Saturday, 14 Rabiul Awwal 1442 / 31 October 2020

Saturday, 14 Rabiul Awwal 1442 / 31 October 2020

Pengikut Ajaran Ibrahim yang Menantikan Risalah Rasulullah

Sabtu 12 Sep 2020 05:48 WIB

Rep: Andrian Saputra/ Red: Muhammad Hafil

 Pengikut Ajaran Ibrahim yang Menantikan Risalah Rasulullah. Foto: Rasulullah SAW (ilustrasi)

Pengikut Ajaran Ibrahim yang Menantikan Risalah Rasulullah. Foto: Rasulullah SAW (ilustrasi)

Foto: Republika/Kurnia Fakhrini
Kehadiran Nabi Muhamamd dinanti-nantikan banyak orang.

REPUBLIKA.CO.ID, MAKKAH -- Kehadiran nabi Muhammad sebagai nabi dan rasul terakhir ternyata sudah dinanti-nantikan banyak orang kala itu. Salah satunya adalah Zaid bin Amr bin Nufail. Zaid adalah ayah dari Sa'id bin Zaid yakni salah satu sahabat yang telah dijanjikan masuk surga oleh Rasulullah. Ia juga sepupu dari umar bin Khattab.

Zaid bin Amr adalah golongan ahnaf atau para pengikut ajaran Ibrahim. Ia tak sama dengan kaum-kaum lainya yang menyembah berhala. Zaid justru tak sudi menyembah kepada berhala karena dia menyadari patung tidak  mendatangkan bahaya ataupun manfaat. Sayangnya Zaid bin Amr wafat menjelang Rasulullah diangkat menjadi nabi.

Zaid bin Amr begitu yakni akan kemunculan nabi akhirul zaman. Sebelum meninggal, diriwayatkan Zaid pernah mengabarkan berita gembira tentang akan kedatangan nabi terakhir itu, ucapannya begitu masyhur dalam sirah islam. "Sungguh aku benar-benar tahu bahwa sebuah agama baru akan segera muncul. Hanya saja aku tidak tahu apakah aku akan sempat memeluknya atau tidak," begitu Zaid berucap.

"Rupanya embusan lembut itu telah menyentuh hati Zaid. Embusan sepoi-sepoi yang terasa seperti anugerah surgawi itu telah menaklukkan segenap relung hati Zaid untuk menerima kebenaran. Zaid memang beriman kepada Allah yang tunggal dan selalu berserah padaNya. Akan tetapi dia sama sekali tidak mengenal siapakah gerangan Tuhan yang dia imani itu dan bagaimana cara menyembahNya," (dikutip buku Cahaya Abadi Muhammad Saw. Kebanggaan Umat Manusia karya Fethullah Gulen).

Tentang kisah Zaid ini juga diriwayatkan oleh sahabat Amir bin Rabiah. Bahkan Zaid bin Amr memaparkan dengan jelas ciri-ciri dari nabi akhirul zaman itu.

Aku mendengar Zaid bin Amr bin Nufail berkata, "Aku sedang menunggu seorang nabi dari keturunan Ismail yang akan muncul dari trah Bani Abdul Muthallib. Hanya saja tampaknya aku takkan sempat berjumpa dengannya. Aku beriman kepadanya, membenarkannya, dan bersaksi bahwa dia memang seorang nabi. Jadi, jika umurmu cukup panjang dan kau bersua dengannya, tolong sampaikan salamku padanya. Aku akan memberi tahu ciri-cirinya sehingga tak ada yang tersembunyi darimu,"  

Aku pun berkata padanya, "lanjutkan".

"Dia adalah seorang lelaki yang tidak tinggi tapi tidak juga pendek, rambutnya tidak lebat, tapi tidak juga jarang. Matanya tidak dipisahkan oleh merah-merah. Ada segel kenabian (khatam annubuwwah) di antara kedua bahunya. Namanya Ahmad. Negeri ini adalah tempat lahirnya dan juga tempat dia diangkat jadi nabi, lalu dia akan diusir kaumnya, karena mereka membenci ajarannya yang dibawanya sehingga dia terpaksa hijrah ke Yastrib dan disanalah dia berjaya. Jangan sampai kau menipunya. Aku telah mengarungi seluruh negeri untuk mencari agama Ibrahim. Di antara yang kutanya adalah kaum Yahudi, Nasrani dan Majusi. Mereka berkata bahwa agama itu akan segera datang, lalu mereka memberikan ciri-ciri sang nabi seperti yang kukatakan padamu. Mereka juga berkata bahwa tak ada lagi nabi selain dia,".

Amir bin Rabiah melanjutkan, "setelah aku memeluk Islam, aku sampaikan ucapan Zaid bin Amr kepada Rasulullah berikut salam yang dititipkannya untuk beliau. Rasulullah pun menjawab salam itu dan menaruh iba kepada Zaid seraya berkata, "Kulihat dia di surga dengan jubah panjang". (Ini dapat ditemukan juga dalam kitab Al Bidayah wa an Nihayah).

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA