Thursday, 14 Safar 1442 / 01 October 2020

Thursday, 14 Safar 1442 / 01 October 2020

Jabat Tangan Israel, UEA, dan Bahrain di Gedung Putih

Selasa 15 Sep 2020 18:45 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Teguh Firmansyah

Gedung Putih

Gedung Putih

Foto: EPA/Michael Reynolds
Pejabat senior Trump menyebut semua pihak bersemangat ikuti seremoni ini.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sudah tiba di Washington, Amerika Serikat (AS) pada Senin (14/9) waktu setempat. AS bakal menjadi tuan rumah dari penandatanganan kesepakatan perdamaian antara Israel dan Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain.

Acara diagendakan di Halaman Selatan Gedung Putih pada Selasa (15/9) waktu setempat yang dihadiri oleh Netanyahu, dan para menteri luar negeri Bahrain dan UEA. Ini akan menjadi pertama kalinya negara-negara Arab menjalin hubungan dengan Israel sejak Mesir pada 1979 dan Yordania pada 1994.

"Semua pihak bersemangat," kata seorang pejabat senior pemerintahan Trump kepada wartawan dikutip laman Bangkok Post, Selasa.

Menurut pejabat yang enggan disebutkan jati dirinya itu, ratusan orang diundang untuk hadir. Jabat tangan simbolis antara perwakilan Arab dan Netanyahu pun tidak dikesampingkan meski ada virus Corona yang masih membayangi dunia termasuk paling parah di AS.

Baca Juga

"Virus Corona ada di latar belakang pikiran semua orang, meskipun semua orang akan diuji. Jadi jika mereka ingin terlibat dalam segala jenis kontak fisik yang akan dipahami," kata pejabat itu.

Di sisi lain, para pemimpin Palestina mendesak demonstrasi di wilayah pendudukan dan di luar kedutaan besar AS, Israel, Bahrain dan UEA untuk memprotes apa yang mereka sebut sebagai "perjanjian yang memalukan."

Penandatangan ini juga akan memberi Israel dan dua mitra Arab barunya pembukaan ekonomi yang besar, tepat ketika mereka ingin membangun kembali perlambatan ekonomi internasional yang dipicu oleh pandemi virus Corona.

Sementara Trump akan menikmati pilihan untuk memimpin terobosan bersejarah kurang dari 50 hari sebelum hari pemilihan presiden November. Menurut beberapa jajak pendapat, Trump saat ini berada di jalur kekalahan.

New York Times mencatat, bahwa pada dasarnya, perjanjian tersebut bukan merupakan "perdamaian" yang dicanangkan Trump. Mereka tidak mengakhiri keadaan konflik yang sebenarnya tetapi menciptakan hubungan yang dinormalisasi, termasuk perjalanan dan kontak diplomatik antara negara-negara Zionis dan Arab yang tidak pernah berperang satu sama lain. Selama beberapa tahun mereka telah menjadi sekutu de facto, terutama dalam keberpihakan terhadap Iran.


BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA