Sunday, 3 Safar 1442 / 20 September 2020

Sunday, 3 Safar 1442 / 20 September 2020

Asosiasi Rumah Sakit: Jangan Remehkan OTG

Rabu 16 Sep 2020 11:33 WIB

Rep: Uji Sukma Medianti/ Red: Bilal Ramadhan

Dokter melakukan konseling teknik wawancara langsung dengan pasien orang dewasa berstatus OTG (Orang Tanpa Gejala) COVID-19.

Dokter melakukan konseling teknik wawancara langsung dengan pasien orang dewasa berstatus OTG (Orang Tanpa Gejala) COVID-19.

Foto: ANTARA/Destyan Sujarwoko
Ada kasus OTG yang mengalami kekurangan kadar oksigen dalam darah.

REPUBLIKA.CO.ID, BEKASI -- Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia (ARSSI) Kota Bekasi meminta masyarakat dan Pemerintah Kota Bekasi disiplin menerapkan protokol kesehatan demi mencegah Covid-19. Pasalnya, hal ini berkaitan dengan meningkatnya jumlah orang tanpa gejala (OTG) Covid-19.

Ketua ARSSI Kota Bekasi, dr Eko Nugroho, menuturkan, ada kasus OTG yang mengalami happy hipoxia atau kekurangan kadar oksigen dalam darah. Mereka masih dapat beraktifitas normal seperti biasa. Namun, menurut Eko, dengan kondisi ruang ICU yang minim di Kota Bekasi, artinya OTG juga tidak bisa diremehkan.

"Jadi ini korelasinya. Risiko kematian akan tinggi, kemungkinan besar (angka) meninggal karena covid akan semakin tinggi," kata Eko kepada Republika, Rabu (16/9).

Dia menjelaskan, memang sebagian besar yang membutuhkan ruang ICU adalah pasien yang memiliki gejala berat. Sehingga butuh alat bantu napas dan alat medis lainnya. Namun, untuk kasus hipoxia, pasien bisa saja butuh alat bantu medis yang ada di ruang ICU.

"Mereka yg kadar oksigen dalam darah nya di bawah 90 persen berisiko besar semakin memburuk. Jika paru-parunya tidak sanggup untuk bernapas dengan sempurna karena penyakit covidnya semakin menjadi, maka kondisi seperti ini butuh alat bantu napas untuk memasukkan oksigennya," terang Eko.

Dikarenakan ruang ICU minim, dari sisi hulu, ia meminta masyarakat dan juga pemkot dapat memperketat disiplin penerapan protokol kesehatan. "Kalau tidak seimbang hulu dan hilir. Kita akan sibuk terus mengatasi penanganan di hilir (rumah sakit, puskesmas dan pemakaman). Padahal hilir sudah ga tertampung, makanya dari hulu yang (seharusnya) di-rem," tutur dia.

Adapun, per Selasa (15/9) kemarin jumlah kapasitas pasien Covid-19 yang mengisi 42 rumah sakit swasta tercatat ada 426 bed dari 550 bed isolasi, serta 48 bed ICU terisi dari 57 bed ICU yang tersedia di RS swasta.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA