Wednesday, 6 Safar 1442 / 23 September 2020

Wednesday, 6 Safar 1442 / 23 September 2020

Aplikasi E-Memory Screening Bantu Ungkap Skor Kepikunan

Selasa 15 Sep 2020 15:31 WIB

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Reiny Dwinanda

Lansia (Ilustrasi). Gejala pikun akan terus memburuk seiring berjalannya waktu. Dengan deteksi dini, penderitanya dapat diterapi lebih awal untuk memperlambat penyakitnya.

Lansia (Ilustrasi). Gejala pikun akan terus memburuk seiring berjalannya waktu. Dengan deteksi dini, penderitanya dapat diterapi lebih awal untuk memperlambat penyakitnya.

Foto: Republika/Putra M. Akbar
Aplikasi E-Memory Screening bisa diunduh di Playstore dan Appstore pada 20 September.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Pikun atau demensia merupakan salah satu penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Gejalanya bahkan akan terus memburuk seiring berjalannya waktu, karenanya penting melakukan deteksi dini agar penderitanya dapat ditangani dengan terapi untuk memperlambat penyakitnya.

Mengacu data dari Alzheimers Diseise International dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), terdapat lebih dari 50 juta orang di dunia mengalami demensia dengan hampir 10 juta kasus baru setiap tahunnya. Di Indonesia, diperkirakan terdapat sekitar satu juta orang penderita demensia pada tahun 2013. Jumlah itu diperkirakan meningkat drastis menjadi dua juta orang pada tahun 2030 dan menjadi 4 juta orang pada tahun 2050.

Untuk mempermudah deteksi dini, para pakar dari Perhimpunan Dokter Spesial Saraf Indonesia (Perdossi) bekerja sama dengan PT Eisai akan segera meluncurkan aplikasi E-memory Screening (E-MS). Dokter Spesialis saraf dr Pukovisa Prawiroharjo SpS mengatakan, aplikasi ini menjadi salah satu cara untuk bisa mengedukasi, mendeteksi dini berbasis aplikasi gawai, dan direktori rujukan terpercaya dari para ahli.

"Terdapat paradigma masyarakat yang anggap enteng pikun, bahkan menganggap itu normal terjadi. Jadi kami rasa, teknologi informasi akan menjadi solusi penanggulangan demensia,” kata dr Pukovisa dalam sebuah diskusi tentang Demensia Alzheimer pada Senin (14/9).

Dr Pukovisa berharap, aplikasi E-MS bisa berfungsi sebagai tes massal bagi setiap orang untuk mendeteksi secara cepat dan sedini mungkin kemungkinan mengarah ke demensia. E-MS sebagai aplikasi akan resmi diluncurkan tanggal 20 September 2020 dan akan dapat diunduh di Playstore dan Appstore.

Menurut dr Pukovisa, aplikasi ini cukup mudah digunakan. Nanti, pengguna hanya tinggal mengikuti instruksi dan memilih apa yang ingin diketahui, apakah informasi seputar demensia atau melakukan deteksi dini.

Apabila skor E-MS hasil deteksi mengarah ke abnormal, maka aplikasi ini juga menyediakan fitur direktori rujukan terpercaya kepada para pakar di sekitar pengguna aplikasi berbasis GPS. Informasi jarak, nama dokter beserta keahliannya di bidang demensia, dan call center RS tempat praktek yang dapat dihubungi juga akan tertera.

“Selain deteksi dini, aplikasi ini akan menyediakan ragam informasi tepercaya dan mutakhir mengenai demensia, dengan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti agar dapat mencerahkan masyarakat dan disediakan pula tips dan trik merawat orang demensia secara efektif dan efisien,” kata dr Pukovisa.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA