masyarakat.

Menurut Hasan, untuk kebutuhan industri, perusahaan dan pabrik di Indonesia lebih memilih garam impor dari Australia dan India. "Oleh karena itu, kami mendorong agar pabrik dan perusahaan menyubstitusi garam impor untuk kebutuhan industri dengan garam berstandar nasional Indonesia (SNI) yang dihasilkan oleh petani lokal. Dengan cara itulah produksi garam rakyat bisa terserap 100 persen di pasaran," katanya.

Ia menjelaskan, yang menjadi persoalan mendasar saat ini adalah harga garam yang dipanen petani ditentukan oleh mekanisme pasar. Contohnya hasil panen garam Tahun 2019, yakni tengkulak membelinya seharga Rp250 per kilogram, dan biasanya menjualnya kembali ke pasaran Rp550 per kilogram.

"Tahun ini, kendati hasil panen dipastikan menurun, tengkulak menaikkan harga beli garam senilai Rp350 per kilogram. Harga yang ditentukan tengkulak tersebut masih dirasa merugikan petani," katanya.

Untuk itulah, Hasan akan memperjuangkan agar pemerintah yang menentukan harga pokok penjualan atau HPP garam, dan pihaknya pada Tahun 2017 mengusulkan HPP garam sebesar Rp 1.500 per kilogram agar petani bisa sejahtera.

Matrai, salah satu petani garam tambak di kawasan Benowo, Surabaya, mengakui, sejak bulan Juli wilayah Surabaya memang seringkali diselimuti mendung, selain juga hujan yang sampai sekarang masih turun.

"Hasil panen tahun ini belum diketahui karena masih sedang berlangsung. Tapi kalau cuacanya seperti ini pastinya hasil panen tidak sebagus tahun lalu," katanya saat dikonfirmasi di Surabaya. Matrai menggarap lahan tambak garam seluas sekitar 1 hektare di kawasan Benowo, dibantu istri, anak dan sejumlah cucunya yang beranjak remaja.

Sementara terkait rencana tengkulak yang bersedia membeli lebih mahal dari tahun lalu, Matrai belum bisa menanggapi. "Harga beli tengkulak informasinya naik. Tapi saya belum tahu berapa. Kalau tahun lalu dibeli Rp 250 ribu per ton," ucapnya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA