Tuesday, 16 Rabiul Akhir 1442 / 01 December 2020

Tuesday, 16 Rabiul Akhir 1442 / 01 December 2020

Laporan CDC, Makan di Restoran Picu Kasus Covid-19

Sabtu 12 Sep 2020 00:05 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Indira Rezkisari

Sejumlah warga menyantap makanan di salah satu restoran di Ciracas, Jakarta, Kamis (10/9/2020). Karena penyebaran COVID-19 dalam posisi mengkhawatirkan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kembali memberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) total mulai 14 September 2020, diantaranya dengan memberlakukan larangan kegiatan di tempat umum, larangan makan di restoran, kegiatan sekolah dan bekerja dilakukan di rumah, penutupan tempat wisata, pembatasan akses keluar masuk DKI Jakarta, serta pelarangan kegiatan dengan jumlah jemaah besar di tempat ibadah.

Sejumlah warga menyantap makanan di salah satu restoran di Ciracas, Jakarta, Kamis (10/9/2020). Karena penyebaran COVID-19 dalam posisi mengkhawatirkan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kembali memberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) total mulai 14 September 2020, diantaranya dengan memberlakukan larangan kegiatan di tempat umum, larangan makan di restoran, kegiatan sekolah dan bekerja dilakukan di rumah, penutupan tempat wisata, pembatasan akses keluar masuk DKI Jakarta, serta pelarangan kegiatan dengan jumlah jemaah besar di tempat ibadah.

Foto: ANTARA /Aditya Pradana Putra
Pasien positif Covid-19 umumnya makan minum di luar rumah dua pekan sebelumnya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Makan di luar seperti di restoran, kafe, maupun tempat sejenisnya dilaporkan meningkatkan risiko terkena infeksi virus corona jenis baru (Covid-19) yang lebih besar. Makan di luar rumah lebih berisiko dibandingkan dengan kegiatan lainnya seperti berbelanja di mal maupun pergi ke salon.

Laporan dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (AS) atau CDC mengatakan peningkatan kasus Covid-19 terjadi menyusul banyak negara bagian yang membuka kembali bisnis, secara khusus mengizinkan restoran menerima pengunjung makan di tempat. Laporan CDC menyertakan 314 orang yang memiliki gejala Covid-19 dan setelah menjalani tes, setengah di antaranya dinyatakan positif.

Para peneliti saat itu bertanya kepada semua peserta tentang aktivitas sosial mereka selama dua minggu sebelum pengujian dilakukan. Dilansir NBC News, para peserta tinggal di sejumlah negara bagian AS seperti California, Colorado, Maryland, Massachusetts, Minnesota, North Carolina, Ohio, Tennessee, Utah dan Washington. Masing-masing wilayah memiliki kebijakan aturan pembukaan kembali yang berbeda-beda.

Kedua kelompok tersebut umumnya melaporkan aktivitas serupa, seperti pergi ke gereja, pusat kebugaran, dan toko, dengan satu pengecualian pergi makan atau minum di bar atau kedai kopi. Mereka yang dites positif SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan Covid-19, dikatakan dua kali lebih mungkin makan di restoran dibanding mereka yang memiliki hasil tes negatif.

Sementara, mereka yang didiagnosis tanpa terpapar virus corona jenis baru lebih mungkin melaporkan telah mengunjungi bar atau kedai kopi dalam dua minggu sebelumnya. Peningkatan risko tertular Covid-19 disebut sangat masuk akal, karena sangat mudah untuk mengenakan masker di toko atau di tempat ibadah, tetapi tidak mungkin melakukannya saat makan dan minum.

“Jika orang makan di luar, mereka perlu memikirkakn bagaimana akan melakukannya,” ujar Todd Rice, salah satu penulis laporan dan profesor kedokteran di Vanderbilt University Medical Center.

Selain tanpa masker, setiap individu sering kali berdekatan saat makan di restoran, seperti duduk berseberangan satu sama lain. Rice mengaku bahwa dalam enam bulan terakhir pernah makan di luar, namun mengambil sejumlah tindakan pencegahan yang diperlukan.

"Bahkan jika saya duduk di meja dan makanan belum sampai, saya tetap memakai topeng. Saya tidak akan duduk di meja yang ada di sebelah orang lain dan meminta meja di area outdoor (luar ruangan),” jelas Rice.

Salah satu batasan dari laporan tersebut adalah para peneliti tidak menanyakan partisipan apakah mereka makan atau minum di dalam atau di luar ruangan. Pakar penyakit infeksi berpendapat bahwa area outdoor lebih aman dibanding indoor atau dalam ruangan, yang memiliki lebih sedikit ventilasi. Pedoman CDC untuk makan di luar, yaitu seperti drive-thru, delivery atau pengiriman, pengambilan, dan penjemputan makanan di tepi jalan membawa risiko terendah untuk penularan Covid-19.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA