Wednesday, 6 Safar 1442 / 23 September 2020

Wednesday, 6 Safar 1442 / 23 September 2020

Vaksin Covid-19 dari AS Tunjukkan Efek Samping

Rabu 16 Sep 2020 17:44 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Nur Aini

Pfizer merupakan satu dari banyak perusahaan farmasi yang berlomba-lomba menyediakan vaksin Covid-19 di pasar.BioNTech dan Pfizer pada Senin (27/7) memulai uji klinis terakhir atau tahap III untuk calon vaksinnya guna mengetahui khasiat anti virus tersebut.

Pfizer merupakan satu dari banyak perusahaan farmasi yang berlomba-lomba menyediakan vaksin Covid-19 di pasar.BioNTech dan Pfizer pada Senin (27/7) memulai uji klinis terakhir atau tahap III untuk calon vaksinnya guna mengetahui khasiat anti virus tersebut.

Foto: EPA
Peserta uji cova vaksin Covid-19 perusahaan AS mengalami efek samping ringan

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Perusahaan farmasi Amerika Serikat (AS) Pfizer Inc mengatakan peserta uji coba vaksin virus corona mengalami efek samping ringan baik ketika mereka diberi vaksin atau plasebo.

Baca Juga

Dalam telekonferensi dengan para investor, Rabu (16/9) eksekutif Pfizer mengatakan dalam penelitian yang sedang berjalan sekitar 12 ribu peserta diberi dua dosis vaksin. Perusahaan itu menguji lebih dari 29 ribu orang dari 44 ribu sukarelawan yang mendaftar.

Vaksin Covid-19 Pfizer itu dikembangkan bersama perusahaan Jerman, BioNTech. Pfizer mengatakan akan terus melakukan pemeriksaan keamanan dan kemampuan manusia dalam menoleransi vaksin yang sedang mereka kembangkan.

Perusahaan itu mengatakan komite pemantauan data independen dapat menyarankan penelitian ditunda sementara. Tapi hingga saat ini langkah itu belum digunakan.

Sementara, sejak 6 September lalu perusahan farmasi AS lainnya AstraZeneca menunda uji coba vaksin mereka di Amerika. Penundaan itu dilakukan setelah ada sukarelawan yang mengalami efek samping yang cukup parah.

AstraZeneca sudah mulai kembali menggelar uji coba di Inggris dan Brasil setelah mendapat lampu hijau dari pemerintah Inggris. Tapi masih menunda uji coba di Amerika.

Saat diwawancara program 'Fox & Friends' stasiun televisi Fox News, Selasa (16/9) lalu Presiden AS Donald Trump mengatakan vaksin  Covid-19 akan tersedia dalam hitungan hari. Ia menegaskan sejak awal ia ingin AS mendapatkan vaksin secepat mungkin.

"Saya tidak melakukannya untuk alasan politik, saya ingin vaksin cepat tersedia," kata Trump yang menyebut produksi vaksin sebagai 'Operation Warp Speed'.

"Anda tidak akan mendapatkan vaksin (setelah) bertahun-tahun, saya mempercepat prosesnya dengan FDA (Badan Obat-obatan Federal Amerika), kami akan memiliki vaksin dalam hitungan pekan, dapat empat pekan, dapat delapan pekan, kami memiliki banyak perusahaan hebat," kata Trump seperti dikutip Fox News.  

Pernyataan mengenai vaksin itu disampaikan setelah sejumlah politisi dari Partai Demokrat mempertanyakan keamanan vaksin yang ingin segera Trump produksi. Kandidat presiden dan wakil presiden AS dari Partai Demokrat Joe Biden dan Kamala Harris mengungkapkan kekhawatiran mereka mengenai vaksin AS.

Mereka khawatir perusahaan-perusahaan dan laboratorium farmasi mendapat tekanan politik untuk segera mengeluarkan vaksin virus korona. Keduanya khawatir vaksin sudah dirilis tanpa melalui proses pengujian yang ketat.

"Saya tidak akan mempercayai kata-kata (Trump)," kata Harris saat ditanya CNN mengenai vaksin yang akan dirilis sebelum pemilihan presiden yang dijadwalkan digelar pada 3 November.

"Saya akan mendengarkan apa yang para ilmuwan katakan," kata Biden saat ditanya mengenai vaksin.

Di awal masa pandemi Trump mengaku pada seorang jurnalis ia sengaja meremehkan krisis kesehatan walaupun punya bukti virus corona berbahaya.

"Saya ingin selalu menganggapnya kecil," kata Trump kepada penulis Bob Woodward pada 19 Maret, beberapa hari setelah dia menyatakan keadaan darurat nasional.

"Saya masih suka menganggapnya kecil, karena saya tidak ingin membuat kepanikan," ujar Trump.

 

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA