Wednesday, 13 Safar 1442 / 30 September 2020

Wednesday, 13 Safar 1442 / 30 September 2020

Sedang Haid Tapi Ingin Ikut Pengajian di Masjid, Bolehkah?

Kamis 10 Sep 2020 11:10 WIB

Rep: Muhyiddin/ Red: Nashih Nashrullah

Para ulama berbeda pendapat tentang berdiam diri di masji kala haid.  Pengajian Majelis Taklim (ilustrasi).

Para ulama berbeda pendapat tentang berdiam diri di masji kala haid. Pengajian Majelis Taklim (ilustrasi).

Foto: Republika/Agung Supriyanto
Para ulama berbeda pendapat tentang berdiam diri di masji kala haid.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Para ulama berbeda pendapat tentang hukum perempuan haid berdiam di masjid, ada yang membolehkan dan ada yang melarangnya. Lalu, bagaimana hukum perempuan haid yang ingin mengikuti ceramah atau pengajian di masjid? 

Baca Juga

Mahasantri Ma’had Aly Sukorejo, Muhammad Muhsin, menjelaskan dalam buletin Tanwirul Afkar (TA) bahwa para ulama masih berbeda pendapat tentang boleh dan tidaknya perempuan haid berdiam diri atau sekadar lewat di dalam masjid. Sekurang-kurangnya, mereka terbagi menjadi tiga kelompok. 

Pertama, Mazhab Maliki dan Hanafi. Menurut mereka, perempuan yang sedang haid tidak boleh berdiam diri atau sekadar melewati bagian dalam masjid. Hal ini berdasarkan hadits: 

وَعَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ : دَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – صَرْحَةَ هَذَا الْمَسْجِدِ فَنَادَى بِأَعْلَى صَوْتِهِ : « إنَّ الْمَسْجِدَ لا يَحِلُّ لِحَائِضٍ وَلا لِجُنُبٍ » . رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ

“Diriwayatkan dari Ummi Salamah, beliau berkata: “Rasulluah SAW pernah masuk ke halaman masjid, kemudian beliau bekata dengan sangat keras: “Sesungguhnya masjid tidak halal bagi orang yang haid dan orang yang junub.” (HR Ibnu Majah)

Hadits di atas menurut Imam Baihaqi adalah sahih dan secara tegas melarang perempuan haid masuk masjid dalam keadaan apapun. Namun, penjelasan ini sempat dibantah Ibnu Hazm dengan argumen sebaliknya. Menurut beliau, hadits ini tidak termasuk hadits sahih karena ada rawi yang tidak diketahui, yakni Abu al Khatab al Hajar.

Kedua, Mazhab Syafii dan Hanbali. Menurut mereka, wanita yang sedang haid dan nifas boleh melewati (bukan berdiam diri) masjid jika memang darahnya tidak mengotori masjid. 

Bahkan, ulama Hanbali membolehkan wanita haid yang darahnya sudah berhenti untuk berdiam diri di dalam masjid dengan syarat berwudu, karena alasan keharaman mengotori masjid sudah tidak ada. 

Dalil yang digunakan kelompok kedua ini adalah qiyas, yakni menyamakan keharaman orang yang sedang haid dengan orang junub untuk mendekati tempat sholat (masjid), karena haid dianggap lebih berat daripada junub, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Allah SWT dalam surat An-Nisa ayat 43:  

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu sholat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi.” (QS An-Nisa’: 43)

Namun, argumen kelompok kedua ini disanggah Imam al-Mahalliy. Menurut beliau, yang dimaksud  ayat di atas adalah larangan sholat kepada orang junub, bukan mendatangi tempat sholat (masjid). Sanggahan ini didukung beberapa riwayat hadits dan atsar para Sahabar.

Ketiga, pendapat Imam Dawud al-Dzahiri dan al-Muzani. Pendapat ini memperbolehkan perempuan yang Haid masuk ke dalam masjid secara mutlak. Pendapat ini berpijak pada hadis yang diriwayatkan dari Sayidah Aisyah, bahwa ada seorang perempuan yang berkulit hitam pernah menjadi budak sekelompok orang arab, lalu mereka memerdekakannya. Wanita itu kemudian datang kepada Rasulullah SAW dan masuk Islam. 

Kemudian, dia memiliki tenda atau rumah kecil di dalam masjid. Dan pada biasanya perempuan normal pasti mengeluarkan haid dan Rasulullah tetap membiarkan perempuan tersebut tetap menempati rumahnya yang berada di dalam masjid tersebut. 

Namun, dalil ini juga dianggap sebagai dalil yang lemah menurut sebagian ulama, karena bisa jadi perempuan tersebut memang sudah tidak haid atau ketika haid dia akan pergi ke tempat lain. 

Alhasil, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa persoalan ini masih menjadi perbincangan yang hangat di kalangan ulam fiqih. Ada yang  mengharamkannya secara mutlak, ada yang merincinya, dan ada yang membolehkannya secara mutlak.  

Kendati demikian, seluruh ulama sepakat bahwa keharaman masuk masjid bagi perempuan yang haid masih bergantung pada alasan rasionalnya (illah), yaitu mengotori dan tidak menghormati masjid. 

Oleh karena itu, selagi perempuan yang haid bisa menjamin darah haidnya tidak keluar (tembus dan mengotori) ke daerah masjid maka ia tetap dinilai orang yang menghormati masjid, dan tentu boleh beraktivitas di dalamnya. 

Terlebih, pada zaman sekarang hampir seluruh pembalut yang dikenakan perempuan bisa menjamin keamanannya. Lantas, masihkah perempuan yang haid dilarang untuk belajar agama kepada penceramah di dalam masjid dengan alasan mengotori dan tidak menghormati masjid?

Bukankah orang yang mengasingkan dirinya dari masjid lebih tidak menghormati masjid daripada sekadar perempuan haid yang ingin belajar agama di dalam masjid?  

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA