Rabu 09 Sep 2020 21:30 WIB

Polemik Logo PDIP Gantikan Lambang Sila Keempat Pancasila

Lambang PDIP muncul di program 'Belajar dari Rumah Bersama Guruku' di SBO TV.

Logo PDI Perjuangan.
Logo PDI Perjuangan.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Dadang Kurnia

Media sosial Twitter sempat diramaikan cuitan materi pembelajaran kelas 1 SD di Surabaya yang disisipi logo PDI Perjuangan. Bermula dari cuitan akun @cgandra_ds yang memuat potongan video yang ditayangkan salah satu televisi swasta di Surabaya, pada Selasa (8/9) berisi potongan dari program 'Belajar dari Rumah Bersama Guruku' yang merupakan kerja sama antara Pemkot Surabaya dan televisi swasta tersebut.

Baca Juga

Program tersebut merupakan upaya Pemkot Surabaya menunjang pembelajaran jarak jauh di tengah pandemi Covid-19. Video yang diunggah tersebut berisikan materi tentang sila-sila dalam Pancasila.

Seorang guru terlihat menjelaskan makna lambang-lambang Pancasila, mulai sila kesatu hingga sila kelima. Kemudian saat menjelaskan sila keempat, yang ditampilkan adalah logo PDI Perjuangan.

"Sila keempat Pancasila, yang berbunyi Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan yang dilambangkan dengan kepala banteng. Nah, anak-anak kepala banteng ini, kenapa kepala banteng Bu Vita? Karena banteng itu merupakan hewan yang suka berkelompok seperti warga Indonesia anak-anak, kita suka bekerja sama, kita suka bermusyawarah meskipun dalam masa pandemi seperti ini. Dalam masa pandemi seperti ini, tapi kita juga tetap bermusyawarah, berdiskusi melalui media sosial, seperti itu ya anak-anak," ujar sang host di video tersebut.

Viralnya siaran pembelajaran SD itu di Twitter, kemudian mengundang berbagai respons dari para warganet. Ada yang menanggapinya dengan candaan, namun ada juga yang menganggap hal tersebut sebagai bentuk propaganda.

"Propaganda sejak dini," tulis akun @makelarrmobil.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Surabaya Supomo memberikan penjelasan terkait kemunculan logo PDIP sebagai pengganti sila keempat, pada materi pelajaran Kewarganegaraan bagi kelas 1 SD. Supomo menyatakan, pihaknya masih melakukan klarifikasi terhadap guru yang mengajar program tersebut.

Menurut Supomo, berdasarkan klarifikasi awal, guru tersebut tidak sengaja menampilkan logo PDIP saat menjelaskan sila keempat Pancasila. Dia pun menegaskan, setiap materi yang disampaikan, harus berdasar pada buku panduan. Supomo menduga, guru tersebut terburu-buru membuat materi pembelajaran, sehingga mengambil gambar yang salah dari internet.

"Kalau tadi berpapasan sebentar, ya dia ngomong tidak sengaja. Karena dia kan searching, ambil dari Google kemungkinan begitu," ujar Supomo.

Supomo mengatakan, guru yang mengajar pada program tersebut adalah guru-guru terbaik dengan IPK minimal 3,75. Guru yang kebetulan mengajar tersebut sudah empat kali mengajar. Namun, pada Selasa (8/9) guru yang semestinya mengajar sakit, sehingga dia digantikan dengan guru lain.

"Dia ngajar untuk mengganti guru yang seharusnya ngajar kemudian sakit. Lah siaran ini adalah siaran langsung. Sedangkan dia menyiapkan materinya waktunya terbatas karena bukan jadwalnya ngajar," ujar Supomo.

Supomo menegaskan, atas insiden tersebut pihaknya akan segera melakukan evaluasi. Bahkan dia menyebutkan, kemungkinan nantinya program tersebut tidak disiarkan secara langsung.

"Terkait ini kami kemudian evaluasi mungkin nanti kami tidak melakukan siaran langsung supaya nanti bisa diedit," kata dia.

Program tersebut merupakan metode pembelajaran yang dikerjasamakan Pemkot Surabaya dengan SBO TV dan TV9. Tujuannya untuk memenuhi pembelajaran anak-anak di masa pandemi Covid-19.

"Kita kerja sama dengan SBO TV dengan TV9 untuk melengkapi pembelajaran di masa pandemi dimana ada beberapa siswa yang kesulitan telpon dan paket internet," ujar Supomo.

Supomo membantah adanya muatan politik pada kejadian kemunculan logo PDIP di materi pembelajaran kelas 1 SD tersebut.

"Tidak ada muatan apa-apa. Kita melakukan pembelajaran melalui televisi dalam rangka mencukupi kesulitan-kesulitan pembelajaran masa pandemi," ujar Supomo.

Supomo menegaskan, setiap materi pembelajaran yang ditayangkan melalui siatan televisi tersebut disiapkan oleh guru yang bersangkutan dari buku panduan yang disediakan. Dinas Pendidikan, kata dia, tidak melakukan penyaringan terhadap materi pembelajaran yang disiapkan guru, karena semua materi berpatokan pada buku yang ada.

"Materinya kan dari buku tema. Kita tidak keluar dari buku. Setiap hari Sabtu ada evaluasi dan pembinaan. Sehingga kita tidak keluar dari buku panduan," kata Supomo.

Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPRR) Jawa Timur menyayangkan munculnya mirip logo PDIP pada tayangan 'sekolah online' SBO TV. JPPR meminta Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (Risma) menindak keteledoran Dinas Pendidikan tersebut.

"Yang jelas, jika kepala dinas (pendidikan) terindikasi berafiliasi dengan partai politik, kapasitasnya Bu Risma sebagai wali kota, ya harus menindak tegas," ujar Ketua JPRR Jatim, Rizky Akbar, dikutip Jatim Now, Rabu.

photo
Statistik pembukaan sekolah. - (Republika)

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement