Friday, 8 Safar 1442 / 25 September 2020

Friday, 8 Safar 1442 / 25 September 2020

Kisah Relawan PMI Bangkit dari Covid-19

Kamis 17 Sep 2020 06:09 WIB

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Budi Raharjo

Ilustrasi Covid-19

Ilustrasi Covid-19

Foto: Pixabay
Stigma negatif bagi penderita Covid-19 dan diperlakukan kurang baik oleh lingkungan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ada kisah menarik dari Nursita Syahrudin selaku relawan Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Maluku Utara. Di tengah kesibukannya membantu penanganan Covid-19, Nursita justru terjangkit penyakit asal Cina itu. Namun hal itu tak menjadikan Nursita jatuh dalam jurang stres berkepanjangan.

Perempuan yang akrab disapa Tata itu pertama bergabung dengan PMI pada 2012. Panggilan hati membuatnya yang baru saja meraih gelar sarjana mengabdikan diri di PMI. Tata setia menjalankan tugas hingga pandemi Covid-19 tiba di tanah kelahirannya.

Tata lalu terdaftar sebagai tim PMI dalam satuan gugus tugas penanganan Covid-19 Maluku Utara pada 16 April. Tata bertugas di tim disinfektan sekaligus mendomentasikan pasien yang masuk karantina.

Kantor gugus tugas tempat Tata bekerja berada dekat dengan hotel Sahid yang difungsikan untuk karantina pasien Covid-19. Selama bekerja, rasa was-was tentu hinggap pada dirinya. Perasaan itu akhirnya berbuah pahit saat dinyatakan positif Covid-19.

"Tanggal 6 Mei rapid tes hasilnya reaktif. Saya pindah ke hotel karantina," kata Tata dalam sesi sharing virtual 75 Tahun PMI: Kisah Para Pejuang Kemanusiaan pada Rabu (16/9) yang diadakan Institut Harkat Negeri.

Ada satu hal yang paling dominan dirasakan Tata saat itu. Stigma negatif penderita Covid-19. Ia tak menyangka bakal diperlakukan kurang baik oleh lingkungan sekitarnya saat terjangkit Covid-19.

"Saya jalan kaki bawa tas sendiri ke karantina. Kunci diserahkan tanpa ketemu seolah mereka takut ketemu saya," ungkap perempuan berusia 33 tahun itu

Tata merasa heran atas stigma buruk yang dialaminya. Terutama oleh rekan-rekannya yang bekerja di dunia medis yang mestinya memberi dukungan. "Stigma (buruk) lingkungan termasuk teman-teman yang padahal orang kesehatan bikin down," ujar Tata.

Tata tak menyangka penyakit itu merenggut relasinya dengan hampir semua orang. Bahkan tetangganya yang biasa mengantar jemput dirinya atau keperluannya saat bertugas juga tak lagi bisa dimintai tolong.

Tata memang di karantina di hotel Sahid yang notabene hotel bintang 5 satu-satunya di Provinsi Maluku Utara. Segala akomodasi tercukupi di sana baik makanan, minuman, kenyamanan tidur. Tapi Tata seperti halnya pasien Covid-19 lain butuh dukungan dari lingkaran terdekat.

Dengan dorongan itulah semangat pasien Covid-19 bisa menguat. "Saya dijauhi teman, tetangga, keluarga," lanjut Tata.

Tata sampai hari ini masih bertanya-tanya mengapa bisa terjangkit Covid-19. Ia penasaran bagaimana penyakit itu bisa menghinggapinya. Padahal dirinya selalu menaati protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah. Ia tak pernah lupa menjalankan propaganda halus pemerintah untuk pakai masker, jaga jarak, cuci tangan.

Namun ternyata penyakit Covid-19 memang tak kenal ampun. Siapa pun bisa dijangkiti, bahkan orang yang rutin menaati protokol kesehatan. "Saya kerjanya masuk sistem shift, saya selalu terapkan protokol kesehatan, masker saja dobel. Enggak tahu ini kena darimana," keluh Tata.

Tata tak sendirian terjangkit penyakit itu di keluarganya. Ia sedih ketika sang ibu juga mengalami nasib serupa. "Ibu kena walau enggak pernah ke pasar mungkin kena di RS karena pernah kesana atau kena dari saya," ucap Tata.

Tata yang mengaku sebagai pribadi aktif sempat mati gaya ketika dikarantina. Tata sulit menjalani hari hanya dengan berbaring di kasur menunggu pulih. Tata lalu mulai menjalin hubungan dengan pasien lain. "Saya ikut acara senam sehat lalu mulai kenal dengan pasien lain, dari situ kami saling menyemangati," ucap Tata.

Tata pernah menjalani pendidikan konseling selama aktif di PMI. Ia coba pergunakan ilmunya untuk membantu pasien lain. Seiring waktu berjalan, Tata makin banyak membantu pasien. Rangkaian sesi curhat pasien jadi konsumsi hariannya.

Tata dan pasien lain biasa nongkrong sambil curhat colongan di roof top hotel. Dari perasaan itulah Tata kembali semangat. "Dengan merasa berguna buat orang lain itu saya makin semangat," kata Tata.

Tata lalu menyampaikan keluhan pasien ke tim gugus tugas agar minimal diketahui sumber masalah psikisnya. "Saya dengar keluhan mereka lalu disampaikan ke tim. Masalah mereka enggak cuma akomodasi, tapi bisa dukungan keluarga atau keuangan karena ada yang pusing mikirin tagihan," ungkap Tata.

Tepatnya 14 Juni, Tata dan ibunya resmi dinyatakan sembuh dari Covid-19. Optimisme dan rasa ingin membantu sesama membuat Tata bangkit. Tata lalu hanya berpesan agar stigma buruk pada penderita Covid-19 jangan lagi terjadi karena malah memperburuk kondisi kesehatan.

"Saya relawan, tapi saya stres padahal saya paham bagaimana protokol dan cara kerja tim gugus tugas. Pasti orang lain yang kena lebih parah stresnya dari saya karena enggak paham," ungkap Tata.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA