Monday, 4 Safar 1442 / 21 September 2020

Monday, 4 Safar 1442 / 21 September 2020

Pembangunan Jalan di Mesir Berpotensi Rusak Situs Sejarah

Rabu 16 Sep 2020 06:47 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Dwi Murdaningsih

Piramida Bent

Piramida Bent

Foto: EPA
Mesir sedang membangun jalan raya yang melintasi dataran tinggi piramida luar Kairo.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Rencana pembangunan jalan di Mesir menuai berbagai kritik. Diketahui, Mesir sedang membangun dua jalan raya melintasi dataran tinggi piramida di luar Kairo. Proyek ini menghidupkan kembali dan memperluas yang ditangguhkan pada 1990-an setelah protes internasional.

Baca Juga

Beberapa ahli Mesir dan konservasionis mengatakan, jalan raya akan banyak merugikan bagi kondisi sekitar situs tersebut. Pembangunan jalan akan mengganggu integritas dataran tinggi piramida, juga membuka situs arkeologi yang belum dijelajahi.

Pembangunan jalan juga akan menghasilkan polusi yang dapat merusak monumen, menghasilkan sampah, dan mengekspos area tertutup yang penuh dengan harta arkeologi tersembunyi untuk dijarah.

"Jalan itu memotong kuburan yang belum dijelajahi secara arkeologis dari Dinasti ke-13 yang tidak banyak diketahui, dalam jarak berjalan kaki dari piramida Pepi II dan Khendjer dan Mastabat el-Fara'un," kata seorang ahli ilmu Mesir yang mengetahui daerah tersebut.

Ahli itu termasuk di antara enam Egyptologists yang berbicara dengan Reuters. Kebanyakan dari mereka menolak disebutkan namanya karena takut kehilangan izin untuk menangani barang antik.

Salah satu dari mereka mengatakan cache patung dan balok dengan hieroglif telah digali sejak pembangunan jalan raya dimulai. Oritas barang antik mengatakan di halaman Facebook, benda-benda itu telah ditemukan di properti pribadi terdekat.

Jalan raya yang akan membelah dataran tinggi menjadi tiga yang akan melintasi bagian dari Memphis kuno. Wilayah ini merupakab salah satu kota terbesar dan paling berpengaruh di dunia selama hampir 3.000 tahun, yaitu, Memphis.

Kota ini didirikan sekitar 3.000 SM, ketika Mesir disatukan menjadi satu negara. Wilayah ini hilang tetapi tidak ditinggalkan ketika Alexander Agung memindahkan ibu kota ke Aleksandria pada 331 SM.Wilayah meluas lebih dari 6 kilometer persegi dan menjadi situs pemukiman kuno terbesar di lembah Nil.

Egyptologist Inggris yang telah bekerja di Memphis untuk Mesir Exploration Society sejak 1981, David Jeffreys,  menyatakan,  jalan baru itu mendekati distrik komersial kota kuno, tembok pelabuhannya, dan bekas situs Nilometer kuno, yang digunakan untuk mengukur ketinggian banjir tahunan. Proyek ini juga membahayakan tembok Romawi yang pernah berbatasan dengan Sungai Nil.

“Memphis telah lama diabaikan, bahkan oleh para ahli Mesir Kuno, karena itu adalah situs yang rumit untuk digali. Namun, itu sangat kaya, penuh dengan kuil, arsip, gedung administrasi dan kawasan industri," kata ahli Mesir lainnya.

Menurut gambar Egyptologists dan Google Earth, konstruksi dimulai lebih dari setahun yang lalu di daerah gurun yang sebagian besar tidak terlihat oleh publik. Baru pada Maret proyek itu lebih terlihat.

Jalan raya selatan adalah bagian dari jalan lingkar kedua Kairo yang akan menghubungkan kota satelit barat Sixth of October ke ibu kota baru di timur Kairo. Jalan ini akan melalui gurun sepanjang 16 km di dataran tinggi piramida, lahan pertanian, dan sudut Memphis.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA