Wednesday, 6 Safar 1442 / 23 September 2020

Wednesday, 6 Safar 1442 / 23 September 2020

Kemendikbud: Kekerasan tidak Boleh Dilawan dengan Kekerasan

Rabu 16 Sep 2020 22:22 WIB

Rep: Inas Widyanuratikah  / Red: Ratna Puspita

Ilustrasi Stop Bullying. Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Menengah (Pauddasmen) Kemendikbud Jumeri mendorong pemangku kepentingan pendidikan tumbuhkan pola pikir positif untuk mencegah kekerasan.

Ilustrasi Stop Bullying. Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Menengah (Pauddasmen) Kemendikbud Jumeri mendorong pemangku kepentingan pendidikan tumbuhkan pola pikir positif untuk mencegah kekerasan.

Foto: Foto : MgRol_92
Pendidikan harus tumbuhkan pola pikir positif untuk mencegah kekerasan. 

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyelenggarakan kegiatan Antisipasi Tindak Kekerasan Peserta Didik Jenjang SMP. Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Menengah (Pauddasmen) Kemendikbud Jumeri mendorong pemangku kepentingan pendidikan tumbuhkan pola pikir positif untuk mencegah kekerasan. 

Baca Juga

"Kekerasan tidak boleh dilawan dengan kekerasan," kata Jumeri, dalam keterangannya, Selasa (15/9). 

Ia mendorong semua pihak dalam sektor pendidikan untuk menggalakan berbagai kegiatan edukatif. Antara lain adalah menyiapkan sekolah yang ramah anak, menyenangkan dan model pembelajaran yang mengarah pada pembinaan karakter peserta didik.

Sekolah juga perlu meningkatkan fasilitas sekolah dan perlu memonitor seluruh sudut sekolah dengan baik. "Sudut sekolah yang tidak terlihat seperti kamar mandi, rawan menjadi tempat tindak kekerasan," kata dia.

Pembelajaran juga perlu menggiatkan program yang mampu meningkatkan pemahaman tentang persaudaraan, hati nurani, toleransi, ketulusan, dan kejujuran. Selain itu, orang tua juga perlu terlibat dalam memecahkan problematika pembelajaran. 

"Jangan sampai ada pandangan kalau orang tua diundang ke sekolah hanya karena masalah uang atau karena putra-putrinya ada kasus di sekolah," kata Jumeri. 

Menurut dia, adanya interaksi antara orang tua dengan sekolah memungkinkan kedua belah pihak memahami karakter dan potensi anak. Sehingga, tujuan pembelajaran dapat tercapai khususnya di tengah pembelajaran jarak jauh (PJJ). 

Ia menyarankan untuk sekolah dan orang tua mengadakan pertemuan bulanan berupa kelas parenting secara berkala. Di forum tersebut, guru dan orang tua saling bertukar informasi tentang kegiatan sekolah, kendala belajar, hingga kondisi peserta didik di rumah.  

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA