Thursday, 7 Safar 1442 / 24 September 2020

Thursday, 7 Safar 1442 / 24 September 2020

Alasan Mengapa Kita Harus Berikan Nama Terbaik untuk Anak

Selasa 15 Sep 2020 08:22 WIB

Rep: Syalaby Ichsan/ Red: Nashih Nashrullah

Islam mengajarkan agar memberikan nama terbaik untuk anak.  Ilustrasi pemberian nama anak.

Islam mengajarkan agar memberikan nama terbaik untuk anak. Ilustrasi pemberian nama anak.

Foto: Republika/Yogi Ardhi
Islam mengajarkan agar memberikan nama terbaik untuk anak.

REPUBLIKA.CO.ID, Dalam Islam, nama bukan sekadar penanda. Dia adalah doa bagi diri dan kehidupannya. Semasa hidupnya, Rasulullah biasanya mengubah nama seseorang yang jelek. Dari Ibnu Umar diriwayatkan, ada seorang anak perempuan Umar bernama Ashiyyah (yang durhaka). Rasulullah pun mengganti namanya dengan Jamilah (cantik).

Baca Juga

عن سعيد بن المسيب عن أبيه عن جده: أن النبي صلى الله عليه وسلم قال له:ما اسمك؟ قال: اسمي حَزْنٌ، قال: بل أنتَ سَهْلٌ، قال: ما أنا بمُغيرٍ اسماً سمانيه أبي، قال: قال ابنُ المُسَيَّب: فما زالت فينا الحُزونَةُ بعدُ

Dalam satu kisah, disebutkan jika Hazn RA menemui Rasulullah. "Siapa namamu?" tanya beliau. Dia menjawab, "Namaku Hazn (terjal, sedih)." Beliau lantas bersabda, "Bahkan engkau adalah Sahl (landai, mudah)." Dia berkata, "Aku tidak akan mengubah nama yang diberikan ayahku kepadaku." Ibnu al-Musayyib—cucu Hazn—mengungkapkan, ternyata dia terus mengalami hal-hal yang menyedihkan (HR al-Bukhari). 

Pada kesempatan lain (HR Mus lim), Jabir bin Abdillah mengisahkan bahwa Rasulullah hendak melarang pemberian nama Ya'la (keluhuran), Barakah, Aflah (beruntung), Yasar (kemudahan), Nafi' (berguna) dan semisalnya. Namun, Nabi mendiamkannya tanpa mengatakan sesuatu apa pun tentangnya. Hingga wafat, beliau tidak melarang penggunaan nama tersebut. Umar hendak melarangnya, tetapi akhirnya membiarkannya.

عن سمرة بن جندب رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (ولا تُسمِّينَّ غلامَك يَساراً، ولا رَباحاً، ولا نَجيحاً، ولا أفلحَ، فإنك تقول: أثَمَّ هُوَ؟ فلا يكون

Kisah lainnya dari Samurah bin Jundub RA menyebutkan,Rasulullah SAW melarang kepada para sahabatnya untuk memberi nama anak-anak mereka Yasar (mudah sekali), Rabah (selalu beruntung), Najih (kesuksesan), dan Aflah (paling beruntung). "… karena tatkala engkau ditanya, 'Apakah ia (Rabah —keuntungan) ada?' Lalu dijawab, 'Tidak ada.'" 

Nabi pun meneruskan, hanya empat nama tersebut yang dilarang dan tidak ada tambahan nama lainnya. Tidak hanya itu, Rasulullah SAW, seperti diriwayat kan dari Abu Hurairah RA, bersabda: 

 إن أخنع اسم عند الله رجل تسمَّى ملك الأملاك. لا مالك إلا الله   "Nama yang paling nista di sisi Allah adalah orang yang bernama Malikul Amlak (Maharaja).

 عن أبي شريح أنه كان يكنى أبا الحكم، فقال له النبي ﷺ: إن الله هو الحكم، وإليه الحكم. فقال: إن قومي إذا اختلفوا في شيء أتوني، فحكمت بينهم فرضي كلا الفريقين. فقال: ما أحسن هذا فما لك من الولد؟ قال: شريح ومسلم وعبدالله. قال: فمن أكبرهم؟ قلت: شريح. قال: فأنت أبو شريح

Rasulullah juga secara halus menegur seorang tokoh yang di juluki Abu Hakam. Dia memanggilnya dan bersabda kepadanya. "Sesungguhnya Dialah Allah al- Hakam dan hukum merujuk ke pada-Nya. Mengapa engkau dijuluki Abu Hakam?" Dia menjawab, "Jika kaumku berselisih terkait sesuatu maka mereka mendatangiku, lalu aku memutuskan perkara hukum di antara mereka dan kedua belah pihak menerima keputusanku." Rasul berkata, "Ini sungguh bagus! Apakah engkau memiliki anak?" Dia berkata, aku memiliki anak bernama Syuraih, Abdullah, dan Muslim. "Siapa yang tertua di antara mereka?" tanya Rasulullah. "Syuraih," jawabnya. Beliau pun bersabda, "Kalau begitu engkau Abu Syuraih." Nabi pun mendoakannya dan anaknya (HR Abu Dawud dan An-Nasa'i).

أنَّ النَّبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ كان في السُّوقِ، فقالَ رجلٌ: يا أبا القاسمِ، فَالتفَتَ إليه النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، فقالَ الرَّجلُ: إِنَّه كان يَقصِدُ رجُلًا غيرَه، فقالَ النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: «تَسَمَّوا بِاسْمي، ولا تَكنَّوا بِكُنيتي» 

Dalam riwayat lain, Rasulullah menegur seseorang yang memanggil orang lain dengan julukan Abu Qasim. Padahal, Abu Qasim merupakan salah satu julukan dari Rasulullah. Saat Rasulullah menoleh, orang itu berkata, "Wahai Rasulullah, aku tidak bermaksud memanggilmu, akan tetapi aku hanya memanggil fulan." Rasulullah bersabda, "Berilah nama dengan namaku, tetapi jangan menggunakan julukan dengan julukanku."

قدم علينا رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ، وليس منا رجلٌ، إلا وله اسمان، أو ثلاثةٌ . فجعل النبي صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ يقول : يا فلانُ . فيقولون مهْ يا رسولَ اللهِ ! إنه يغضب من هذا الاسمِ، فأنزلت هذه الآيةُ:   وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ

Sebagai Muslim, kita juga di larang untuk memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Larangan tersebut turun setelah Rasulullah SAW menyapa seseorang, "Wahai fulan." Kemudian para sahabat berkata, "Jangan demikian, wahai Rasulullah, sesungguhnya dia marah bila dipanggil dengan nama tersebut." Kemudian turun ayat, "Dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruknya panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman." (QS al-Hujurat: 11). 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

 

BERITA LAINNYA