Wednesday, 6 Safar 1442 / 23 September 2020

Wednesday, 6 Safar 1442 / 23 September 2020

Trump Sempat Ingin Bunuh Presiden Suriah, Tapi ...

Rabu 16 Sep 2020 18:31 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Teguh Firmansyah

 Presiden Amerika Serikat Donald Trump

Presiden Amerika Serikat Donald Trump

Foto: AP/Patrick Semansky
Jim Mattis disebut tak setuju dengan pembunuhan Assad.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengaku pernah ingin membunuh Presiden Suriah, Bashar al-Assad, pada 2017, Selasa (15/9).  Hanya saja, keinginan itu ditentang oleh Menteri Pertahanan Jim Mattis pada saat itu.

"Saya lebih suka dia meninggal. Saya sudah menyiapkannya. Mattis tidak ingin melakukannya. Mattis adalah jenderal yang sangat dilebih-lebihkan, dan aku melepaskannya," kata Trump pada acara pagi Fox & Friends.

Seperti dikutip dari Ahram, Trump mengatakan tidak menyesali keputusan untuk tidak menargetkan Assad, dengan mengatakan dia bisa hidup dengan cara itu. "Saya menganggap dia jelas bukan orang baik, tapi saya punya kesempatan untuk mengeluarkannya jika saya mau dan Mattis menentangnya," kata Trump.

Pengungkapan tersebut mendukung pemberitaan yang keluar pada 2018 ketika jurnalis Washington Post, Bob Woodward, menerbitkan buku "Fear: Trump in the White House". Trump dilaporkan mempertimbangkan untuk membunuh Assad setelah dia melancarkan serangan kimia terhadap warga sipil pada April 2017.

Dalam buku tersebut, Trump mengatakan pasukan AS harus terlibat dan membunuh Assad. Hanya saja laporan tersebut dibantah oleh presiden pada saat itu. "Itu bahkan tidak pernah terpikirkan," kata Trump kepada wartawan di Oval Office pada 5 September 2018.

Pernyataan terbaru Trump ini datang sebagai bagian dari serangan terhadap Mattis yang dulu mendapatkan pujian sebagai orang hebat ketika menjabat posisi Menteri Pertahanan. Hanya saja, pensiunan jenderal itu mengecewakan Trump dan akhirnya mengundurkan diri pada akhir 2018.

Assad telah memerintah Suriah selama perang saudara. Perang yang tidak berkesudahan ini menghancurkan negara dan membuat ratusan ribu orang tewas. Perang pecah sejak 2011 silam.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA