Thursday, 14 Safar 1442 / 01 October 2020

Thursday, 14 Safar 1442 / 01 October 2020

Target Normalisasi Teluk-Israel Bukan Iran, Tapi Turki?

Selasa 15 Sep 2020 19:47 WIB

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Nashih Nashrullah

Para anggota kabinet Amerika Serikat bertepuk tangan usai Presiden Donald Trump mengumumkan normalisasi hubungan Bahrain-Israel, Jumat (11/9).

Para anggota kabinet Amerika Serikat bertepuk tangan usai Presiden Donald Trump mengumumkan normalisasi hubungan Bahrain-Israel, Jumat (11/9).

Foto: EPA
Target yang hendak dibidik dari aliansi Teluk-Israel bukan memusuhi Iran.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pemimpin Redaksi Journal of America, Abdus Sattar Ghazali mengingatkan kembali, Israel dalam beberapa bulan terakhir menyatakan pada para diplomat Arab bahwa Iran sudah bukan lagi ancaman militernya. Sebaliknya, Kepala Mossad Israel Yossi Cohen, malah menyebut bahwa Iran ‘kini sudah bisa dikendalikan’.

Baca Juga

Pernyataan yang dilontarkannya itu ia kuatkan dengan pendapat Pemimpin Redaksi Middle East Eye, David Hearst. Menurut Hearst, target yang dimaksudkan dari aliansi UEA-Israel bukanlah Iran, melainkan Turki. Pasalnya, pengaruh regional Turki dinilai menjadi ancaman Teluk oleh Israel saat ini. 

Merajuk pada artikel yang ditulis Hearst Sabtu lalu ‘A new message resounds in the Arab world: Get Ankara’, Ghazali memang menyetujui jika Israel telah mengubah haluan ancamannya.

Menurut Ghazali dalam artikel Aliansi anti-Turki yang muncul di Dunia Arab dan tayang di Milli Gazette, Senin kemarin, musuh asing dunia Arab saat ini bukanlah Persia ataupun Rusia, melainkan Turki. Menurut dia, hal itu sangat jelas tercermin dari sikap-sikap negara Arab, saat menyampaikan posisi negaranya di konferensi virtual Liga Arab di Kairo Rabu lalu.

Pada pertemuan virtual Menteri Luar Negeri Liga Arab saat itu, Menteri Luar Negeri UEA, Anwar Gargash juga menyatakan kekhawatirannya pada Turki. Menurut dia, campur tangan Turki dalam urusan dalam negeri sebagian besar negara Arab, adalah contoh nyata dari campur tangan negatif di kawasan itu.

Mengutip pernyataan Gargash, Ghazali menilai jika UEA memang menuduh Turki mengancam keamanan dan keselamatan lalu lintas maritim di perairan Mediterania. Yang jelas melanggar hukum dan piagam internasional, serta kedaulatan negara.

Tak hanya Menlu UEA. Pernyataan itu juga kembali ditegaskan Menteri Luar Negeri Mesir Sameh Shoukry, yang mengatakan bahwa intervensi Turki di banyak negara Arab merupakan ancaman paling penting bagi keamanan nasional Arab.  

"Mesir tidak akan berdiam diri dalam menghadapi ambisi Turki yang terwujud di Irak utara, Suriah, dan Libya pada khususnya," katanya saat itu.

Bahkan, Sekretaris Jenderal Liga Arab Ahmed Abu Al-Ghait menyatakan hal serupa, ‘’Periode terakhir menyaksikan tumbuhnya intimidasi dan permusuhan oleh kekuatan regional terhadap kawasan Arab kita, dan peningkatan campur tangan dalam urusan negara-negara Arab kita oleh dua negara tetangga, yaitu Iran dan Turki. " ungkap dia.

Adapun Turki, Abu Al Ghait mengatakan bahwa Ankara memang terus menduduki sebagian besar wilayah Suriah, dan memulai serangannya di tanah Irak dan baru-baru ini, ia terjun ke dalam perang saudara Libya dengan intervensi militer langsung. Liga Arab yang mengikuti situasi di Libya memang sangat prihatin dengan kondisi itu. 

 

The Jordan Times

Lebih jauh, mengutip The Jordan Times, suara resmi kerajaan pada Juli lalu, Ghazali juga mengingatkan kembali jika "Pasukan Turki dan milisi yang didukung Ankara aktif di tiga negara Arab: Libya, Suriah, dan Irak. 

Jika ditilik lebih jauh, fakta dari ambisi teritorial, politik dan ekonomi Turki di wilayah Arab dan sekitarnya memang diupayakan pemimpin Turki sendiri, salah satunya Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. 

Ghazali menambahkan, saat ini, Turki juga memang memiliki pangkalan militer di Qatar, Libya, Somalia, Siprus Utara, Suriah, dan Irak. Meskipun, tidak semua dengan persetujuan pemerintah yang sah.

Terkait itu, Hearst menambahkan, ada aktor asing lain yang menjadikan Turki sebagai musuh baru di Mediterania Timur. Menurutnya, peran militer Prancis dalam mendukung jenderal militer era Qaddafi, Khalifa Haftar, dalam upayanya yang sarat kejahatan perang untuk merebut ibu kota Libya, didokumentasikan dengan baik seperti penggunaan pesawat Emirat dan penembak jitu Rusia. 

Meski demikian, tetap saja menurut Ghazali, Turki melalui Erdogan telah menciptakan negara tersebut sebagai negara merdeka yang mampu menghadapi pasukan Rusia di Suriah dan Libya. Ghazali menambahkan, ekonomi Turki juga memang seukuran Arab Saudi, walaupun militernya dinilai lebih mandiri.

Sumber:  https://www.milligazette.com/news/8-international/33684-anti-turkey-alliance-emerging-arab-world/ 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA