Tuesday, 13 Jumadil Akhir 1442 / 26 January 2021

Tuesday, 13 Jumadil Akhir 1442 / 26 January 2021

FIA Investigasi Kasus Lewis Hamilton di Tuscan

Selasa 15 Sep 2020 08:11 WIB

Red: Endro Yuwanto

Lewis Hamilton

Lewis Hamilton

Foto: AP/Bryn Lennon/Pool Getty
FIA melarang semua pembalap mengemukakan hal-hal yang bermuatan politis.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Federasi Otomatif Internasional (FIA) dilaporkan tengah melakukan investigasi terhadap Lewis Hamilton. Ini terkait dengan kaos hitam antirasisme yang dikenakan Hamilton pada Grand Prix (GP) Tuscan di Sirkuit Mugello, Italia, akhir pekan lalu.

Dilansir AFP, Selasa (15/9), juara dunia enam kali yang juga memenangi seri balapan GP Tuscan itu tampak mengenakan kaos bertuliskan “Tangkap polisi yang membunuh Breonna Taylor” sebelum balapan, saat menaiki podium, hingga ketika melakukan wawancara bersama media.

Kaos tersebut dinilai menjurus ke unsur politik. Sementara, FIA melarang semua pembalap mengemukakan hal-hal yang bermuatan politis atau religius yang merugikan kepentingan FIA.

Seorang juru bicara FIA mengatakan kepada BBC,  kasus Hamilton itu sedang ditinjau. Jika terbukti melakukan pelanggaran, Hamilton bisa saja dikenai denda.

Hamilton biasanya mengenakan kaus bertuliskan “Black Lives Matter” dalam setiap balapan sebagai bentuk protes terhadap rasisme yang terjadi di Amerika Serikat (AS). FIA tak pernah berkomentar untuk hal itu.

“Butuh waktu lama bagi saya untuk mengenakannya dan membuat khalayak sadar bahwa ada seseorang terbunuh di jalan, di rumahnya sendiri. Sementara pelakunya masih berkeliaran bebas,” kata Hamilton setelah kemenangannya yang ke-90, Ahad (13/9).

Pada kejuaraan lain, petenis Jepang Naomi Osaka sebelumnya juga ikut menyuarakan protesnya terhadap ketidakadilan rasial yang terjadi di AS saat tampil dalam US Open. Ia mengenakan masker wajah bertuliskan Breonna Taylor pada putaran pertama turnamen grand slam itu. “Kita tidak bisa istirahat. Kita harus terus meningkatkan kesadaran itu. Dan Naomi (Osaka) telah melakukannya dengan luar biasa,” kata Hamilton.

Breonna Taylor, 26 tahun,merupakan seorang perawat Afrika-Amerika yang ditembak mati oleh polisi di apartemennya di Louisville, Kentucky, pada 13 Maret. Seorang polisi yang terlibat dipecat oleh departemen kepolisian kota itu pada Juni. Dua petugas lainnya dimutasi ke pos penugasan administratif. Tidak ada tuntutan pidana yang diajukan terhadap salah satu dari ketiga polisi ini.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA