Thursday, 7 Safar 1442 / 24 September 2020

Thursday, 7 Safar 1442 / 24 September 2020

Sangat Mengenal Rasulullah Tetapi Mengapa tak Beriman?

Senin 14 Sep 2020 08:07 WIB

Rep: Andrian Saputra/ Red: Muhammad Hafil

Sangat Mengenal Rasulullah Tetapi Mengapa tak Beriman?. Foto: Rasulullah SAW (ilustrasi)

Sangat Mengenal Rasulullah Tetapi Mengapa tak Beriman?. Foto: Rasulullah SAW (ilustrasi)

Foto: republika
Kecemburuan menjadi dinding penghalang beriman kepada Rasulullah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Orang-orang Yahudi dan Nasrani terutama yang benar-benar mempelajari Taurat dan Injil sejatinya telah mengetahui Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib adalah benar-benar utusan Allah. Hanya saja karena kedengkian hati dan gengsi, mereka tak mau beriman kepada Rasulullah.

Baca Juga

Orang-orang Yahudi dan Nasrani sangatlah jelas mengenal Rasulullah, megenal ciri, karakter dan sifar dari nabi akhir zaman yang dijanjikan sesuai dalam kitab Taurat dan Injil.

ٱلَّذِينَ ءَاتَيْنَٰهُمُ ٱلْكِتَٰبَ يَعْرِفُونَهُۥ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَآءَهُمْ ۖ وَإِنَّ فَرِيقًا مِّنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ ٱلْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

"Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah kami beri Al Kitan (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran padahal mereka mengetahui," (Al Quran surat Al Baqarah ayat 146).

Meski begitu kita mengetahui ada sejumlah para ahli kitab yang lurus yang mengakui risalah Rasulullah dan bersaksi atas kenabian dan kerasulan beliau. Sebut saja seperti Waraqah bin Naufal dan Abdullah bin Salam. Bahkan Abdullah bin Salam yang kemudian masuk Islam, tak bisa memungkiri bahawa dirinya sangat mengenal Rasulullah.

Suatu ketika sahabat Umar bin Khathab bertanya kepada Abdullah bin Salam tentang apakah dirinya mengenal Nabi Muhammad seperti mengenal analnya. Jawaban Abdullah Salam yang dapat dijumpai dalam Ad Durr Al Mantsur karya Imam As Suyuthi 1/357 atau dalan Mukhtasar Tafsir Ibnu Katsir 1/140 cukup mengejutkan.

"Ya, bahkan aku jauh lebih mengenal beliau. Sang Terpercaya turun dari langit menemui sang Terpercaya di bumi dengan penjelasan tentang sifat beliau sehingga aku pun mengenal beliau. Sedangkan anakku, aku tak tahu apakah ia benar-benar dari ibunya,".

Menurut Ulama Turki, Fethullah Gulen kecemburuan dan rasa dengki telah menjadi dinding pemisah yang menghalangi orang-orang Yahudi dan Nasrani untuk beriman kepada Rasulullah.

وَلَمَّا جَآءَهُمْ كِتَٰبٌ مِّنْ عِندِ ٱللَّهِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَهُمْ وَكَانُوا۟ مِن قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ فَلَمَّا جَآءَهُم مَّا عَرَفُوا۟ كَفَرُوا۟ بِهِۦ ۚ فَلَعْنَةُ ٱللَّهِ عَلَى ٱلْكَٰفِرِينَ

Dan setelah datang kepada mereka Al Quran dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu. (Al Baqarah ayat 89).

Menurut Fethullah Gulen penyebab dari orang-orang Yahudi tidak mau beriman kepada Rasulullah karena Nabi penutup yang dijanjikan bukanlah dari kalangan mereka. Nasabnya tidak ke nabi Isa atau Musa, melainkan nasabnya melalui jalur nabi Ismail ke nabi Ibrahim.  

"Ternyata semuanya bermuara pada bahwasanya sang Nabi penutup bukan berasal dari kalangan Yahudi. Seandainya saja  Rasulullah muncul dari kalangan Yahudi, pasti akan lain ceritanya," Fethullah Gulen dalam An Nur Al Khalid Muhammad Mafkhirat Al Insaniyah yang diterjemahkan Fuad Saefuddin dengan judul Cahaya Abadi Muhammad Kebanggaan Umat Manusia.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA