Wednesday, 13 Safar 1442 / 30 September 2020

Wednesday, 13 Safar 1442 / 30 September 2020

Film Tiga Dara yang Melegenda

Selasa 15 Sep 2020 07:03 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Poster film Tiga Dara yang disutradarai Usmar Ismail.

Poster film Tiga Dara yang disutradarai Usmar Ismail.

Foto: tangkapan layar
Film garapan sutradara Usmar Ismail ini laris manis hingga Malaysia.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Priyantono Oemar

Tahun 1957 adalah tahun bagi film Tiga Dara, tapi tidak bagi sutradaranya, Usmar Ismail. Usmar malah malu dengan film itu karena dibikin tak sejalan dengan misi Perfini yang ia pimpin. Kok Bisa? Ya bisalah.

Tiga Dara merupakan film komedi musikal, masih hitam putih, mulai diproduksi pada 1956 untuk membangkitkan Perfini. Karenanya, Tiga Dara memiliki unsur komersial, yang bukan napas Perfini sejak berdiri.

Film yang dibintangi Chitra Dewi, Mieke Wijaya, dan Indriati Iskak ini tayang perdana di Capitol, bioskop elite di Jakarta, pada awal Agustus 1957. Kemudian diputar juga di bioskop lain di Jakarta: Varia, Texas, Rivoli, Luxor, lalu berpindah ke kota-kota lain.

Film yang terinspirasi dari film Amerika Serikat Three Smart Girls (1936) ini mendapat sambutan luar biasa. Cerita ditulis oleh Usmar Usmail dan Alwi Dahlan. Tiket yang dijual pagi hari (pukul 09.00-11.00 WIB) untuk tayang sore hingga malam hari (15.30, 18.00, 20.00 WIB) selalu habis terjual. Banyak yang tak kebagian tiket, dan ada yang rela keluar kocek lebih banyak karena membeli tiket dari calo.

Pada Agustus 1960, film ini tayang juga di Nugini Belanda (Irian Jaya). Pun tayang di Malaya (Malaysia). Ini kelebihan Tiga Dara, tak perlu tambahan dua film lagi untuk bisa ditukar dengan satu film Malaya.

Malaya mengeklaim film mereka lebih bagus dan harga lebih mahal, jadi ada kesepakatan ekspor-impor film dengan Indonesia: Indonesia perlu mengekspor tiga film sekaligus untuk dapat mengimpor satu film Malaya. Seperti dilaporkan Java Bode 6 September 1957, Tiga Dara dikirim ke Malaya dan Malaya mengirim Mega Mendung.

“Pengelola bioskop Malaysia melihat animo besar masyarakat Malaysia, sehingga berani menukar Tiga Dara hanya dengan satu film Malaysia,” kata Manajer Penjualan Perfini Naziruddin Naib, seperti dikutip Java Bode.

Di acara Konferensi Economic Social Survey of Asia and Far East (ECAFE) di Yogyakarta pada 30 Oktober 1957, Tiga Dara juga diputar. Di Istana, Sukarno juga menonton film ini. Film ini sukses di pasar, meraup Rp 10 juta. Perfini untung Rp 3 juta.

Di tahun itu, masyarakat juga lagi senang kontes mirip bintang film-film Amerika. Maka, untuk Tiga Dara, Perfini juga mengadakan lomba mirip bintangnya. Pemenangnya diumumkan di malam terakhir penayangan Tiga Dara di bioskop Capitol, 6 September 1957. Suzanna termasuk peserta di kontes yang dimenangkan oleh trio Lola, Lyla, Leila itu.

Suzanna beruntung kemudian ikut dilibatkan dalam film Asrama Dara yang juga disutradarai Usmar Ismail pada 1958. Asrama Dara dibintangi Chitra Dewi, Aminah Cendrakasih, dan Baby Huwae.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA