Tuesday, 12 Safar 1442 / 29 September 2020

Tuesday, 12 Safar 1442 / 29 September 2020

Defisit Anggaran AS Tembus Rekor 3 Triliun Dolar AS

Sabtu 12 Sep 2020 11:01 WIB

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Friska Yolandha

Awan gelap menaungi Gedung Capitol di Washington, beberapa waktu lalu. Defisit anggaran AS telah mencapai rekor tertinggi lebih dari 3 triliun dolar AS pada tahun ini.

Awan gelap menaungi Gedung Capitol di Washington, beberapa waktu lalu. Defisit anggaran AS telah mencapai rekor tertinggi lebih dari 3 triliun dolar AS pada tahun ini.

Foto: AP Photo/J. Scott Applewhite
Defisit anggaran ini melebihi rekor defisit saat AS berjuang keluar dari krisis 2008.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Defisit anggaran AS telah mencapai rekor tertinggi lebih dari 3 triliun dolar AS (sekitar Rp 45.000 triliun). Ini didorong oleh pengeluaran besar-besaran pemerintah untuk bantuan virus corona.

Baca Juga

Pemerintah federal menghabiskan lebih dari 6 triliun dolar AS dalam 11 bulan pertama tahun keuangannya. Departemen Keuangan menyebutkan, dana tersebut sudah termasuk 2 triliun dolar AS untuk program virus corona.

Dilansir BBC, Sabtu (12/9), angka tersebut melebihi 3 triliun dolar AS yang diperoleh dari pajak. Kekurangan ini lebih dari dua kali lipat rekor setahun penuh sebelumnya, yang dibuat pada 2009. Pada saat itu, Washington bergulat dengan dampak krisis keuangan perumahan tahun 2008.

Bahkan sebelum pandemi, AS berada di jalur yang tepat untuk mengalami defisit lebih dari 1 triliun dolar AS tahun ini, nilai yang besar menurut standar historis. Tetapi pengeluaran yang disetujui untuk mencoba meredam dampak finansial dari virus telah meledakkan proyeksi tersebut.

Kantor Anggaran Kongres bulan ini memperkirakan bahwa AS akan mengalami defisit setahun penuh sebesar 3,3 triliun dolar AS, lebih dari tiga kali lipat kekurangan yang tercatat tahun lalu. Tahun keuangan pemerintah federal berakhir pada bulan September.

Badan itu mengatakan pihaknya memperkirakan total utang AS melebihi 26 triliun dolar AS.

Pada sidang di Washington pada bulan Juni, Jerome Powell, kepala bank sentral AS, mengatakan kepada anggota Kongres bahwa jalur pengeluaran Amerika tidak dapat dipertahankan. Namun, kekurangan seharusnya tidak menjadi prioritas mengingat keadaan ekonomi.

Perekonomian menyusut pada tingkat tahunan lebih dari 30 persen dalam periode April-Juni, kontraksi kuartalan terburuk dalam catatan. Data menunjukkan pemutusan hubungan kerja dan penutupan bisnis terus berlanjut.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA